Ilustrasi.(Magnific)
BANYAK masalah gigi yang pada awalnya terasa sepele. Gejalanya tidak selalu menyakitkan dan sering kali luput dari perhatian.
"Sering kali pasien tidak menyadari adanya masalah di mulut mereka karena tidak memperhatikannya dengan saksama," ujar Steven Katz, mantan presiden American Association of Endodontists. Bahkan sakit gigi bisa datang dan pergi, yang membuat sebagian orang menunda penanganannya.
Membuat janji temu dengan dokter gigi untuk masalah yang tidak menyakitkan--seperti gusi yang berdarah saat menggunakan benang gigi--sering kali dianggap lebih merepotkan daripada manfaatnya. Namun, Richard M. Lipari, seorang dokter gigi kosmetik di New York, memperingatkan bahwa gejala gigi yang tampak ringan sering kali menandakan infeksi.
Jika tidak diobati, masalah ini dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih kompleks, memerlukan biaya perawatan yang lebih mahal, dan kunjungan tambahan untuk perbaikan. Beberapa perubahan di mulut bahkan bisa menjadi tanda peringatan dini penyakit di bagian tubuh lain.
Berikut lima gejala gigi dan gusi yang mungkin tergoda untuk Anda abaikan, tetapi sebaiknya jangan dilakukan demi kesehatan mulut dan tubuh secara keseluruhan.
1. Sakit Gigi yang Hilang Timbul
"Tidak ada tingkat rasa sakit pada gigi yang dianggap normal," tegas Katz. Penyebab paling umum dari sakit gigi adalah pembusukan gigi yang dimulai saat bakteri bergabung dengan air liur dan partikel makanan membentuk plak. Asam yang dihasilkan bakteri mengikis email dan menciptakan lubang (kavitas).
Kekhawatiran utamanya ialah ketika bakteri bergerak lebih dalam ke akar gigi, menyebabkan infeksi yang memicu nyeri tajam atau berdenyut. Katz memperingatkan agar tidak mengabaikan gigi yang berhenti sakit secara tiba-tiba.
"Rasa sakit yang mendadak hilang biasanya merupakan tanda bahwa pembusukan telah mematikan saraf gigi. Rasa sakit hilang, tetapi infeksi justru memburuk dan mulai mengikis tulang," jelasnya.
Jika lubang biasa bisa diperbaiki dengan tambalan sederhana seharga ratusan ribu hingga jutaan rupiah, infeksi akar gigi memerlukan perawatan saluran akar (root canal) yang jauh lebih mahal. Jika infeksi sudah menghancurkan terlalu banyak tulang, gigi tersebut pada akhirnya harus dicabut.
2. Gusi Bengkak atau Berdarah
Gusi bengkak yang mudah berdarah sering kali merupakan tanda gingivitis atau radang gusi ringan. Jika pembengkakan menetap lebih dari dua minggu, sangat penting untuk menemui dokter gigi guna mencegahnya berkembang menjadi periodontitis alias bentuk penyakit gusi yang lebih parah yakni gusi menjauh dari gigi dan menciptakan kantong bakteri.
Selain masalah mulut, penyakit gusi yang tidak diobati dikaitkan dengan masalah kesehatan serius lain seperti penyakit kardiovaskular dan gangguan neurodegeneratif. Lipari juga mencatat bahwa gusi berdarah sangat terkait dengan diabetes, karena kadar gula darah tinggi meningkatkan glukosa dalam air liur yang memberi makan bakteri.
3. Gigi Goyang atau Pergeseran Posisi
Gigi yang goyang, terutama jika disertai gusi yang lunak atau bengkak, dapat menandakan penyakit gusi stadium lanjut. Infeksi tersebut dapat merusak tulang yang menahan gigi pada tempatnya.
Dalam kasus yang jarang terjadi, gigi goyang juga bisa mengindikasikan adanya tumor di mulut atau rahang. "Tumor biasanya tumbuh secara diam-diam sampai tiba-tiba menghancurkan tulang dan membuat gigi goyang," kata Katz. Pergeseran posisi gigi secara signifikan di luar perawatan ortodontik juga harus diwaspadai.
4. Bau Mulut atau Rasa tidak Enak yang Menetap
Bau mulut yang menetap setiap hari bisa menandakan infeksi, meskipun tidak disertai rasa sakit. Terkadang, saluran drainase kecil terbentuk di dekat gigi atau gusi yang terinfeksi untuk mengeluarkan nanah. Pelepasan cairan ini mencegah penumpukan tekanan sehingga infeksi mungkin tidak terasa sakit, tetapi menimbulkan bau atau rasa yang tidak sedap.
Bau mulut juga bisa disebabkan oleh mulut kering (xerostomia), yang merupakan efek samping umum dari obat darah tinggi, antidepresan, atau obat GLP-1. Mulut kering juga dikaitkan dengan penyakit autoimun seperti sindrom Sjögren dan diabetes.
5. Sariawan yang tidak Kunjung Sembuh
Sariawan biasanya sembuh dalam waktu dua minggu. Namun, jika Anda memiliki luka yang bertahan lebih lama dari itu, berubah menjadi benjolan, atau berdarah, segera hubungi dokter. Kondisi autoimun tertentu seperti lupus dapat menyebabkan luka di mulut dan dalam kasus langka, luka yang persisten bisa menjadi tanda kanker mulut.
Catatan Penting: Perawatan saluran akar saat ini jauh lebih nyaman berkat anestesi lokal yang lebih baik dan teknologi canggih yang memungkinkan prosedur selesai dalam satu jam. Menangani masalah gigi sejak dini tidak hanya menyelamatkan gigi Anda, tetapi juga meningkatkan indikator kesehatan jantung seperti kadar kolesterol dan peradangan kronis. (The Washington Post/I-2)


















































