Berjemur Saja tak Cukup, NIH Ungkap Faktor Penentu Kadar Vitamin D

22 hours ago 11
Berjemur Saja tak Cukup, NIH Ungkap Faktor Penentu Kadar Vitamin D Ilustrasi suplemen vitamin D.(Dok. Magnific)

PAPARAN sinar matahari sering dianggap sebagai cara paling mudah untuk memenuhi kebutuhan vitamin D. Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar karena terdapat berbagai faktor kompleks yang memengaruhi proses produksinya dalam tubuh.

National Institutes of Health (NIH) menjelaskan bahwa tubuh memang dapat memproduksi vitamin D ketika kulit terpapar sinar ultraviolet B (UVB). Namun, jumlah vitamin D yang dihasilkan berbeda pada setiap orang karena dipengaruhi oleh waktu paparan, musim, lama siang hari, tutupan awan, warna kulit, hingga kondisi lingkungan. Artinya, seseorang yang rutin beraktivitas di bawah sinar matahari belum tentu memiliki kadar vitamin D yang optimal.

Kadar Vitamin D tidak Diukur dari Lama Berjemur

NIH menekankan bahwa status vitamin D seseorang tidak dinilai dari seberapa sering atau lama mereka berjemur, melainkan melalui pemeriksaan kadar 25-hidroksivitamin D [25(OH)D] dalam darah. Senyawa ini menjadi indikator kunci untuk mengetahui apakah tubuh memiliki kecukupan vitamin D atau justru mengalami defisiensi.

Vitamin D yang diperoleh dari sinar matahari, makanan, maupun suplemen tidak langsung digunakan oleh tubuh. Nutrisi ini harus diubah terlebih dahulu di organ hati dan ginjal sebelum menjadi bentuk aktif yang fungsional.

Pentingnya Vitamin D bagi Tubuh

Vitamin D memiliki peran krusial dalam membantu penyerapan kalsium dan fosfor di usus. Nutrisi ini sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan, pembentukan, dan pembaruan tulang agar tetap kuat. Kekurangan vitamin D dapat memicu kondisi serius seperti rakitis pada anak-anak dan osteomalasia pada orang dewasa.

Bagi kelompok usia lanjut, kecukupan vitamin D yang dibarengi dengan asupan kalsium sangat penting untuk menjaga kepadatan tulang dan menurunkan risiko osteoporosis. Selain kesehatan tulang, vitamin D juga berperan dalam:

  • Mendukung fungsi otot.
  • Memperkuat sistem kekebalan tubuh.
  • Mengatur proses peradangan.
  • Mendukung proses metabolisme tertentu.

Sumber Makanan dan Risiko Kekurangan

NIH menyebutkan bahwa memperoleh vitamin D yang cukup hanya dari makanan alami tergolong sulit. Hanya sedikit makanan yang mengandung vitamin D secara alami, seperti ikan berlemak, minyak hati ikan, kuning telur, hati sapi, dan keju, itu pun dalam jumlah terbatas. Oleh karena itu, makanan yang difortifikasi dan paparan matahari tetap menjadi sumber pendukung yang penting.

Beberapa kelompok yang memiliki risiko tinggi kekurangan vitamin D antara lain:

  • Orang dengan paparan sinar matahari terbatas.
  • Individu dengan gangguan ginjal yang menghambat konversi vitamin D ke bentuk aktif.
  • Orang dengan gangguan penyerapan pada saluran pencernaan.
  • Individu dengan alergi susu, intoleransi laktosa, atau yang menjalani pola makan vegan dan ovo-vegetarian.

Pertimbangan Suplemen

Dalam kondisi tertentu di mana kebutuhan vitamin D tidak terpenuhi dari makanan dan matahari, penggunaan suplemen vitamin D dapat dipertimbangkan sesuai anjuran tenaga kesehatan. NIH mengingatkan agar orang dewasa tetap memenuhi angka kecukupan gizi yang direkomendasikan.

Khusus bagi lansia, konsultasi dengan dokter sangat disarankan untuk menentukan dosis yang tepat guna menjaga kesehatan tulang dan mencegah risiko cedera. Pada akhirnya, status vitamin D paling akurat dinilai melalui pemeriksaan medis, bukan sekadar dari kebiasaan berjemur semata. (National Institutes of Health/H-3)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |