(MI/Yose Hendra)
PEMERINTAH Provinsi Sumatra Barat (Pemprov Sumbar) memberikan dukungan penuh bagi Kota Padang untuk bertransformasi menjadi kota gastronomi internasional. Kekuatan kuliner Minangkabau diharapkan tidak hanya menjadi identitas budaya, tetapi juga mesin penggerak ekonomi dan pariwisata di panggung dunia.
Dukungan tersebut disampaikan Gubernur Sumatra Barat, Mahyeldi Ansharullah, melalui Staf Ahli Bidang Hukum, Politik, dan Pemerintahan, Jasman Datuak Bandaro Bendang, dalam acara Padang Bajamba: Taste of Padang Experience 2026 Road to Gastronomy City. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Hari Jadi Kota Padang ke-357 yang digelar di Gedung Bagindo Aziz Chan, Jumat (7/8/2026).
Membangun Ekosistem Gastronomi yang Komprehensif
Dalam sambutan tertulisnya, Mahyeldi menekankan bahwa konsep gastronomi jauh melampaui sekadar rasa makanan. Menurutnya, gastronomi mencakup rantai panjang yang melibatkan bahan pangan, proses pengolahan, penyajian, hingga nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
"Membangun Kota Padang sebagai kota gastronomi bukan hanya mempromosikan makanan, tetapi juga membangun ekosistem yang menghubungkan budaya, pertanian, perikanan, perdagangan, pariwisata, kesehatan, lingkungan, dan ekonomi kreatif," tegas Mahyeldi.
Ia mengingatkan bahwa popularitas masakan Padang saat ini hanyalah modal awal. Untuk bersaing secara global, konsistensi rasa, keamanan bahan pangan, kebersihan pengolahan, dan kualitas pelayanan harus menjadi standar utama. Keberhasilan ini nanti harus memberikan dampak nyata bagi penguatan pelaku usaha lokal dan pembangunan berkelanjutan.
Target Jejaring Kota Kreatif UNESCO
Pemprov Sumbar mendukung penuh langkah Kota Padang untuk bergabung dalam Jejaring Kota Kreatif UNESCO (UCCN) di bidang gastronomi. Namun, Mahyeldi memberikan catatan agar pengakuan internasional tersebut tidak sekadar menjadi gelar seremonial.
Indikator keberhasilan yang diharapkan meliputi:
- Peningkatan kelas UMKM kuliner lokal.
- Pelestarian pengetahuan tradisional bagi generasi muda.
- Peningkatan nilai jual bahan pangan lokal dari petani dan nelayan.
- Penyediaan pengalaman wisata yang aman, bersih, dan bermakna.
- Pengurangan limbah pangan dan pengelolaan pasar yang lebih higienis.
Mahyeldi juga mendorong agar pengetahuan kuliner didokumentasikan secara formal melalui lembaga pendidikan dan komunitas adat agar resep turun-temurun tetap terjaga keasliannya.
Dampak Ekonomi dan Wisata Pengalaman
Lebih lanjut, Gubernur meminta agar festival seperti Taste of Padang Experience 2026 meninggalkan dampak ekonomi yang konkret bagi UMKM, mulai dari penguatan merek hingga perluasan pasar. Pemerintah daerah diminta aktif melakukan pendampingan terkait sertifikasi, kemasan, hingga pemasaran digital.
Dari sisi pariwisata, konsep wisata gastronomi harus diperluas. Wisatawan tidak hanya diajak makan, tetapi juga diperkenalkan pada sejarah makanan, kunjungan ke pasar tradisional, hingga kelas memasak. "Dengan demikian, wisatawan dapat tinggal lebih lama dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat," tambahnya.
Filosofi Padang Bajamba
Wali Kota Padang, Fadly Amran Datuak Paduko Malano, menambahkan bahwa tradisi Padang Bajamba memiliki nilai filosofis mendalam, yakni duduk sama rendah, tegak sama tinggi. Tradisi makan bersama ini mencerminkan kesetaraan, gotong royong, dan persaudaraan tanpa sekat status sosial.
"Setiap hidangan seperti rendang, gulai, hingga lamang sarikayo memiliki jiwa dan ceritanya sendiri. Inilah kekayaan yang akan kita perkenalkan kepada dunia melalui ikhtiar menjadikan Padang sebagai kota gastronomi dunia," ujar Fadly. (I-2)

















































