Gianni Infantino Didesak Mundur, European Leagues Soroti Kepemimpinan FIFA

1 hour ago 3
Gianni Infantino Didesak Mundur, European Leagues Soroti Kepemimpinan FIFA Presiden FIFA Gianni Infantino (kanan) dalam suatu kesempatan bersama Presiden Amerika Serikat Donald Trump.(Anna Moneymaker/Getty Images)

PRESIDEN European Leagues, Claudius Schaefer, menilai Gianni Infantino tidak memiliki masa depan sebagai Presiden FIFA. Ia mendesak reformasi di tubuh badan sepak bola dunia tersebut dan menyoroti meningkatnya pengaruh presiden dalam pengambilan keputusan.

Dalam wawancara dengan The Athletic yang dipublikasikan Rabu (26/8), Schaefer mengatakan European Leagues, yang mewakili 53 liga sepak bola profesional putra dan putri, sangat prihatin terhadap kepemimpinan Infantino.

“Kami mempertanyakan kelayakannya untuk terus menjabat sebagai presiden. Di sini, di Swis, kami memiliki pandangan yang dekat terhadap FIFA dan tampaknya pengaruh presiden telah meningkat dari tahun ke tahun,” kata Schaefer.

Ia menilai sejumlah keputusan penting FIFA diambil tanpa konsultasi yang memadai dengan para pemangku kepentingan yang akan terdampak.

“Keputusan-keputusan besar diambil tanpa konsultasi yang berarti dengan para pemangku kepentingan yang akan terkena dampaknya,” ujarnya.

Pernyataan Schaefer muncul di tengah konflik antara sejumlah badan sepak bola terkait usulan FIFA yang kini telah dibatalkan untuk menjual sebagian hak komersial Piala Dunia.

Infantino juga menghadapi tekanan dari tiga konfederasi, yakni UEFA yang menaungi sepak bola Eropa, AFC untuk Asia, serta CONCACAF yang mencakup kawasan Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Karibia.

Sejumlah badan sepak bola regional tersebut bahkan telah membahas kemungkinan menggelar pemungutan suara untuk menyatakan mosi tidak percaya terhadap Infantino.

Integritas FIFA

Kepemimpinan Infantino juga mendapat sorotan terkait sejumlah keputusan yang dinilai berpotensi memengaruhi integritas olahraga.

Salah satunya adalah penghargaan perdamaian FIFA atau FIFA Peace Prize perdana yang diberikan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Desember 2025. Selain itu, FIFA juga disorot setelah larangan terhadap penyerang Amerika Serikat Folarin Balogun dibatalkan selama Piala Dunia tahun ini setelah adanya telepon dari Trump.

Schaefer menilai tindakan tersebut perlu dilihat dari aspek hukum karena FIFA merupakan asosiasi yang tunduk pada hukum Swis.

“FIFA adalah sebuah asosiasi berdasarkan hukum Swis dan dalam asosiasi ini terdapat aturan. Presiden dan anggota dewan harus menjalankan tugas mereka dengan penuh kehati-hatian. Ini adalah persoalan hukum,” kata Schaefer.

Ia mempertanyakan keputusan pemberian penghargaan tersebut yang menurutnya dilakukan tanpa melibatkan Dewan FIFA.

“Jika Anda mengambil keputusan seperti itu (penghargaan perdamaian), bahkan tanpa memberi tahu dewan, menurut pandangan saya, itu merupakan pelanggaran hukum. Kemudian, selama Piala Dunia kita semua tahu soal masalah kartu merah itu,” ujarnya.

Schaefer juga menyebut intervensi politik dalam persoalan olahraga tersebut sebagai hal yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

“Itu benar-benar sebuah skandal. Saya tidak pernah mengingat adanya intervensi politik semacam ini yang berkaitan dengan persoalan olahraga. Tindakan-tindakan seperti itu membuat integritas pertandingan dipertanyakan. Itulah mengapa tidak ada masa depan di FIFA bagi Infantino. Tidak mungkin ada,” kata Schaefer.

Infantino dijadwalkan mencalonkan diri untuk masa jabatan keempat dalam pemilihan Presiden FIFA tahun depan. Ia diperkirakan menghadapi persaingan ketat.

Namun, Schaefer mengatakan persoalan utama bukan sekadar mengganti orang yang memimpin FIFA. Menurut dia, yang lebih penting adalah mendefinisikan kembali kewenangan dan peran Presiden FIFA melalui reformasi kelembagaan.

“Bagi kami, mendapatkan reformasi ini adalah tugas yang paling penting dan itu hanya dapat terjadi dengan presiden lain,” kata Schaefer.

Hingga berita ini ditulis, FIFA belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar yang dikirim melalui surat elektronik. (CNA/B-3)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |