Tugu Digulis Pontianak: Sejarah dan Makna Monumen Sebelas Digulis

3 days ago 2
 Sejarah dan Makna Monumen Sebelas Digulis Tugu Digulis(Dok.MI)

TUGU Digulis menjadi salah satu landmark yang cukup dikenal masyarakat Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Monumen yang juga disebut Tugu Bambu Runcing, Tugu Perintis, atau Tugu Bundaran Untan ini berada di kawasan Bundaran Universitas Tanjungpura, Jalan Jenderal Ahmad Yani. Keberadaannya tidak hanya menjadi penanda kawasan, tetapi juga memiliki kaitan dengan sejarah perjuangan masyarakat Kalimantan Barat. 

Berdasarkan informasi dari Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Kota Pontianak (DISPORAPAR), Tugu Digulis atau Monumen Sebelas Digulis Kalimantan Barat diresmikan pada 10 November 1987 oleh Gubernur Kalimantan Barat saat itu, H. Soedjiman. Jika dihitung hingga 2026, monumen tersebut telah berdiri selama hampir 39 tahun.

Nama Monumen Sebelas Digulis merujuk pada bentuk awal tugu yang terdiri atas sebelas tonggak menyerupai bambu runcing. Bentuk tersebut kemudian menjadi ciri khas yang membuat masyarakat lebih mudah mengenal monumen ini sebagai Tugu Bambu Runcing. Pada 1995, tugu tersebut tercatat memiliki bentuk sebelas tonggak dengan warna kuning polos.

Lokasi Tugu Digulis juga membuatnya memiliki posisi penting dalam aktivitas masyarakat Pontianak. Monumen ini berada di Bundaran Universitas Tanjungpura, salah satu kawasan yang ramai dilalui masyarakat karena berada di Jalan Jenderal Ahmad Yani.

Selain menjadi landmark, kawasan di sekitar tugu juga berkembang sebagai ruang publik dan bagian dari wajah perkotaan Pontianak.

Dalam perkembangannya, kawasan sekitar Tugu Digulis turut mengalami penataan. Pemerintah Kota Pontianak pada akhir 2020, misalnya, meninjau pekerjaan pembangunan taman dan trotoar di kawasan Jalan Ahmad Yani. Penataan tersebut termasuk kawasan di depan Taman Digulis, dengan pekerjaan yang pada saat itu dilaporkan telah mencapai 100% dan menyisakan proses pembersihan serta finishing.

Kota Pontianak

Penataan kawasan tersebut menunjukkan keberadaan monumen tidak berdiri sendiri. Infrastruktur pendukung seperti trotoar, taman, dan ruang terbuka ikut menentukan bagaimana sebuah landmark dapat dimanfaatkan masyarakat. Dengan kawasan yang semakin tertata, Tugu Digulis dapat tetap menjadi bagian dari ruang publik sekaligus memperkuat identitas visual Kota Pontianak.

Meski demikian, informasi mengenai renovasi fisik Tugu Digulis secara khusus tidak banyak dijelaskan dalam sumber resmi Pemerintah Kota Pontianak yang tersedia.

Karena itu, tidak tepat jika setiap penataan kawasan Taman Digulis disebut sebagai renovasi terhadap struktur monumennya. Data resmi yang tersedia lebih jelas mencatat sejarah peresmian tugu serta pekerjaan penataan kawasan di sekitarnya.

Hampir empat dekade setelah diresmikan, Tugu Digulis tetap menjadi salah satu landmark yang melekat dengan kehidupan masyarakat Pontianak.

Perjalanannya memperlihatkan bagaimana sebuah monumen bersejarah dapat terus hadir di tengah perkembangan kota, sementara kawasan di sekitarnya mengalami penataan mengikuti kebutuhan masyarakat.

Keberadaan Tugu Digulis juga menjadi pengingat bahwa pembangunan sebuah kota bukan hanya mengenai gedung dan jalan baru. Monumen, taman, dan ruang publik yang memiliki nilai sejarah turut menjadi bagian dari identitas kota yang perlu dirawat dan dikenalkan kepada generasi berikutnya. (DISPOPAR PONTIANAK/Z-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |