(Dok The Washington Post/Manel Esteller MD PhD/University of Barcelona/Josep Carreras Institute)
MARIA Branyas Morera menjalani kehidupan yang sederhana. Ia menyukai yogurt, berkebun, tidur cukup, membaca buku, berjalan kaki, bersosialisasi dengan teman, bermain piano, dan ditemani anjing kesayangannya.
Namun, di balik kesederhanaan itu, tersimpan keajaiban biologis yang luar biasa. Ketika ia wafat pada 19 Agustus 2024 dalam usia 117 tahun, Morera memegang gelar sebagai orang tertua di dunia yang tetap berada dalam kondisi kesehatan relatif baik.
Studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Cell Reports Medicine memberikan petunjuk menarik mengenai fenomena ini. Melalui pemeriksaan menyeluruh terhadap gen, sistem imun, fungsi sel, mikrobioma, hingga gaya hidup Morera, para peneliti mencoba membedah hal yang membuat seorang ibu di Catalonia, Spanyol, ini mampu mencapai usia ekstrem tersebut.
Keberuntungan dalam Lotre Genetik
Manel Esteller, ketua genetika di Fakultas Kedokteran Universitas Barcelona sekaligus penulis senior studi tersebut, menyatakan bahwa Morera memenangkan lotre genetik. Genomnya mengandung berbagai varian genetik yang sebelumnya dikaitkan dengan umur panjang, ditambah tujuh varian baru yang belum pernah diidentifikasi pada lansia lain.
Sel-sel tubuhnya memiliki kemampuan luar biasa dalam perbaikan DNA, membersihkan sel yang rusak, mengendalikan peradangan, dan menciptakan mitokondria (pusat energi sel) yang kuat. Yang paling krusial, Morera tidak membawa varian genetik yang meningkatkan risiko kanker, Alzheimer, diabetes, atau penyakit kronis lain. Sepanjang hidupnya, keluhan fisik utamanya hanyalah radang sendi (artritis).
Sistem Imun yang Efisien dan Mikrobioma Sehat
Namun, genetik bukan satu-satunya faktor. Peneliti menemukan bahwa sistem imun Morera sangat kokoh. Ia memiliki cadangan sel T (sel darah putih) yang besar, yang berfungsi mengingat ancaman masa lalu seperti infeksi. Meski pernah terpapar berbagai infeksi--termasuk menjadi orang tertua di Spanyol yang selamat dari covid-19--sistem imunnya tetap aktif tanpa menyerang jaringan sehat sendiri (autoimunitas).
Selain itu, mikrobioma ususnya sangat sehat, dipenuhi bakteri yang memproduksi zat anti-inflamasi. Hal ini membantu memperkuat sistem kekebalan tubuh dan kesehatan secara keseluruhan.
Fakta Menarik: Tes usia biologis menunjukkan bahwa tubuh Morera berfungsi seperti seseorang yang berusia 23 tahun lebih muda dari usia kronologisnya.
Pelajaran dari Gaya Hidup Sederhana
Interaksi antara genetik dan gaya hidup memainkan peran besar dalam menjaga kadar kolesterol dan gula darah Morera tetap stabil hingga usia 116 tahun. Berikut beberapa kebiasaan hidupnya:
- Diet Ringan: Mengikuti pola diet Mediterania dengan banyak mengonsumsi ikan, minyak zaitun, dan buah-buahan.
- Konsumsi Yogurt: Dalam 10 tahun terakhir hidupnya, ia rutin mengonsumsi tiga porsi yogurt tawar setiap hari.
- Aktivitas Fisik: Rutin berjalan kaki dan berkebun hingga tahun-tahun terakhirnya.
- Interaksi Sosial: Tetap bersosialisasi dengan penghuni panti jompo dan menerima tamu dengan tangan terbuka.
Penuaan dan Penyakit Bisa Dipisahkan
Nir Barzilai, profesor kedokteran dan genetika di Albert Einstein College of Medicine, menekankan bahwa studi terhadap individu tunggal seperti Morera memerlukan perbandingan lebih lanjut dengan supercentenarian atau orang yang hidup lebih dari 110 tahun yang lain. Namun, temuan ini memberikan harapan akan ada intervensi medis atau obat-obatan di masa depan yang dapat membantu manusia menua dengan lebih baik.
Pesan utama dari studi ini yaitu penuaan dan penyakit merupakan dua hal yang bisa dipisahkan. Maria Branyas Morera membuktikan bahwa seseorang bisa menjadi sangat tua tanpa harus jatuh sakit parah, hingga akhirnya ia meninggal dengan tenang dalam tidurnya pada usia 117 tahun, tetap sehat secara mental dan fisik hingga akhir hayatnya. (The Washington Post/I-2)


















































