Potret pembiakan sapi lewat SISKA KU INTIP yang memadukan peternakan dan perkebunan sawit.(MI/Denny Susanto)
DI salah satu sudut hamparan ribuan hektare perkebunan kelapa sawit, ratusan sapi jenis brahman cross berdesakan memamah rerumputan liar di sela-sela rimbunnya pohon sawit. Dari kejauhan, beberapa penggembala bertopi lebar dan berpenampilan khas koboi mengawasi, dan memastikan kawanan sapi tersebut dalam kondisi aman.
Kawat listrik putih bertegangan rendah membatasi area penggembalaan agar sapi tidak berkeliaran terlalu jauh sekaligus memudahkan pengawasan. Selain mengandalkan rumput liar, secara berkala, sapi-sapi tersebut juga memperoleh pakan tambahan, vitamin hingga pemeriksaan kesehatan, agar tumbuh sehat.
Inilah potret pembiakan sapi lewat SISKA KU INTIP atau Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi Berbasis Kemitraan Usaha Ternak Inti Plasma, program integrasi peternakan sapi dengan perkebunan kelapa sawit milik PT Buana Karya Bhakti (BKB) di Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.
"Populasi sapi di sini sudah mencapai 1.500 ekor, meningkat dari 300 ekor saat program ini dimulai. Setiap tahun kami memasarkan sekitar 200 ekor sapi jantan, terutama untuk kebutuhan Idul Adha, sedangkan sapi betina dipertahankan sebagai indukan. Sebagian hasil ternak juga dipotong untuk memenuhi kebutuhan protein karyawan," ujar Ranch Manager PT Buana Karya Bhakti, Wahyu Darsono, saat mendampingi kunjungan Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan RI Hanif Faisol Nurofiq.
SALING MENGUNTUNGKAN
Program yang dimulai pada 2016 melalui kerja sama dengan Pemerintah Australia ini dinilai menguntungkan kedua belah pihak. Rumput di bawah tegakan sawit menjadi sumber pakan alami bagi ternak, sementara keberadaan sapi membantu menjaga kebersihan kebun sehingga biaya pemeliharaan dapat ditekan. Sementara itu, kotoran sapi akan menjadi pupuk organik membantu kesuburan kebun sawit.
Perusahaan juga membuka kesempatan bagi peternak sekitar kebun untuk menggembalakan ternak mereka di areal perkebunan sesuai jadwal yang telah diatur. BKB tercatat sebagai perusahaan perkebunan sawit dan pabrik CPO seluas 6.449 hektare.
"Kami tidak hanya mengembangkan pembibitan, tetapi juga penggemukan sapi. Ke depan kami berencana membangun rumah potong yang dilengkapi cold storage agar daging dapat dipasarkan dalam bentuk beku dengan jangkauan yang lebih luas," kata Wahyu.
Untuk pengembangan bisnis, perusahaan juga telah menjajaki kerja sama pemasaran dengan Perum Bulog.
ROLE MODEL NASIONAL
Model integrasi sawit dan sapi ini menarik perhatian Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq. Setelah melihat langsung pengelolaannya, ia menilai program tersebut layak menjadi contoh nasional dalam mewujudkan swasembada daging.
"Integrasi perkebunan sawit dan peternakan sapi memiliki potensi besar memperkuat ketahanan pangan hewani nasional. Model ini terlihat sederhana, tetapi sebenarnya mampu menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan populasi sapi nasional," ujarnya.
Menurut Hanif, program SISKA KU INTIP sangat mungkin dikembangkan di daerah lainnya. Dengan luas perkebunan sawit Indonesia yang mencapai lebih dari 17 juta hektare, integrasi sawit-sapi diperkirakan berpotensi menghasilkan sekitar 1,3 juta ekor sapi.
Potensi itu dinilai penting, mengingat kebutuhan daging sapi nasional mencapai sekitar 800 ribu ton per tahun, sementara produksi dalam negeri baru sekitar 400 ribu ton. Kekurangannya masih dipenuhi melalui impor dari berbagai negara seperti Brasil, Australia, India, dan Selandia Baru.
