Mengapa Pekerjaan Dominasi Perempuan Digaji Lebih Murah? Ini Temuan Studi Terbaru

7 hours ago 6
Mengapa Pekerjaan Dominasi Perempuan Digaji Lebih Murah? Ini Temuan Studi Terbaru Ilustrasi(Magnific)

KESENJANGAN gaji berdasarkan gender masih menjadi persoalan pelik di dunia kerja global. Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Research in Social Stratification and Mobility membuktikan jenis pekerjaan yang didominasi perempuan cenderung dinilai lebih rendah dan diberi gaji lebih kecil dibandingkan pekerjaan yang didominasi pria, meskipun tingkat keahlian dan pendidikannya setara.

Fenomena ini selaras dengan "hipotesis devaluasi" yang digagas oleh Paula England dari New York University Abu Dhabi sejak pertengahan 1990-an. Teori tersebut menyatakan bahwa pekerjaan yang diidentikkan dengan perempuan kerap dianggap kurang bernilai secara budaya, sehingga berdampak langsung pada penurunan penetapan upah.

Untuk menguji teori tersebut secara mendalam, Profesor Catherine Taylor dari University of California, Santa Barbara (UCSB) bersama tim peneliti dari empat universitas melakukan eksperimen terkontrol terhadap sampel representatif ribuan orang dewasa.

"Teori ini menyatakan bahwa kita mendevaluasi kontribusi perempuan dalam masyarakat," ujar Taylor. 

"Perempuan masih menghasilkan 85 sen untuk setiap satu dolar yang dihasilkan pria, dan kita tahu sebagian alasannya adalah karena perempuan berada dalam profesi yang bergaji lebih rendah. Namun penelitian kami bertanya, apakah kita benar-benar membayar suatu profesi lebih rendah karena ada perempuan di dalamnya?"

Dalam eksperimennya, para peneliti menggunakan satu deskripsi pekerjaan netral gender yang sama, yaitu konsultan manajemen. Seluruh deskripsi mengenai tugas, keahlian, dan tuntutan kerja dibuat identik. Satu-satunya hal yang diubah adalah proporsi keterlibatan perempuan dalam bidang tersebut, yakni 25 persen (didominasi pria), 45%, dan 67% (didominasi perempuan).

Responden kemudian diminta menyarankan gaji pokok awal untuk lulusan baru perguruan tinggi pada rentang US$40.000 hingga US$100.000 per tahun.

Hasilnya menunjukkan bahwa versi pekerjaan yang didominasi perempuan (67%) mendapatkan rekomendasi gaji awal yang secara signifikan lebih rendah dibanding versi dominasi pria, dengan selisih mencapai sekitar US$865 per tahun. Penurunan ini disepakati baik oleh responden pria maupun perempuan. Selain itu, bias gaji ini baru muncul ketika profesi tersebut digambarkan secara jelas mayoritas perempuan.

Menariknya, bias ini tidak bersumber dari pandangan bahwa pekerja perempuan kurang terampil atau kurang berkomitmen, karena penilaian atas kemampuan pekerja tetap sama. Artinya, devaluasi terjadi pada profesinya itu sendiri.

"Saya pikir penting bagi para pemberi kerja untuk memahami mereka sendiri terkadang mendevaluasi perempuan tanpa memikirkannya," kata Taylor. "Kesenjangan gaji bukan tentang adanya preferensi melekat pada perempuan untuk pekerjaan yang menawarkan upah lebih rendah, melainkan karena kita memang membayar profesi perempuan lebih rendah karena kita mendevaluasi perempuan."

Sebagai langkah penanganan, Taylor menyarankan agar perusahaan menerapkan standar penggajian yang objektif.

"Satu sarannya adalah agar pemberi kerja memastikan kriteria pembayaran gaji mereka terstandarisasi, misalnya berdasarkan tingkat pendidikan tertentu dan jumlah tahun pengalaman yang dimiliki karyawan, tanpa memandang gender," tutur Taylor. "Bagi pemberi kerja, melakukan upaya menciptakan kesetaraan ini sangat sepadan. Hal ini lebih baik bagi organisasi jika terdapat kesetaraan yang lebih besar." (Earth/Z-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |