P2G Apresiasi Kenaikan Skor PISA Indonesia 2025

1 day ago 12
P2G Apresiasi Kenaikan Skor PISA Indonesia 2025 Ilustrasi(Dok Kemendikdasmen)

Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) memberikan respons terhadap hasil tes Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 yang resmi dirilis pada Selasa, 8 September 2026. Secara umum, skor Indonesia menunjukkan tren positif di tengah penurunan rata-rata skor negara-negara anggota OECD.

Berdasarkan data terbaru, rata-rata skor negara OECD mengalami penurunan signifikan: Matematika turun 9 poin (465), Membaca turun 14 poin (463), dan Sains turun 3 poin (484). Sebaliknya, Indonesia mencatatkan kenaikan pada dua aspek utama.

"Yang menggembirakan adalah skor Indonesia justru meningkat dalam Membaca naik tujuh poin dan Sains naik enam poin," ungkap Koordinator Nasional P2G, Satriwan Salim, dalam keterangan resminya kepada Media Indonesia, Rabu (9/9/2026).

Dengan kenaikan tersebut, skor Membaca Indonesia kini berada di angka 365 dan Sains di angka 389. Namun, skor Matematika Indonesia mengalami penurunan tipis sebesar 2 poin menjadi 364. Meski ada peningkatan, P2G mengingatkan bahwa secara keseluruhan skor Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara OECD.

5 Poin Reflektif P2G Terkait PISA 2025

P2G memaparkan lima poin krusial sebagai bahan refleksi tata kelola pendidikan dasar dan menengah nasional:

1. Indikasi Keberhasilan Learning Recovery
Kenaikan skor ini dinilai sebagai indikasi keberhasilan upaya learning recovery atau pemulihan pembelajaran pascapandemi Covid-19 oleh Kemdikdasmen. Satriwan menilai kebijakan pembenahan kualitas pembelajaran sudah berada di jalur yang tepat. "Pendekatan Pembelajaran Mendalam yang kini diperkuat Kemdikdasmen harus betul-betul dipahami guru untuk dilaksanakan di kelas," tambahnya.

2. Penguatan Sains dan Budaya Literasi
P2G mendorong penguatan skor Sains melalui pendekatan STEAM (Science, Technology, Engineering, Art) yang dikombinasikan dengan ilmu sosial humaniora sejak dini. Sementara untuk literasi, kenaikan skor Membaca harus didukung budaya membaca buku fiksi dan non-fiksi yang melibatkan peran guru semua mata pelajaran serta orang tua. Pemerintah juga diminta memprioritaskan anggaran untuk fasilitas perpustakaan berkualitas.

3. Evaluasi Pembelajaran Matematika
Penurunan 2 poin pada skor Matematika harus menjadi pelecut agar pembelajaran tidak lagi sekadar menghafal rumus. "Pembelajaran di kelas hendaknya bermakna, membangun nalar kritis, sehingga murid dapat menyelesaikan persoalan riil menggunakan pendekatan matematika," jelas Satriwan.

4. Alarm Keras Tingkat Perundungan (Bullying)
Data PISA 2025 menunjukkan fakta mengkhawatirkan: 24% murid Indonesia mengalami perundungan beberapa kali dalam sebulan. Angka ini lebih tinggi dari rata-rata OECD sebesar 20%. Kabid Advokasi P2G, Iman Zanatul Haeri, menegaskan ini adalah alarm bagi ekosistem pendidikan. "Bagaimana mutu pendidikan akan dicapai jika murid mengalami kekerasan dan lingkungan belajarnya tidak aman?" tukas Iman.

5. Dedikasi Guru yang Paradoksal
Data menunjukkan 85% guru di Indonesia terus mengajar sampai murid mengerti (rata-rata OECD 69%) dan 80% guru memberikan bantuan penjelasan ekstra (rata-rata OECD 73%). Iman menilai hal ini bermakna ganda: di satu sisi menunjukkan dedikasi tinggi guru, namun di sisi lain mengindikasikan kurangnya kemandirian belajar murid dan tingginya beban kerja guru.

Target Besar 2029
P2G mengingatkan pemerintahan Prabowo Subianto memiliki tantangan besar untuk mencapai target RPJMN 2025-2029, yakni skor Membaca 409, Matematika 416, dan Sains 426.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |