Kecanduan Scrolling? Yuk, Rajin Olahraga Bantu Jaga Fungsi Otak

21 hours ago 8
Kecanduan Scrolling? Yuk, Rajin Olahraga Bantu Jaga Fungsi Otak Ilustrasi(Magnific.com)

TREN olahraga di kalangan anak muda dinilai dapat menjadi penyeimbang terhadap gaya hidup yang minim gerak akibat kebiasaan scrolling media sosial yang berkepanjangan. Namun, manfaat olahraga bagi kesehatan otak tidak hanya ditentukan oleh intensitas aktivitas fisik, melainkan juga oleh cara tubuh menjaga aliran darah dan oksigen menuju otak. 

Dosen Fisiologi FK-KKM UGM Dr. dr. Zaenal Muttaqien Sofro, mengatakan persoalan menurunnya fungsi otak bukan terletak pada aktivitas scrolling itu sendiri, melainkan kebiasaan duduk terlalu lama yang menyertainya. “Otak manusia membutuhkan sekitar 20 persen dari seluruh oksigen yang digunakan tubuh. Oleh karena itu, kata kunci pertama untuk menjaga kesehatan otak adalah oksigen,” ujarnya, Kamis (16/7).

Manusia sebagai makhluk bipedal, jelasnya menghadapi tantangan gravitasi yang memengaruhi distribusi darah di dalam tubuh. Ketika seseorang berdiri secara tiba-tiba setelah berbaring, aliran darah menuju otak dapat berkurang hingga sekitar 60 persen sehingga tubuh memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri. 

Ia menyarankan untuk tidak langsung berdiri setelah bangun tidur. Sebaliknya, disarankan memulai dengan berbaring miring selama sekitar 30 detik, dilanjutkan duduk sambil berdoa selama 30 detik, kemudian berdiri perlahan sambil melakukan gerakan jinjit sekitar delapan kali untuk membantu memompa darah kembali ke otak. 

Selain itu, kata Zaenal kebiasaan duduk dalam waktu lama disebut menjadi ancaman serius bagi kesehatan otak. Menurutnya, posisi duduk yang terlalu lama menyebabkan darah lebih banyak berkumpul di bagian bawah tubuh akibat gravitasi sehingga suplai darah ke otak menjadi kurang optimal. “Masalah utamanya bukan semata-mata aktivitas scrolling, tetapi karena posisi duduk yang terlalu lama membuat darah lebih banyak berkumpul di bagian bawah tubuh akibat gravitasi,” jelasnya.

Dokter Zaenal kemudian menyarankan masyarakat membatasi waktu duduk tidak lebih dari satu jam. Setelah itu, seseorang sebaiknya berdiri, berjalan, atau melakukan peregangan ringan selama sekitar dua menit sebelum kembali beraktivitas.

Dari penelitiannya menggunakan orthostatic test, menunjukkan kemampuan tubuh beradaptasi terhadap perubahan posisi sangat dipengaruhi oleh kondisi organ-organ tubuh di bawahnya, terutama jantung, paru-paru, serta sistem sirkulasi darah. “Jika sistem dasar ini bekerja dengan baik, maka fungsi otak juga akan optimal. Sebaliknya, bila dasar ini terganggu, maka otak pun akan mengalami gangguan,” katanya.

Lebih lanjut ia menjelaskan olahraga kini dipandang sebagai bagian dari terapi kesehatan melalui konsep Exercise is Medicine. Seperti halnya obat, olahraga juga harus memiliki jenis, dosis, intensitas, frekuensi, dan durasi yang tepat agar memberikan manfaat optimal. 

“Selain meningkatkan kebugaran, olahraga juga merangsang produksi hormon endorfin yang membantu meningkatkan suasana hati serta mengurangi rasa nyeri,” jelasnya.

Ia mengingatkan tidak semua jenis olahraga memiliki karakteristik yang sama dalam menjaga kesehatan otak. Olahraga kompetitif seperti futsal, tenis, atau bulu tangkis memiliki pola gerak yang berubah-ubah sehingga memerlukan kesiapan fisik yang baik. Ia mencontohkan masih banyak kasus kematian mendadak yang terjadi saat berolahraga akibat ketidakseimbangan kerja sistem tubuh, terutama ketika seseorang berolahraga setelah makan. 

“Apabila pusat yang mengatur sistem pencernaan terlalu dominan, misalnya karena seseorang berolahraga setelah makan, maka jantung bisa menjadi tidak optimal sehingga meningkatkan resiko gangguan jantung bahkan kematian mendadak,” jelasnya. Ia mengingatkan masyarakat untuk menghindari olahraga berat sesaat setelah makan, termasuk aktivitas seperti berenang yang berisiko menimbulkan kram maupun gangguan jantung apabila dilakukan pada waktu yang tidak tepat.

Agar olahraga benar-benar memberikan manfaat bagi kesehatan otak dan tubuh, ia menyebut terdapat tiga prinsip utama yang perlu diperhatikan. Pertama, olahraga harus melibatkan kelompok otot-otot besar, seperti tungkai dan lengan. Kedua, gerakannya bersifat ritmis, misalnya berjalan cepat, jogging, atau bersepeda dengan irama yang stabil. 

Ketiga, aktivitas dilakukan secara kontinu selama sekitar 30–40 menit tanpa sering berhenti atau mengalami perubahan intensitas yang drastis. "Dengan cara seperti itulah olahraga dapat meningkatkan kebugaran tubuh sekaligus membantu menjaga fungsi otak tetap optimal," pungkasnya.(H-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |