Talenta Muda Mulai Garap Peluang Bisnis dari Penerapan AI di Indonesia

4 hours ago 6
Talenta Muda Mulai Garap Peluang Bisnis dari Penerapan AI di Indonesia Ilustrasi(Dok. magnific.com)

PERKEMBANGAN penggunaan artificial intelligence (AI) di dunia kerja membuka peluang baru bagi pengembangan produk dan model bisnis berbasis teknologi di Indonesia. Di tengah tren tersebut, talenta muda dengan pengalaman pendidikan internasional mulai diarahkan untuk mengembangkan penerapan AI yang sesuai dengan kebutuhan pasar domestik.

Pengusaha Indonesia-Australia Wempy Dyocta Koto melibatkan tiga talenta muda lulusan perguruan tinggi di Melbourne, Australia, dalam Wempy Dyocta Koto Artificial Intelligence Team. Cherish Valerie Sukmana, Bernard Choa, dan Darryl Hilmy bergabung sebagai Artificial Intelligence Specialist.

Ketiganya akan terlibat dalam identifikasi dan pengembangan peluang bisnis berbasis AI, mulai dari riset kebutuhan pasar, eksperimen teknologi, pengujian model bisnis, hingga pengembangan produk. Kebutuhan terhadap talenta dan solusi berbasis AI juga sejalan dengan semakin luasnya penggunaan teknologi tersebut di lingkungan kerja. 

Microsoft dan LinkedIn melalui Work Trend Index 2024 mencatat 92% knowledge workers di Indonesia telah menggunakan generative AI dalam pekerjaan. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata global sebesar 75% dan Asia Pasifik sebesar 83%.

Menurut Wempy, perkembangan tersebut menciptakan ruang bagi talenta muda Indonesia untuk membangun keahlian sekaligus mengembangkan produk dan bisnis yang relevan dengan kebutuhan pasar.

"Indonesia mengirim banyak anak muda berbakat untuk mendapatkan pendidikan terbaik di luar negeri. Setelah mereka belajar di Melbourne, Sydney, London, Singapura, Amerika atau tempat lainnya, tantangannya adalah bagaimana pengalaman tersebut dapat digunakan untuk menciptakan nilai ketika mereka kembali ke Indonesia," ujar Wempy.

Mencari peluang penerapan AI
Wempy melihat penerapan AI memiliki ruang pertumbuhan di Indonesia, terutama untuk membantu perusahaan meningkatkan efisiensi, mengembangkan layanan, dan menyelesaikan kebutuhan bisnis.

Menurutnya, peluang ekonomi dari AI tidak selalu harus berasal dari pengembangan teknologi baru. Teknologi yang sudah tersedia secara global dapat diterapkan untuk menjawab persoalan dan kebutuhan yang lebih spesifik di pasar lokal.

"Tidak semua perusahaan harus menjadi sebesar Google untuk mendapatkan manfaat dari internet. Begitu juga dengan AI. Kita perlu melihat teknologi yang sudah tersedia, memahami masalah yang ada di Indonesia, lalu mencari solusi dan model bisnis yang dapat dibangun dari sana," kata Wempy.

Melalui tim tersebut, Bernard, Cherish, dan Darryl akan mengeksplorasi berbagai kemungkinan penggunaan AI sekaligus menilai kelayakannya dari sisi teknologi, kebutuhan pengguna, dan potensi komersial.

Komposisi tim tersebut menggabungkan latar belakang teknologi, komunikasi, dan analisis. Cherish Valerie Sukmana merupakan lulusan Monash University, Melbourne, dengan pengalaman di bidang komunikasi, media digital, strategi konten, multimedia, manajemen proyek, dan pengembangan audiens.

Perspektif tersebut akan digunakan dalam memahami kebutuhan pengguna, komunikasi produk, serta bagaimana solusi berbasis AI dapat diterima dan digunakan oleh target pasar.

Bernard Choa merupakan lulusan RMIT University, Melbourne, dan Binus International. Ia memiliki latar belakang software engineering, cloud computing, cybersecurity, automation, serta penerapan AI. Dalam tim, Bernard akan berfokus pada aspek teknis dan pengembangan solusi yang dapat diimplementasikan serta dikembangkan dalam skala lebih besar.

Sementara itu, Darryl Hilmy menempuh pendidikan melalui program double degree Computer Science dan Information Technology di RMIT University, Melbourne, dan Binus University. Ia memiliki dasar dalam software development, information systems, dan teknologi digital, serta pengalaman di sektor jaminan sosial pemerintah Indonesia dan layanan keuangan. Darryl akan berfokus pada kemampuan analisis dan komunikasi dalam pengembangan produk.

Menurut Wempy, kombinasi kemampuan tersebut diperlukan karena pengembangan produk berbasis AI tidak hanya berkaitan dengan aspek teknologi, tetapi juga pemahaman terhadap kebutuhan pengguna dan kondisi pasar.

Menghubungkan pengalaman internasional dengan pasar lokal
Keterlibatan ketiga talenta tersebut juga menjadi bagian dari upaya menghubungkan pengalaman pendidikan internasional dengan peluang pengembangan bisnis di Indonesia.

Ketiganya menempuh pendidikan tinggi di Melbourne sebelum melanjutkan perjalanan profesional dengan fokus pada penerapan AI di Indonesia.

"Bagi saya, pendidikan internasional mereka bukan sekadar nama universitas di CV. Mereka telah belajar dalam lingkungan yang berbeda dan melihat standar profesional dari perspektif global. Sekarang kami ingin melihat bagaimana pengalaman tersebut dapat diterapkan dalam konteks Indonesia," ujar Wempy.

Ke depan, Wempy Dyocta Koto Artificial Intelligence Team akan berfokus pada identifikasi masalah yang dapat diselesaikan melalui AI serta pengembangan solusi yang dapat memenuhi kebutuhan pasar dan memiliki potensi komersial.

Bagi Bernard, Cherish, dan Darryl, peran tersebut menjadi titik awal untuk menerapkan kemampuan yang diperoleh selama pendidikan ke dalam pengembangan produk dan bisnis berbasis AI di Indonesia. (E-1)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |