Argentina Gagal Juara Piala Dunia 2026, Suporter Tetap Bangga pada Messi dkk

7 hours ago 7
Argentina Gagal Juara Piala Dunia 2026, Suporter Tetap Bangga pada Messi dkk Ilustrasi(Antara)

SUPORTER timnas Argentina menegaskan bahwa skuad kesayangan mereka pantas pulang dengan kepala tegak meski gagal mempertahankan gelar juara. Langkah La Albiceleste terhenti setelah dikalahkan Spanyol dengan skor tipis 0-1 pada partai final Piala Dunia 2026 di Stadion New York New Jersey, Amerika Serikat, Minggu (19/7) atau Senin (20/7) dini hari WIB.

"Mereka sudah melakukan hal yang luar biasa," ujar Diego, salah satu suporter timnas Argentina, usai pertandingan. Menurutnya, para pendukung tidak bisa menuntut hasil yang lebih baik lagi mengingat dominasi tim Tango dalam kurun waktu 2021-2026.

Dalam rentang lima tahun tersebut, Argentina mencatatkan prestasi fenomenal dengan menjuarai Copa America dua kali (2021, 2024), memenangkan Finalissima (2022), serta menjadi kampiun Piala Dunia 2022 sebelum akhirnya menjadi runner-up di edisi 2026. "Kami bangga dan senang dengan apa yang sudah diberikan tim kepada kami," tambah Diego.

Performa Gemilang di Fase Gugur

Senada dengan Diego, suporter lainnya bernama David menilai Lionel Messi dan kawan-kawan telah memperlihatkan performa gemilang sepanjang turnamen. Argentina sempat berada di posisi sulit dan nyaris kalah dalam beberapa pertandingan di fase gugur, namun mental juara membawa mereka hingga ke partai puncak.

"Namun di final, Spanyol bermain lebih baik," aku David. Sebagai penggemar Barcelona, David juga mengaku ikut senang melihat para pemain asal klub Catalan tersebut sukses membawa Spanyol meraih trofi Piala Dunia kedua mereka setelah edisi 2010.

Kekalahan Argentina di New Jersey dipastikan oleh gol tunggal Ferran Torres. Hasil ini membuat Argentina gagal menambah koleksi trofi juara dunia mereka yang sebelumnya diraih pada 1978, 1986, dan 2022.

Masa Depan "El Ultimo Tango" Lionel Messi

Di balik apresiasi tersebut, terselip kekhawatiran mengenai masa depan sang kapten, Lionel Messi. Pada Piala Dunia 2026, Messi mengenakan sepatu khusus bertuliskan "El Ultimo Tango" atau "The Last Dance", yang mengisyaratkan bahwa ini kemungkinan besar menjadi penampilan terakhirnya di panggung dunia.

"Saya pribadi berharap Piala Dunia ini bukan yang terakhir untuk Messi. Dia bisa saja bermain di Piala Dunia berikutnya, setidak-tidaknya sekali lagi," tutur Diego penuh harap.

Sementara itu, Kapten Lionel Messi telah mengungkapkan perasaannya melalui unggahan di Instagram resminya pada Selasa. Ia mengakui kegagalan ini memberikan luka yang mendalam bagi skuad Argentina.

"Rasa sakitnya sangat dalam, butuh waktu untuk menyembuhkan luka ini," tulis Messi. Meski demikian, pemain berusia 39 tahun itu menegaskan bahwa perjalanan di Piala Dunia 2026 akan selalu ia ingat karena kerja keras tim dan dukungan luar biasa dari seluruh rakyat Argentina telah membawa mereka mencapai final dua edisi beruntun.

Dominasi Mutlak di Sepertiga Akhir

Dalam laporan statistik pascapertandingan yang dirilis oleh Opta Analyst, Spanyol menunjukkan kelasnya dalam mendikte permainan melalui efisiensi operan di area berbahaya. Tercatat, La Roja berhasil melepaskan 235 operan sukses di sepertiga akhir lapangan pertandingan. Angka ini menunjukkan betapa intensnya tekanan yang diberikan Spanyol ke jantung pertahanan lawan.

Sebaliknya, Argentina yang berstatus sebagai juara bertahan tampak kesulitan keluar dari tekanan. Skuad Albiceleste tercatat hanya mampu melakukan 47 operan di area pertahanan Spanyol sepanjang laga. Perbedaan mencolok ini menjadi bukti sahih bagaimana lini tengah Spanyol memenangkan pertarungan taktis di lapangan.

Statistik Kunci Final Piala Dunia 2026:

  • Skor Akhir: Spanyol 1-0 Argentina
  • Dominasi Teritorial Spanyol: 83,3%
  • Operan Sukses di Sepertiga Akhir (Spanyol): 235
  • Operan Sukses di Sepertiga Akhir (Argentina): 47

Taktik Penguasaan Bola sebagai Pertahanan

Dominasi teritorial Spanyol yang mencapai angka fantastis 83,3 persen membuat mereka leluasa mengurung pertahanan Argentina sejak peluit pertama dibunyikan. Taktik penguasaan bola yang diterapkan Luis de la Fuente tidak hanya berfungsi untuk menyerang, tetapi juga menjadi fondasi pertahanan terbaik.

Dengan terus memegang bola, Spanyol berhasil membuat lini serang Argentina frustrasi. Bahkan, Lionel Messi dan kawan-kawan tidak mampu melepaskan satu pun tembakan ke arah gawang (shot on target) hingga pertandingan memasuki babak perpanjangan waktu.

Argentina dipaksa bermain pasif dan hanya bertahan di area luar kotak penalti mereka sendiri. Meski mampu menahan gempuran selama 90 menit waktu normal, tembok pertahanan Argentina akhirnya runtuh di babak tambahan, memastikan Spanyol kembali ke puncak dunia setelah penantian panjang sejak 2010. (Ant/I-1)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |