Korban Gempa NTT Capai 105 Orang, 6.094 Pengungsi Mulai Kembali ke Rumah

2 hours ago 5
Korban Gempa NTT Capai 105 Orang, 6.094 Pengungsi Mulai Kembali ke Rumah Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan.(MI/Palce Amalo)

SEPANJANG 12 hari pascagempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), jumlah korban meninggal dunia mencapai 105 orang. Di tengah aktivitas gempa susulan yang masih berlangsung, jumlah pengungsi berkurang 6.094 jiwa karena sebagian warga mulai kembali ke rumah masing-masing.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan, dua korban meninggal dunia kembali tercatat dalam pembaruan data hingga Rabu (26/8). Dengan tambahan tersebut, total korban meninggal dunia mencapai 105 orang.

“Hari ini kami memperoleh data ketambahan 2 orang yang meninggal, sehingga jumlah total yang meninggal menjadi 105, di mana yang meninggal ini pada dasarnya adalah akibat tidak langsung dari gempa bumi, sedangkan 48 adalah akibat langsung dan sisanya akibat tidak langsung,” kata Berton.

Berdasarkan jenis kelamin, korban meninggal terdiri atas 42% laki-laki dan 58% perempuan. Sementara berdasarkan kelompok umur, 45% merupakan lansia, 37% dewasa, 12% anak-anak, sedangkan sisanya balita dan batita. Sedangkan, jumlah korban luka-luka juga bertambah 12 orang menjadi 1.678 orang. Kabupaten Manggarai Timur masih mencatat jumlah korban luka terbanyak, disusul Kabupaten Manggarai.

6.094 Pengungsi Pulang ke Rumah

Sementara itu, jumlah pengungsi berkurang 6.094 jiwa, terutama di Kabupaten Sikka. Meski demikian, pada saat yang sama masih terdapat penambahan pengungsi di sejumlah wilayah.

Berton menjelaskan, angka tersebut merupakan pengurangan bersih jumlah pengungsi. Sebagian warga memilih kembali ke rumah setelah memastikan kondisi bangunan relatif aman dan kuat.

“Jadi ada yang pulang, ada yang datang, tapi berkurang jadinya menjadi 6.094 jiwa. Nah, ini pulang sebenarnya ke rumah dengan kesediaan mereka masing-masing. Mereka tidak dipaksa. Mereka memastikan bahwa rumahnya kuat,” jelas Berton.

Dengan berkurangnya jumlah tersebut, total warga yang masih mengungsi mencapai 179.037 orang. Pengungsi terbanyak berada di Kabupaten Nagekeo, Manggarai, Manggarai Timur, dan Manggarai Barat.

Kepulangan warga dilakukan di tengah gempa susulan yang masih terjadi. Karena itu, Berton mengimbau masyarakat tidak panik dan tetap memperhatikan kondisi keamanan bangunan sebelum kembali ke rumah. “Tidak panik. Ada teman-teman kita yang siap untuk membantu para warga yang terdampak, baik di pengungsian maupun ketika rumah sudah tidak rusak,” ujarnya.

BNPB juga memastikan warga yang kembali ke rumah tetap mendapat dukungan kebutuhan dasar. Mereka tidak dilepas begitu saja setelah meninggalkan lokasi pengungsian.

“Tentu BNPB tidak memulangkan begitu saja. BNPB juga memberikan perlengkapan atau makanan, sehingga pada saat pulang ke rumah, mereka dapat menikmati, tetap menikmati apa yang mereka nikmati di tempat pengungsi,” kata Berton.

7.492 Gempa Susulan 

Di sisi lain, aktivitas kegempaan masih cukup tinggi. Sejak gempa utama pada 15 Agustus 2026 hingga hari ke-12, BNPB mencatat 7.492 kali gempa susulan. Gempa susulan terbesar bermagnitudo 6,2 dan terkecil bermagnitudo 1,0, sementara 143 kejadian dirasakan masyarakat.

Berton mengatakan gempa susulan masih berpotensi berlangsung hingga tiga sampai empat minggu setelah gempa utama. Ia berharap intensitas gempa terus menurun sehingga masyarakat semakin tenang dan aktivitas dapat kembali normal.

“Mengingat besarnya gempa 7,7 ini, gempa susulan ini diperkirakan akan berlangsung sampai 3 sampai 4 minggu sejak gempa pertama kita alami. Semoga nanti gempa-gempa susulan ini semakin kecil, semakin tidak dirasakan, dan warga juga sudah akan mulai merasakan lebih tenang dan tidak menimbulkan kepanikan lagi,” kata Berton. (PO/E-4)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |