Diskusi bertajuk "Finding Your Calm in the Age of Chaos" dalam rangkaian IDEAFEST 2026 di Jakarta.(Dok Istimewa)
Hidup di era digital membuat segalanya terasa semakin cepat. Mulai dari notifikasi tanpa henti, tren yang silih berganti, hingga derasnya opini di media sosial yang datang tanpa jeda. Tidak heran para Jelita kian mudah terdistraksi, melakukan doom scrolling, merasa kewalahan, bahkan ikut terbawa suasana dalam berbagai perdebatan di dunia maya.
Isu ini kemudian memunculkan wacana tentang pause culture atau kemampuan untuk berhenti atau rehat sejenak untuk menemukan kembali kemampuan untuk tetap tenang, berpikir jernih, dan tidak mudah ikut terpancing. Topik ini dikupas dalam Psikosopen: Jurnal Psikososial dan Pendidikan yang terbit pada Juni 2026.
Riset itu menyebutkan, konsep mindfulness, resilience, dan kesadaran eksistensial saling berkaitan dalam konteks digital untuk mendorong munculnya kebiasaan berhenti sejenak, berpikir, dan menggunakan media digital secara lebih sadar. Penelitian ini berupaya memberikan kontribusi nyata terhadap penerapan praktis dalam menghadapi tantangan psikologis di dunia digital modern.
Isu ini juga mengemuka dalam diskusi bertajuk "Finding Your Calm in the Age of Chaos" dalam rangkaian IDEAFEST 2026 di Jakarta, yang menghadirkan aktor yang juga pelari Daffa Wardhana.
Diskusi itu mengupas mereka yang memiliki kemampuan untuk pause, mengatur diri, lalu merespons dengan lebih sadar dijuluki kaum adem. Mereka bukan berarti pasif atau tidak peduli, namun justru tetap tenang di tengah momen yang panas, sehingga bisa mengambil keputusan yang lebih baik.
Berikut adalah kiat praktis untuk menerapkan pause culture. Pertama, jeda fisik, pasalnya, niat saja sering kali tidak cukup saat berhadapan dengan algoritma media sosial. Para Jelita butuh intervensi fisik dengan menerapkan aturan 20-20-20 atau setiap 20 menit menatap layar, alihkan pandangan ke objek sejauh 20 kaki atau sekitar 6 meter, selama 20 detik. Gunakan momen ini untuk menarik napas dalam-dalam. Lalu, terapkan teknik Pomodoro yang dikenal dalam masyarakat Jepang. Pasang pengingat waktu, misalnya 45 menit bekerja/belajar, begitu alarm berbunyi, wajib menjauh dari meja dan ponsel selama 5 menit.
Kedua, ciptakan hambatan digital. Bikin akses ke media sosial menjadi lebih sulit agar Jelita punya waktu untuk berpikir sebelum membuka aplikasi. Ubah layar menjadi hitam-putih untuk menurunkan daya tarik visual media sosial yang memicu ketagihan. Pindahkan aplikasi ke folder tersembunyi. Jangan taruh aplikasi media sosial di layar utama serta logout setelah digunakan. Keharusan untuk mengetik kata sandi setiap kali ingin membuka aplikasi memberi jeda bagi otak untuk berpikir, "Apakah saya benar-benar perlu membuka ini?"
Ketiga, pahami bahwa doom scrolling sering terjadi saat Anda bosan atau cemas. Cari alternatif kegiatan offline yang mudah diakses dengan jeda peregangan. Lakukan gerakan peregangan leher, bahu, dan pergelangan tangan selama 2 menit. Ada pula kiat yang dibagikan Head of Brand AQUA Riza Rahman untuk melakukan jeda hidrasi, minum segelas air putih.
"Berbagai penelitian bahkan menunjukkan bahwa hidrasi yang cukup berperan dalam menjaga konsentrasi, fungsi kognitif, suasana hati, hingga performa aktivitas sehari-hari," kata Riza.
Sementara itu, Daffa Wardhana membagikan pengalamannya saat berlari maraton yang kerap menghadapkannya pada berbagai tekanan fisik dan mental, terutama pada kilometer-kilometer krusial menjelang garis akhir.
"Saya belajar bahwa tidak semua tantangan harus dilawan dengan terburu-buru. Ada kalanya kita perlu melambat sejenak, mengatur napas, memastikan tubuh tetap terhidrasi, recharge, lalu kembali fokus pada langkah berikutnya. Prinsip yang sama menurut saya juga relevan dalam kehidupan sehari-hari," ujar Daffa. (X-6)
















































