El Nino makin Menghantui Petani Aceh, Aturan Adat dan Kearifan Lokal Diperketat

1 week ago 31
El Nino makin Menghantui Petani Aceh, Aturan Adat dan Kearifan Lokal Diperketat Muhammad Habibi, pulang sekolah melintasi lahan sawah di kawasan Glee Ceurih, Kecamatan Delima, Kabupaten Pidie, Aceh.(MI/Amiruddin Abdullah Reubee)

FENOMENA alam El Nino makin menghantui petani padi di kawasan Provinsi Aceh. Ribuan hektare (ha) tanaman padi musim gadu (musim tanam kedua) kini dilanda krisis air. 

Di Kabupaten Pidie, misalnya, ratusan hektare tanaman padi berumur dua pekan hingga dua bulan mulai mengalami krisis air. Sumber pengairan seperti Sungai Tiro, Sungai Krueng Baro, dan Sungai Krueng Reubee telah mengalami penyusutan tinggi. 

Ketinggian permukaan air yang sebelumnya separuh sungai, sekarang hanya tinggal sekitar 20%. Karena permukaan rendah, maka air sungai mulai sulit dialiri ke jaringan tersier untuk disebar ke areal persawahan. 

Amatan Media Indonesia, di antara lokasi yang mulai krisis sumber air itu adalah sebagian lahan sawah di Kecamatan Pidie, Kecamatan Indrajaya, Peukan Baro, Padangtiji, dan Kecamatan Delima. Sebagian tanah di sawah yang sedang pertumbuhan itu mulai mengering hingga retakan tanah mulai terlihat dan sebagian lantai sawah lainnya hanya tersisa kelembapan. 

"Ada sebagiannya sudah mengering dan tanahnya mulai pecah-pecah berlubang petir. Kalau tidak segera turun hujan, dikhawatirkan terganggu proses pertumbuhan dan pembentukan bunga padi," tutur Abdullah, petani di Kecamatan Pidie, Rabu (15/7). 

Di kawasan Desa Jurong, Kecamatan Indrajaya, petani mulai menggunakan mesin pompa untuk menghisap air saluran pembuangan. Mereka takut kalau tidak segera menghisap air dengan mesin pompa, debit air yang terus menyusut akan hilang total.

Kondisi hampir sama juga dilakukan petani di Kemukiman Bambi, Kecamtan Peukan Baro. Petani menggunakan mesin pompa air pada beberapa titik saluran yang masih mengalir. 

Adapun pada beberapa lokasi lainnya di Perkampungan Lampoih Saka, Kecamatan Peukan Baro, pengaturan pembagian sumber air jaringan irigasi diperketat. Pada siang hari dialiri untuk lahan sawah di bagian hulu dan ketika malam tiba sampat menjelang pagi hanya bagi petani di kawasan hilir. 

"Kami di bagian hilir saluran tali air hanya boleh berbagi jatah air saat malam tiba hingga pagi. Mereka yang di atas memanfaatkan waktu siang untuk memperoleh air," tutur Tarmizi, petani di Kecamatan Peukan Baro. 

Penelusuran Media Indonesia, aturan adat atau kearifan lokal tersebut diatur oleh kejruen blang (tokoh adat tani). Ini sudah berlangsung turun temurun. 

Siapa saja yang melakukan pelanggaran aturan itu akan dikenai denda atau sanksi sosial. Hal itu dilakukan untuk saling menghargai hak sebagai petani dan memelihara keharmonisan sesama. (MR/E-4)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |