Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menyampaikan ucapan selamat kepada kelompok Houthi Yaman menyusul laporan mereka telah menguasai seluruh garis pantai Laut Merah negara tersebut.(Mohammed Huwais/AFP)
ARAB SAUDI menutup pipa minyak East-West pada Jumat (11/9/2026), setelah serangan drone menghantam fasilitas tersebut. Di hari yang sama, Houthi yang didukung Iran merebut Pulau Mayun di Selat Bab el-Mandeb.
Dua perkembangan itu memperbesar tekanan terhadap jalur energi dan pelayaran global. Bab el-Mandeb merupakan salah satu jalur laut utama yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Arab Saudi menyatakan penutupan pipa dilakukan sebagai langkah pencegahan. Riyadh menuding serangan drone berasal dari Irak.
Penutupan pipa dilakukan sebagai langkah pencegahan setelah serangan menyebabkan sejumlah orang terluka. Kementerian Energi Arab Saudi menyebut tim darurat telah dikerahkan untuk mengamankan fasilitas dan menilai kerusakan.
Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menyatakan drone yang menyerang fasilitas tersebut berasal dari Irak. Riyadh memilih tidak langsung membalas dan memberi pemerintah Irak kesempatan mengambil langkah yang diperlukan.
Namun, Saudi menegaskan tetap memiliki hak untuk mengambil langkah yang diperlukan guna melindungi kepentingan dan keamanannya. Pernyataan itu menunjukkan Riyadh masih menahan diri meski infrastruktur energinya kembali menjadi sasaran.
Pipa East-West sepanjang sekitar 1.200 kilometer merupakan jalur penting bagi ekspor minyak Saudi karena memungkinkan pengiriman minyak ke Laut Merah tanpa melewati Selat Hormuz.
Pipa itu dalam beberapa bulan terakhir mengalirkan sekitar 4 juta-5 juta barel minyak per hari. Angka tersebut setara sekitar 4-5% pasokan minyak global.
Gangguan terhadap pipa itu terjadi ketika jalur alternatif Saudi sudah menghadapi tekanan lain. Houthi memperluas penguasaan di pesisir Laut Merah dan merebut Pulau Mayun yang berada di pintu masuk selatan Laut Merah.
Pulau tersebut berada di jalur Bab el-Mandeb, salah satu titik sempit terpenting bagi perdagangan dunia. Penguasaan Mayun memperkuat posisi Houthi untuk mengancam pelayaran yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Perkembangan itu membuat Saudi menghadapi tekanan dari dua arah. Selat Hormuz terganggu akibat konflik dengan Iran, sementara jalur Laut Merah yang menjadi alternatif kini berada di bawah ancaman Houthi.
Tekanan terhadap pasar energi ikut meningkat. Harga minyak Brent sempat mendekati US$100 per barel atau sekitar Rp1,76 juta per barel jika menggunakan kurs Rp17.607 per US$1. Pasokan minyak mentah Saudi dilaporkan turun ke level terendah dalam lebih dari tiga dekade.
Sebelumnya, harga Brent bahkan dilaporkan mencapai US$104,56 per barel atau sekitar Rp1,84 juta per barel. Kenaikan harga ini memperlihatkan bagaimana perebutan wilayah di Yaman kini berdampak langsung pada pasar energi global.
Bagi Saudi, persoalannya bukan sekadar serangan terhadap satu fasilitas. Pipa East-West adalah jalur penyelamat ketika Selat Hormuz terganggu. Jika pipa itu tidak segera beroperasi normal sementara Bab el-Mandeb tetap terancam, pilihan Riyadh untuk mengalirkan minyak ke pasar dunia semakin terbatas.
Konflik Yaman pun berisiko kembali melebar. Kemajuan Houthi di pesisir Laut Merah membuka front baru dalam perang kawasan dan meningkatkan risiko gangguan terhadap salah satu jalur perdagangan paling penting di dunia. (CNA/B-3)
















































