Ilustrasi(Dok Istimewa)
SEBELUM berangkat menempuh studi Human Geography and Planning di University van Amsterdam (UvA), Belanda, penerima Beasiswa Garuda LPDP, Azka Abdul Malik Albayroni, memilih melakukan langkah yang tidak biasa.
Alih-alih hanya mempersiapkan keberangkatan, siswa SMA Pradita Dirgantara yang mengantongi 30 Letter of Acceptance (LoA) dari berbagai universitas ternama dunia itu mendatangi Kementerian Pekerjaan Umum (PU) untuk meminta arahan langsung mengenai ilmu yang paling dibutuhkan Indonesia.
Azka diterima di berbagai perguruan tinggi bergengsi di tujuh negara dan empat benua, di antaranya Australian National University (ANU), The University of Sydney, UNSW Sydney, Wageningen University, Nanyang Technological University (NTU) Singapura, hingga University of Toronto. Namun, ia akhirnya memilih melanjutkan pendidikan di University van Amsterdam karena ingin mendalami perencanaan kota yang berorientasi pada manusia.
"Saya ingin memastikan ilmu yang saya pelajari benar-benar relevan untuk Indonesia. Karena itu saya datang untuk bertanya langsung, apa yang harus saya perdalam agar ketika pulang nanti saya bisa ikut berkontribusi membangun negeri," ujar Azka.
Ketertarikan Azka pada dunia tata ruang berawal dari hobi masa kecilnya bermain SimCity, gim simulasi pembangunan kota. "Dari SimCity saya mulai penasaran bagaimana sebenarnya sebuah kota dibangun. Kenapa ada kota yang macet, banjir, atau tumbuh tidak teratur. Dari situ saya mengetahui bahwa ada ilmu yang mempelajari hubungan manusia, ruang, dan kebijakan," katanya.
Wakil Menteri Pekerjaan Umum Diana Kusumastuti menyambut positif inisiatif Azka yang datang bukan sekadar berpamitan sebelum kuliah, melainkan mencari arah agar ilmunya dapat menjawab kebutuhan pembangunan nasional. Menurut Diana, Indonesia membutuhkan generasi muda yang tidak hanya menguasai teori perencanaan wilayah, tetapi juga memahami implementasi kebijakan secara kolaboratif.
"Indonesia membutuhkan lebih banyak perencana wilayah yang memahami persoalan secara utuh. Tidak hanya melihat peta dan infrastruktur, tetapi juga memahami masyarakat, lingkungan, dan bagaimana seluruh pemangku kepentingan bekerja bersama dalam satu sistem pembangunan," ujar Diana.
Ia menjelaskan terdapat beberapa isu strategis yang perlu menjadi perhatian mahasiswa yang mendalami urban planning dan human geography. Pertama, penguatan ketahanan pangan dan air melalui pembangunan irigasi yang andal, peningkatan indeks pertanaman, pembangunan bendungan, hingga pengendalian banjir secara terintegrasi.
"Kita harus menjaga kawasan sungai dari hulu hingga hilir. Sepadan sungai tidak boleh dipenuhi bangunan karena menyangkut keselamatan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan," kata Diana.
Kedua, perlindungan tata ruang dan lahan pertanian. Menurutnya, alih fungsi sawah produktif menjadi kawasan permukiman maupun industri harus dikendalikan agar ketahanan pangan nasional tetap terjaga.
"Pembangunan harus memperhatikan keseimbangan. Lahan pertanian produktif harus dilindungi, sementara pengembangan kawasan permukiman diarahkan secara lebih terencana sesuai tata ruang," ujarnya.
Ketiga, Diana menekankan pentingnya memahami aspek sosial dalam perencanaan wilayah. "Keberhasilan tata ruang tidak hanya ditentukan desain fisiknya. Perilaku masyarakat, budaya, dan partisipasi publik justru menjadi faktor yang sangat menentukan keberhasilan implementasi kebijakan," jelasnya.
Ia juga mendorong pengembangan green building, pemanfaatan energi terbarukan seperti panel surya, serta penggunaan material bangunan yang lebih ramah lingkungan. Selain itu, Diana menegaskan konsep collaborative spatial governance harus menjadi fondasi pembangunan masa depan.
Menutup pertemuan tersebut, Diana berpesan agar Azka menimba ilmu sebaik-baiknya dan kembali mengabdikan pengetahuannya bagi Indonesia. "Belajarlah sungguh-sungguh, kuasai ilmunya. Tapi jangan lupa, Indonesia menunggu kalian pulang. Negeri ini membutuhkan ahli tata ruang, perencana kota, dan pemimpin yang mampu membangun Indonesia dari akar persoalannya," pesannya.
Azka mengatakan salah satu alasan memilih University van Amsterdam adalah pendekatan pendidikan di Eropa yang menempatkan manusia sebagai pusat perencanaan kota. Menurutnya, urban planning tidak hanya membahas pembangunan fisik, tetapi juga hubungan antara ruang, perilaku masyarakat, kebijakan publik, dan keberlanjutan lingkungan.
"Saya ingin belajar bagaimana kota dibangun untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Bukan hanya membangun gedung atau jalan, tetapi membangun ruang yang benar-benar berpihak kepada manusia," ujarnya.
Seluruh arahan yang diberikan Wamen PU, mulai dari spatial governance, perlindungan lahan, pembangunan hijau, hingga kolaborasi lintas sektor menjadi bekal yang akan dibawanya selama menempuh studi di Belanda.
Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia, Dr. Rachma Fitriati, M.Si., M.Si. (Han), yang juga ibu Azka, mengatakan sejak awal keluarga selalu menanamkan bahwa pendidikan bukan sekadar mengejar prestasi akademik, tetapi harus menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat.
"Kami selalu mengajarkan bahwa ilmu adalah amanah. Prestasi tentu membanggakan, tetapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana ilmu tersebut kelak dapat digunakan untuk memberikan solusi bagi persoalan bangsa," ujar Rachma Fitriati. (H-2)


















