"Kalau model ini bisa diperluas secara nasional, maka kebutuhan daging dalam negeri dapat tercukupi, sehingga ketergantungan terhadap impor bisa dikurangi," katanya.
Hanif menegaskan, pengembangan peternakan sapi Indonesia harus disesuaikan dengan karakter wilayah tropis, bukan meniru sepenuhnya sistem peternakan di negara padang savana seperti Australia atau Brasil.
INOVASI DAERAH
Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalimantan Selatan, Suparmi, mengatakan SISKA KU INTIP merupakan inovasi daerah yang mengintegrasikan perkebunan sawit dengan peternakan sapi melalui kemitraan bersama masyarakat.
Bagi Kalimantan Selatan, program ini bukan sekadar memelihara dan membiakkan sapi. Integrasi sawit dan peternakan diproyeksikan menjadi jalan menuju swasembada daging sekaligus menopang kebutuhan pangan Regional Kalimantan dan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Hingga kini, model SISKA KU INTIP berkembang menjadi 26 klaster di Kalimantan Selatan yang melibatkan 13 perusahaan perkebunan dengan populasi lebih dari 4.000 ekor sapi.
Data Disbunak mencatat populasi sapi di Kalimantan Selatan saat ini sekitar 180 ribu ekor, sementara kebutuhan daging mencapai sekitar 7.135 ton atau setara 57 ribu ekor sapi per tahun. Untuk memenuhi kebutuhan secara berkelanjutan, populasi sapi diperkirakan harus mencapai lebih dari 260 ribu ekor. Selama ini, terutama menjelang Idul Adha, pasokan masih didatangkan dari Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan menargetkan swasembada daging pada 2029 dengan menyiapkan sekitar 257 ribu hektare kawasan perkebunan sawit dari total 480 ribu hektare untuk mendukung pengembangan SISKA KU INTIP.
PETERNAKAN ITIK
Komitmen Kalimantan Selatan tidak berhenti pada pengembangan sapi. Sejak lama Kalsel juga mengembangkan peternakan itik melalui program SITI HAWA LARI (Sistem Integrasi Itik di Lahan Rawa dan Lahan Kering).
Saat meninjau salah satu klaster di Desa Mahang Baru, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Hanif menilai program tersebut semakin memperkuat kesiapan Kalimantan Selatan mendukung program nasional ketahanan pangan, energi, dan air (KSPEAN).
"Kalimantan Selatan memiliki potensi besar sebagai pemasok pangan hewani nasional, baik daging merah maupun daging putih, sehingga mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor," ujarnya.
Selain Kabupaten Hulu Sungai Tengah, sentra produksi itik terbesar juga berada di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Hasil produksi telur dan daging itik dipasarkan ke berbagai wilayah di Kalimantan hingga Pulau Jawa.
Menurut Suparmi yang berlatarbelakang dokter hewan ini mengatakan, program SITI HAWA LARI kini berkembang menjadi 803 klaster yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota di Kalimantan Selatan dengan populasi lebih dari 3,7 juta ekor itik. Program tersebut melibatkan lebih dari 13 ribu keluarga peternak. Tak terkecuali pengembangan ternak unggas ayam maupun kerbau rawa yang menjadi kearifan lokal masyarakat pedalaman rawa di Kalsel.
Peternakan itik ini bukan sekadar penghasil telur dan daging, tetapi juga sumber penghidupan masyarakat. Sektor ini dinilai mampu meningkatkan pendapatan keluarga, membantu pengentasan kemiskinan, mendukung penurunan angka stunting, sekaligus menjaga stabilitas harga pangan daerah. Pembangunan sektor peternakan ini diharapkan mampu mewujudkan Kalsel sebagai lumbung daging merah dan daging putih untuk menopang swasembada pangan Indonesia. (E-2)

















































