Terlalu Sering Menonton TV Terbukti Berdampak pada Perubahan Struktur Otak

8 hours ago 8
Terlalu Sering Menonton TV Terbukti Berdampak pada Perubahan Struktur Otak Ilustrasi(Magnific)

ANJURAN untuk mengurangi waktu duduk atau tidak terlalu lama berdiam diri sudah menjadi saran kesehatan yang umum. Namun, sebuah studi pencitraan otak berukuran besar menunjukkan imbauan tersebut belum sepenuhnya lengkap. Jenis aktivitas yang dilakukan saat duduk ternyata memegang peranan sangat penting bagi kesehatan otak.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Alzheimer's and Dementia ini melacak sebanyak 1.712 orang dewasa sejak usia paruh baya hingga memasuki usia 70-an. Penelitian ini menggunakan data dari Atherosclerosis Risk in Communities (ARIC), sebuah proyek jangka panjang mengenai kesehatan jantung dan otak di Amerika Serikat. Para peserta mulai bergabung pada usia rata-rata 53 tahun, dan pemindaian otak melalui Magnetic Resonance Imaging (MRI) dilakukan sekitar 23 tahun kemudian.

Hasilnya, orang-orang yang sangat sering menonton televisi saat usia paruh baya mengalami kondisi otak yang lebih buruk beberapa dekade kemudian. Pemindaian MRI menunjukkan penurunan volume pada area otak yang berkaitan dengan memori, logika eksekutif, serta pemrosesan visual, seperti lobus frontal dan oksipital.

Selain penyusutan volume otak, pemindaian tersebut juga menemukan tanda-tanda kerusakan pada pembuluh darah kecil di otak, yang dikenal sebagai white matter hyperintensities. Kondisi ini kerap dikaitkan dengan peningkatan risiko penurunan fungsi kognitif, penyakit demensia, hingga stroke.

Menariknya, dampak negatif ini tidak ditemukan pada orang yang banyak duduk karena tuntutan pekerjaan kantor. Duduk saat bekerja justru tidak menunjukkan hubungan dengan penurunan kondisi kesehatan otak sebagaimana yang dialami penonton TV kelas berat. Perbedaan ini mengindikasikan bahwa jenis aktivitas yang dilakukan saat duduk memberikan efek yang berbeda terhadap jaringan saraf.

"Selama bertahun-tahun kita berfokus pada seberapa lama orang duduk. Temuan kami menunjukkan bahwa kita juga harus memperhatikan apa yang mereka lakukan saat sedang duduk," ujar David Raichlen, profesor ilmu biologi dan antropologi di University of Southern California (USC) yang menjadi salah satu penulis senior studi tersebut.

Ketika data dianalisis berdasarkan jenis kelamin, para peneliti menemukan bahwa sebagian besar perubahan pada struktur otak, baik dampak buruk dari menonton TV maupun efek dari duduk di tempat kerja, lebih banyak terlihat pada pria.

Para peneliti menyarankan agar panduan kesehatan masyarakat tidak hanya menganjurkan orang untuk mengurangi waktu duduk, tetapi juga mendorong masyarakat untuk memilih aktivitas yang lebih menstimulasi otak saat mengisi waktu senggang. (Earth/Z-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |