Ilustrasi(magnifik)
RUTINITAS pagi saat anak kembali bersekolah masih menjadi tantangan bagi banyak ibu di Indonesia. Di tengah waktu yang terbatas, mereka harus membagi perhatian antara menyiapkan sarapan, memastikan perlengkapan sekolah lengkap, hingga membuat bekal yang praktis, bergizi, dan tetap disukai anak.
Kondisi tersebut membuat tidak sedikit orang tua kesulitan mencari menu yang mudah dibuat, tetapi tetap menarik untuk dikonsumsi anak di sekolah.
Survei Dairy Champ terhadap lebih dari 700 ibu di Indonesia menunjukkan lebih dari 90 persen responden mengaku pagi hari saat anak kembali ke sekolah terasa sangat padat.
Meski demikian, sekitar tujuh dari 10 ibu tetap konsisten menyiapkan bekal dari rumah. Di sisi lain, hampir 50 persen ibu mengaku kesulitan menyiapkan bekal, sementara sekitar 40 persen masih kebingungan mencari variasi menu agar anak tidak bosan dan mau menghabiskan makanannya.
Berangkat dari temuan tersebut, PT Etika Beverages Indonesia melalui Dairy Champ meluncurkan kampanye Back to School: Bekal Juara dari Rumah. Kampanye ini bertujuan membantu orang tua menghadirkan bekal yang praktis, lezat, dan mudah dibuat, sekaligus mendorong kebiasaan membawa bekal sebagai bagian dari pemenuhan gizi anak.
Selain keluarga, program ini juga ditujukan untuk menginspirasi pelaku UMKM, usaha kuliner rumahan, hingga pengelola kantin sekolah dalam mengembangkan pilihan menu yang sesuai untuk anak usia sekolah.
Head of Marketing PT Etika Beverages Indonesia, Dodi Afandi, mengatakan hasil survei menunjukkan bahwa meski rutinitas pagi semakin padat, banyak orang tua tetap berupaya meluangkan waktu untuk menyiapkan bekal bagi anak.
"Kami ingin membantu orang tua menemukan inspirasi bekal yang lebih sederhana dan mudah disiapkan agar anak tetap bersemangat menghabiskan makanannya," ujar Dodi.
Menurutnya, bekal yang baik tidak diukur dari banyaknya variasi makanan yang dibawa ke sekolah, melainkan apakah makanan tersebut benar-benar dimakan oleh anak.
"Yang terpenting bukan banyaknya jenis makanan yang dibawa ke sekolah, melainkan apakah makanan tersebut benar-benar dimakan anak," katanya.
Sebagai bagian dari kampanye tersebut, Dairy Champ memperkenalkan sejumlah inspirasi menu yang dirancang mudah dipraktikkan di rumah sekaligus memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai produk usaha rumahan.
Sebagai bagian dari kampanye tersebut, Dairy Champ turut memperkenalkan sejumlah inspirasi menu yang dinilai mudah dibuat di rumah sekaligus berpotensi menjadi ide usaha rumahan.
Salah satunya Es Jagung Hawai, olahan berbahan dasar jagung manis yang dipadukan dengan susu evaporasi, air kelapa, krimer kental manis, cincau hitam, jelly kelapa muda, dan keju parut.
Dalam sesi demonstrasi, menu tersebut dibuat dengan mengolah jagung hingga bertekstur lembut, kemudian dipadukan dengan kuah berbahan susu evaporasi, air kelapa, dan krimer kental manis.
Setelah itu, jagung disajikan bersama cincau, jelly kelapa, es batu, serta taburan keju parut. Penyajiannya dapat disesuaikan dengan selera, termasuk penambahan sirup cocopandan sebagai pelengkap.
Menurut penyelenggara, menu tersebut dipilih karena menggunakan bahan yang mudah diperoleh, proses pembuatannya relatif sederhana, serta dapat menjadi inspirasi bagi orang tua yang ingin menyiapkan bekal maupun bagi pelaku UMKM yang ingin mengembangkan produk minuman berbahan dasar jagung.
Certified Positive Discipline Parent Educator Damar Wijayanti menilai bekal sekolah tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gizi anak, tetapi juga menjadi sarana membangun hubungan emosional dalam keluarga.
Menurutnya, melibatkan anak saat memilih menu atau menyiapkan bekal dapat membuat mereka merasa dihargai sekaligus lebih bersemangat menghabiskan makanan yang dibawa dari rumah.
"Dalam pendekatan Positive Discipline, melibatkan anak memilih menu atau menyiapkan bekal bersama dapat memperkuat hubungan orang tua dan anak, sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri, kemandirian, dan kebiasaan positif," ujar Damar.
Ia menambahkan, banyak ibu tetap memilih menyiapkan bekal karena ingin memastikan kebutuhan anak terpenuhi.
"Ibu merasa tenang jika dia punya kontrol, karena dia tahu kebutuhan anak-anaknya. Membuat makanan adalah bahasa cinta ibu kepada anaknya. Walaupun tidak selalu berada di dekat anak, melalui bekal yang disiapkan ibu menunjukkan bahwa ia tetap hadir dan memperhatikan," tuturnya.
Temuan survei tersebut menunjukkan bahwa tantangan terbesar bukan sekadar menyiapkan makanan di pagi hari, tetapi bagaimana menghadirkan bekal yang praktis, bergizi, dan benar-benar dikonsumsi anak.
Di sisi lain, inspirasi menu sederhana dan keterlibatan anak dalam proses menyiapkan bekal dinilai dapat membantu membangun kebiasaan makan yang lebih baik, mempererat hubungan dalam keluarga, sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat yang ingin mengembangkan produk makanan rumahan.


















































