Perang Timur Tengah Meluas: Houthi Serang Sekutu AS dan Blokade Jalur Laut

4 days ago 18
 Houthi Serang Sekutu AS dan Blokade Jalur Laut Houthi.(Al Jazeera)

KONFLIK di Timur Tengah semakin meluas seiring dengan meningkatnya serangan dari pemberontak Houthi di Yaman yang didukung Iran. Kelompok ini meluncurkan serangkaian serangan terhadap sekutu Amerika Serikat dan menutup jalur pelayaran utama, yang menandai babak baru dalam ketegangan regional.

Houthi, salah satu milisi terkuat yang didukung Iran, mulai terlibat aktif dalam perang pada Maret lalu, sebulan setelah Israel dan AS menyerang Iran. Saat ini, kelompok tersebut terlibat kontak senjata dengan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan menyerang wilayah Arab Saudi, mengakhiri gencatan senjata de facto yang telah berlangsung selama empat tahun.

Akar Konflik di Yaman

Perang di Yaman telah berlangsung lebih dari satu dekade, mempertemukan pemberontak Houthi dengan koalisi pimpinan Arab Saudi yang mendukung pemerintah sah. Houthi, yang berasal dari minoritas Muslim Syiah Zaidi dan dikenal sebagai Ansar Allah, menguasai ibu kota Sanaa serta sebagian besar garis pantai Laut Merah sejak 2011.

Dalam perjalanannya, Houthi menjadi bagian dari Poros Perlawanan Iran, menerima dukungan senjata dan teknologi. Upaya Arab Saudi selama tujuh tahun untuk menggusur Houthi sejak 2015 gagal membuahkan hasil, justru memicu salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Meski gencatan senjata sempat disepakati pada 2022, perdamaian permanen tidak pernah tercapai.

Mengapa Konflik Meletus Kembali?

Arab Saudi kembali terseret ke dalam pusaran konflik setelah menghadapi rentetan rudal dari kelompok-kelompok yang didukung Iran di Irak dan Houthi di Yaman. Houthi kini menjadi ancaman serius bagi Riyadh dengan menargetkan kapal tanker minyak dan memberlakukan blokade di Selat Bab al-Mandeb, rute perdagangan maritim kritis di pangkal Laut Merah.

Danny Citrinowicz, mantan pakar intelijen militer Israel, menyatakan bahwa Houthi melewati ambang batas politik dan militer. Mereka tidak lagi bersedia menerima status quo berupa Arab Saudi dapat memberlakukan blokade tanpa menghadapi pembalasan. Houthi tampaknya mengadopsi logika kepemimpinan Iran bahwa asimetri strategis menguntungkan posisi mereka.

Posisi Sulit Arab Saudi

Bagi Riyadh, keterlibatan dalam konflik yang lebih luas sangat berisiko bagi ambisi ekonomi mereka. Selama dekade terakhir, Arab Saudi fokus pada investasi asing dan transformasi menjadi kekuatan ekonomi regional, yang sempat mendorong kebijakan detente dengan Iran pada 2023 melalui mediasi Tiongkok.

Namun, strategi tersebut kini terancam. Pejabat Saudi mengungkapkan kekhawatiran atas laporan intelijen mengenai rencana serangan terkoordinasi oleh milisi Irak dan Houthi di bawah arahan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran. Pada Jumat (7/8/2026), koalisi militer pimpinan Saudi melaporkan 11 warga sipil terluka akibat serangan Houthi di wilayah perbatasan Najran.

Langkah Defensif: Sebagai respons, Arab Saudi, Turki, dan Pakistan menandatangani pakta pertahanan bersama pada hari Jumat. Kesepakatan ini menetapkan bahwa serangan terhadap salah satu negara akan dianggap sebagai serangan terhadap ketiganya.

Risiko Ekonomi dan Kemanusiaan

Eskalasi ini membawa dampak ekonomi yang signifikan. Upaya Riyadh untuk mengalihkan ekspor minyak dari Teluk Persia ke Laut Merah terhambat karena penutupan Selat Hormuz dan blokade Houthi di Bab al-Mandeb. Ekspor minyak mentah Saudi melalui selat tersebut dilaporkan turun drastis dari 3,2 juta barel per hari menjadi hanya 1,5 juta barel per hari.

Meskipun Saudi Aramco melaporkan laba sebesar US$33 miliar (sekitar Rp528 triliun) pada kuartal kedua berkat lonjakan harga global, para ahli memperingatkan bahwa kondisi ini tidak akan bertahan selamanya karena stok minyak yang mulai berkurang.

Di sisi kemanusiaan, kembalinya perang skala penuh mengancam Yaman dengan bencana yang lebih dalam. PBB sebelumnya mencatat lebih dari 22 juta orang di Yaman sangat membutuhkan bantuan. Perang yang berkepanjangan menghancurkan ekonomi dan menyebabkan puluhan ribu warga Yaman hidup dalam kelaparan. (CNN/I-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |