Hussam Abu Safiya.(Al Jazeera)
PARA editor di The New York Times dan produser di CNN kini berada dalam posisi sulit terkait pemberitaan Dr. Hussam Abu Safiya. Dokter asal Gaza sekaligus direktur rumah sakit tersebut telah ditahan oleh Israel selama satu setengah tahun tanpa pengadilan.
Kini Abu Safiya melaporkan bahwa nyawanya terancam di dalam penjara. Kampanye global yang digalang oleh Amnesty International dan kelompok hak asasi manusia lain mendesak pembebasan Abu Safiya.
Liputan media internasional pun cukup signifikan. Surat kabar Inggris, The Guardian, melaporkan pada 6 Juli dengan tajuk yang menggambarkan kondisi Abu Safiya yang hampir tidak dikenali akibat cedera di penjara Israel.
Bahkan, media Israel seperti Haaretz dan Times of Israel turut memberitakan kasus ini, termasuk meliput demonstrasi di Tel Aviv yang menuntut perhatian atas nasibnya.
Pemblokiran Informasi di Media Amerika Serikat
Berbanding terbalik dengan liputan global, media arus utama di Amerika Serikat justru terkesan melakukan pengabaian total terhadap kasus ini. Hingga 7 Juli, The New York Times tercatat tidak menyebutkan namanya satu kali pun sejak Januari 2025.
The Washington Post memang sempat memuat laporan dari Associated Press. Namun berita tersebut tidak mendapat tempat di halaman utama dan sulit ditemukan tanpa pencarian mendalam. Sementara itu, The Wall Street Journal dan jaringan kabel seperti MS Now sama sekali tidak memberikan ruang bagi kisah ini.
Abu Safiya, seorang dokter spesialis anak yang menjabat sebagai administrator Rumah Sakit Kamal Adwan di Gaza, menyerahkan diri kepada tentara Israel pada 27 Desember 2024. Foto ikoniknya yang mengenakan jas putih dokter saat berjalan melewati reruntuhan menuju tank Israel sempat viral di media alternatif, tetapi tidak pernah muncul di media besar AS.
Saat ini, Abu Safiya ditahan di Penjara Rekefet. Melalui pengacara dan putranya, ia menyampaikan pesan yang menggetarkan, "Mereka membawa saya ke sini untuk membunuh saya. Saya tidak melihat diri saya akan selamat. Ini adalah akhir."
Konteks Penahanan Administratif
Israel sering menggunakan istilah penahanan administratif untuk menahan warga Palestina tanpa proses pengadilan. Amnesty International memperkirakan bahwa pada akhir 2025, terdapat sekitar 4.622 warga Palestina dari Gaza dan Tepi Barat yang ditahan dalam status ini.
Tudingan Sensor Pro-Israel
Meskipun pihak Israel memberikan insinuasi bahwa Abu Safiya terkait dengan Hamas, hingga saat ini tidak ada dakwaan resmi yang dijatuhkan kepadanya. Pengamat media menilai bahwa penyembunyian kisah Abu Safiya oleh media AS merupakan bentuk sensor pro-Israel yang sistematis.
Ironinya, media Israel sendiri justru lebih vokal. Haaretz bahkan menerbitkan editorial yang mendesak pemerintah Netanyahu untuk menghentikan penyiksaan, kelaparan, dan penahanan tanpa dasar hukum terhadap Abu Safiya dan tahanan lain.
Sikap diamnya media besar AS seperti CNN dan NYT di tengah bukti-bukti pelanggaran kemanusiaan ini memicu tanda tanya besar mengenai integritas jurnalistik mereka dalam meliput isu Palestina.
Organisasi hak asasi manusia Israel, B'Tselem, terus memantau kondisi penahanan ini meskipun pemerintah Israel tidak lagi memberikan data resmi kepada mereka. Kasus Abu Safiya kini menjadi simbol dari ribuan warga Palestina yang terjebak dalam sistem hukum tanpa kepastian di bawah otoritas Israel. (Mondoweiss/Z Network/I-2)


















































