Pakar Sebut Isu Bahaya Galon Guna Ulang Polikarbonat tidak Punya Bukti Klinis

1 week ago 26
Pakar Sebut Isu Bahaya Galon Guna Ulang Polikarbonat tidak Punya Bukti Klinis Ilustrasi(MI/HO)

ISU mengenai bahaya kesehatan pada galon guna ulang berbahan polikarbonat (PC) dinilai sengaja dihembuskan tanpa dasar yang kuat. Pakar Kimia dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr. Handajaya Rusli, M.Si., menegaskan bahwa regulasi baru terkait kemasan ini belum mendesak untuk diterapkan. Menurutnya, kekhawatiran masyarakat selama ini baru sebatas potensi teoritis dan belum memiliki bukti klinis yang konkret.

“Itu kan kalau yang diceritakan itu selama ini hanya menyebutkan potensinya bisa meningkat karena ini dan itu. Cuma, itu kan faktor yang dia tahu doang dari orang lain, tapi nggak ada yang pernah bisa buktikan sampai saat ini,” ujar Handajaya.

Ia menjelaskan bahwa pada dasarnya seluruh senyawa kimia pembentuk plastik memiliki sifat beracun. Namun, masyarakat tidak perlu khawatir karena pengawasan ketat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta pengujian mandiri oleh produsen sudah dilakukan secara berlapis sebelum kemasan plastik diizinkan beredar di pasar.

Persaingan Bisnis di Balik Isu BPA

Handajaya mensinyalir bahwa mencuatnya isu bahaya Bisphenol A (BPA) erat kaitannya dengan persaingan bisnis di industri air minum dalam kemasan (AMDK). Hal ini terlihat dari momentum munculnya isu yang berbarengan dengan hadirnya galon alternatif berbahan Polietilena Tereftalat (PET) atau galon sekali pakai.

“Kadang-kadang isunya muncul kalau sudah ada gantinya. Kayak misalkan galon berbahan polikarbonat kan sudah ada gantinya yaitu galon PET. Jadi, seperti persaingan bisnis gitulah,” ucapnya.

Ironisnya, Handajaya justru menyoroti perilaku masyarakat yang sering menggunakan galon sekali pakai secara berulang-ulang. Padahal, tindakan tersebut sangat berbahaya bagi kesehatan. Ia kerap menemukan kemasan galon sekali pakai yang digunakan pedagang hingga warnanya berubah menguning.

Keunggulan Teknis Polikarbonat

Senada dengan hal tersebut, peneliti dari Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan dan SEAFAST Center Institut Pertanian Bogor (IPB), Nugraha Edhi Suyatma, memaparkan keunggulan teknis galon guna ulang berbahan polikarbonat dibandingkan galon sekali pakai (PET). Dari sisi fungsional, polikarbonat jauh lebih fleksibel dan tahan terhadap risiko pecah atau retak.

Salah satu parameter keunggulan utama terletak pada Glass Transition Temperature (Tg) atau suhu transisi gelas. Semakin tinggi nilai Tg, maka kemasan tersebut semakin tahan terhadap suhu tinggi saat proses pencucian atau distribusi.

Parameter Perbandingan Galon Guna Ulang (Polikarbonat) Galon Sekali Pakai (PET)
Suhu Transisi Gelas (Tg) 150 Derajat Celcius 70 Derajat Celcius
Ketahanan Suhu Panas Tinggi (Tahan cuci 60-80°C) Rendah
Sifat Fisik Fleksibel, Tahan Benturan/Gores Lebih Rentan Retak
Absorpsi (Penyerapan) Air Lebih Rendah Lebih Tinggi

“Kondisi ini membuat galon guna ulang tahan untuk dicuci dengan suhu panas antara 60-80 derajat Celcius dengan penyikatan menggunakan sikat plastik tanpa menyebabkan kerusakan pada permukaan kemasan," ungkap Nugraha.

Jaminan Keamanan dari BPOM

Menanggapi polemik ini, Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan bahwa kemasan galon guna ulang yang beredar di masyarakat saat ini sepenuhnya aman untuk digunakan. BPOM terus melakukan pengawasan ketat terhadap standar keamanan kemasan pangan produsen AMDK.

Taruna menekankan bahwa setiap produk yang telah mendapatkan izin edar dari BPOM dipastikan telah memenuhi persyaratan keamanan, termasuk kepatuhan terhadap Standar Nasional Indonesia (SNI). "Ya tentu aman, yang sudah (berizin) Badan POM-nya sudah pasti aman. Karena kan salah satu persyaratan Badan POM mengeluarkan kalau kemasan itu sudah punya SNI. Jadi semua kemasan yang ber-SNI itu aman," pungkasnya. (Z-1)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |