Spirit Airlines.(Al Jazeera)
HARGA tiket pesawat di Amerika Serikat (AS) terus meroket, menciptakan kesenjangan yang mencolok dibandingkan dengan biaya penerbangan di Eropa. Pakar ekonomi Nathan Jun, melalui akun TikTok @nathancjun, memaparkan alasan penerbangan domestik di AS bisa memakan biaya hampir dua kali lipat dibandingkan rute serupa di Benua Biru.
Jun mencontohkan perbandingan harga yang drastis: penerbangan dari Raleigh, North Carolina, ke Chicago mencapai US$500 (sekitar Rp8 juta). Sementara itu, penerbangan dengan jarak tempuh serupa dari Nice, Prancis, ke Kopenhagen, Denmark, hanya dibanderol US$275 (sekitar Rp4,4 juta).
Minimnya Persaingan Maskapai Berbiaya Rendah
Faktor utama yang memicu tingginya harga di AS adalah kurangnya kompetisi. Di Eropa, terdapat sekitar 10 maskapai budget (berbiaya rendah) yang saling bersaing ketat. Sebaliknya, di Amerika Serikat, jumlah maskapai budget terus menyusut karena akuisisi oleh perusahaan besar.
Kondisi ini diperparah dengan tumbangnya Spirit Airlines. Maskapai yang beroperasi selama 34 tahun tersebut mengumumkan penutupan operasional secara bertahap mulai 2 Mei 2026 setelah menyatakan bangkrut. Hilangnya Spirit Airlines semakin membatasi opsi perjalanan murah bagi warga Amerika.
Pernyataan Delta Air Lines: Kepada Newsweek, juru bicara Delta menyatakan bahwa tarif udara dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk permintaan pelanggan, biaya operasional seperti bahan bakar, musim, dan dinamika kompetitif, meskipun mereka tidak merinci detail penetapan harga secara spesifik.
Dominasi Udara dan Lemahnya Infrastruktur Kereta
Selain masalah maskapai, infrastruktur transportasi darat memegang peran kunci. Di Eropa, jaringan kereta api yang luas dan efisien menawarkan alternatif perjalanan murah, yang secara otomatis memaksa maskapai untuk menjaga harga tiket tetap kompetitif.
Di Amerika Serikat, mobilitas sangat bergantung pada jalan raya dan bandara. Untuk perjalanan jarak jauh, pesawat sering kali menjadi satu-satunya pilihan praktis. "Ini ironis, mengingat AS pernah membangun jaringan kereta api terbesar di dunia pada awal 1900-an," ujar Jun.
Regulasi Antimonopoli yang Berbeda
Jun juga menyoroti perbedaan regulasi politik. Eropa memiliki aturan antimonopoli (anti-trust) yang sangat agresif. Jika maskapai besar di Eropa ingin membeli maskapai lain, mereka sering kali diwajibkan melepaskan slot mereka di berbagai bandara untuk menjaga persaingan tetap sehat.
Di AS, regulasi yang lebih longgar memungkinkan maskapai besar mendominasi bandara tertentu secara total, yang pada akhirnya memberikan mereka kendali penuh atas harga tiket. Tanpa ada perubahan legislasi atau peningkatan moda transportasi alternatif, para ahli memprediksi harga tiket pesawat di Amerika akan terus melambung tinggi. (I-2)

















































