Sejumlah pelajar mengikuti pembinaan di Polsek Sekupang, Batam, setelah terlibat tawuran antarpelajar.(MI/Hendri Kremer)
PERSOALAN sepele berupa aksi saling ejek antarpelajar berujung pada aksi tawuran di wilayah Tiban hingga Bundaran Base Camp, Kota Batam, Kepulauan Riau. Keributan yang terjadi pada Rabu (9/9/2026) malam tersebut menyeret sejumlah pelajar dari berbagai sekolah di wilayah tersebut.
Merespons kejadian itu, Polsek Sekupang bergerak cepat dengan memanggil tujuh siswa yang diduga terlibat ke Mapolsek Sekupang pada Kamis (10/9/2026). Para pelajar tersebut menjalani proses pembinaan dengan didampingi orangtua masing-masing serta perwakilan dari pihak sekolah.
Kapolsek Sekupang, Komisaris Hippal Tua Sirait, menjelaskan bahwa tawuran tersebut tidak dipicu oleh permasalahan besar. Menurutnya, keributan bermula saat sejumlah pelajar saling mengejek ketika berpapasan di jalan.
"Jadi penyebabnya hanya masalah sepele. Biasa anak remaja, jiwanya masih labil," ujar Hippal pada Jumat (11/9/2026).
Ia menambahkan, perselisihan yang awalnya bersifat individu tersebut kemudian melebar setelah masing-masing pihak melibatkan kelompok atau geng sekolah mereka. Para pelajar ini kemudian berkumpul dan membuat janji temu yang akhirnya pecah menjadi aksi tawuran di sejumlah titik, mulai dari kawasan Tiban hingga Bundaran Base Camp.
Kedepankan Pembinaan
Pihak kepolisian memilih untuk mengedepankan langkah pembinaan mengingat para pelaku masih berstatus pelajar dan di bawah umur. Meski demikian, polisi memberikan penegasan keras agar aksi serupa tidak terulang kembali.
"Kami sudah memberikan pengarahan dan meminta kepada orangtua serta anak-anak tersebut untuk membuat surat pernyataan," tegas Kapolsek.
Polisi menilai peran orangtua merupakan kunci utama dalam mencegah terulangnya tawuran. Pengawasan terhadap aktivitas anak, terutama pada malam hari, perlu diperketat. Polsek Sekupang juga mengimbau agar orangtua tidak memberikan fasilitas sepeda motor kepada anak untuk digunakan pada malam hari tanpa pengawasan.
Selain itu, Polsek Sekupang akan memperkuat koordinasi dengan pihak sekolah guna mendeteksi dini potensi gesekan antarpelajar yang dapat memicu kekerasan kolektif.
Berdasarkan data kepolisian, tujuh pelajar yang menjalani pembinaan berasal dari empat sekolah berbeda, yakni:
- Dua siswa SMKN 1 Batam
- Dua siswa SMAN 12 Batam
- Dua siswa SMPN 25 Batam
- Satu siswa SMK Muhammadiyah
Pihak kepolisian berharap pembinaan yang melibatkan unsur keluarga dan sekolah ini menjadi peringatan keras bagi pelajar lain. Aksi yang bermula dari ejekan sepele diingatkan dapat berkembang menjadi kekerasan fisik yang berpotensi menimbulkan korban jiwa. (I-2)















































