Pelantikan di Kementerian Kehutanan dipimpin oleh Menhut Raja Antoni.(dok.istimewa)
MENTERI Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menegaskan komitmennya membangun sistem merit di lingkungan Kementerian Kehutanan sebagai fondasi reformasi birokrasi. Menurutnya, promosi dan pengembangan karier aparatur sipil negara (ASN) harus didasarkan pada kapasitas, kompetensi, dan kinerja, bukan kedekatan maupun latar belakang tertentu.
Hal tersebut disampaikan Menhut Raja Antoni saat melantik pejabat manajerial dan nonmanajerial serta mengambil sumpah ASN di lingkungan Kementerian Kehutanan, Rabu (8/7).
"Saya sedang terus berusaha semaksimal mungkin, untuk membangun sistem merit, meritokrasi di kementerian ini. Berusaha untuk membuat talent pool yang objektif, yang didasarkan kepada merit-based, didasarkan kepada kapasitas seseorang, kinerja seseorang, bukan latar belakang suku, agama, atau dia dari mana," ujar Menhut Raja Antoni.
"Sistem ini memang belum sempurna, tetapi saya berharap ini menjadi legacy saya bersama Pak Wakil Menteri. Di mana nanti saya ingin kawan-kawan, Adik-adik sekalian yang bekerja dengan baik, tanpa perlu kenal menteri dan wamen, tapi tercatat secara digital, kagum melalui platform yang kita punya, yang bisa diakses oleh semua, bahwa si A layak untuk dilantik, si B tidak dilantik karena memang demikian adanya," sambungnya.
Menurut Menhut Raja Antoni, reformasi birokrasi tidak hanya berkaitan dengan perubahan struktur organisasi, tetapi juga perubahan budaya kerja. Ia menyebut proses tersebut tidak selalu berjalan mudah dan berpotensi menimbulkan gejolak.
“Kalian adalah bagian paling penting dari proses perubahan ini. Mari terus bekerja menata kementerian agar semakin baik, menjaga kelestarian hutan, pembangunan tetap berjalan, dan kesejahteraan masyarakat terus meningkat,” ujarnya.
Selain itu, Menhut mendorong seluruh ASN untuk terus meningkatkan kualitas diri melalui pembelajaran baik formal maupun nonformal. Ia menyampaikan bahwa Kementerian Kehutanan akan terus memperkuat pengembangan sumber daya manusia, termasuk membuka peluang pendidikan dan beasiswa guna menyiapkan generasi pemimpin kehutanan di masa depan.
“Jangan pernah berhenti belajar. Belajar bukan hanya melalui pendidikan formal, tetapi juga dari pimpinan, rekan kerja, maupun bawahan. Saya sendiri sebagai menteri tidak pernah berhenti belajar agar setiap keputusan yang diambil benar-benar berdasarkan pemahaman yang utuh,” katanya. (Cah/P-3)


















































