Dari Ruang Belajar ke Ekosistem Bisnis, Solopreneur Kini Dibidik untuk Naik Kelas

3 hours ago 4
Dari Ruang Belajar ke Ekosistem Bisnis, Solopreneur Kini Dibidik untuk Naik Kelas Ilustrasi(Dok Bank Saqu)

KEBUTUHAN solopreneur dalam mengembangkan bisnis kini tidak lagi sebatas pengetahuan dan kemampuan mengelola usaha. Akses terhadap jaringan, peluang pasar, kolaborasi, hingga dukungan finansial menjadi bagian penting dalam perjalanan bisnis mereka.

Kondisi tersebut mendorong Bank Saqu, layanan perbankan digital milik Astra Financial dan WeLab, memperluas program pendampingan solopreneur melalui Solopreneur Society: The Founders Club.

Program ini merupakan pengembangan dari Bank Saqu Solopreneur Academy yang telah melibatkan lebih dari 1.000 solopreneur dari berbagai industri sejak 2024. Jika sebelumnya berfokus pada pembelajaran dan penguatan fundamental bisnis, program tersebut kini dikembangkan menjadi growth ecosystem yang mempertemukan para founder dengan pengetahuan, jaringan bisnis, peluang kolaborasi, serta solusi finansial.

Kebutuhan terhadap ekosistem pendukung juga tercermin dalam laporan Striving to Thrive: The State of Indonesian Micro and Small Enterprises 2024/25. Laporan tersebut menunjukkan lebih dari 50% usaha mikro dan kecil yang memperoleh satu atau lebih bentuk dukungan bisnis dalam 12 bulan terakhir melaporkan peningkatan pendapatan. 

Angka itu lebih tinggi dibandingkan 37% usaha yang tidak memperoleh dukungan. Dukungan yang dimaksud antara lain pendampingan, pelatihan finansial, pemasaran digital, hingga peer networking. Temuan ini memperlihatkan bahwa akses terhadap ekosistem dapat membantu pelaku usaha meningkatkan kapasitas sekaligus membuka peluang pertumbuhan.

Perkembangan tersebut juga tercermin dalam perjalanan program solopreneur Bank Saqu. Pada 2024, Solopreneur Academy menjadi ruang bagi solopreneur yang baru merintis untuk belajar, berbagi pengalaman, dan memperkuat fondasi bisnis. Program kemudian berkembang pada 2025 dengan mempertemukan lebih banyak solopreneur dari berbagai industri untuk memperluas pengetahuan dan jaringan.

Relationship Banking Director Bank Saqu Hendrik Komandangi mengatakan kebutuhan solopreneur ikut berkembang seiring dengan pertumbuhan bisnis yang mereka jalankan.

“Dalam dua tahun terakhir, kami melihat perjalanan para solopreneur terus berkembang. Seiring bisnis bertumbuh, kebutuhan mereka pun semakin luas. Selain pengetahuan dan pondasi bisnis yang kuat, mereka membutuhkan akses terhadap jaringan, peluang pasar, dan dukungan finansial yang sesuai dengan tahapan bisnisnya,” kata Hendrik.

Karena itu, melalui Solopreneur Society: The Founders Club, Bank Saqu memperluas dukungan agar para founder memiliki akses yang dapat membantu membawa bisnis ke tahap berikutnya.

Program tersebut mempertemukan berbagai pihak dalam ekosistem bisnis, mulai dari sesama founder, pemilik brand, supplier, strategic partner, hingga ecosystem buyer. Pendekatan ini membuat program tidak hanya menjadi ruang memperoleh pengetahuan, tetapi juga menjadi sarana membuka koneksi dan peluang pertumbuhan bisnis.

Pada penyelenggaraan tahun ini, Bank Saqu berkolaborasi dengan IDN untuk memperkuat ekosistem Solopreneur Society: The Founders Club. Kolaborasi tersebut memberikan ruang lebih luas bagi founder untuk memperoleh perspektif baru, memperluas jaringan, sekaligus bertemu dengan berbagai pelaku dalam ekosistem bisnis.

Co-Founder & COO of IDN William Utomo mengatakan pertumbuhan bisnis membutuhkan lebih dari sekadar pengetahuan.

“Kami melihat bahwa pertumbuhan bisnis tidak hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga ekosistem yang dapat membuka akses terhadap koneksi dan peluang yang relevan,” ujar William.

Fokus pada Matchmaking

Salah satu perubahan utama dalam Solopreneur Society: The Founders Club 2026 adalah hadirnya industry insights, networking, dan business matchmaking yang terkurasi.

Para founder akan memperoleh perspektif langsung dari praktisi dan ahli mengenai tantangan serta peluang di empat kategori bisnis, yakni coffeepreneur, food & beverage (F&B), MICE, dan artificial intelligence (AI).

Sesi tersebut dirancang untuk memberikan wawasan yang relevan dan dapat diterapkan sesuai dengan karakteristik serta kebutuhan masing-masing industri.

Pengetahuan yang diperoleh kemudian dilanjutkan dengan business matchmaking. Melalui skema ini, founder dipertemukan dengan pelaku bisnis yang relevan berdasarkan kebutuhan dan potensi masing-masing usaha.

Dengan pendekatan tersebut, pertemuan tidak berhenti pada pertukaran pengetahuan dan jaringan, tetapi diarahkan pada penjajakan kerja sama, akses pasar, maupun peluang bisnis baru.

Selain koneksi dan peluang bisnis, ekosistem yang dibangun Bank Saqu juga mencakup dukungan finansial. Bank Saqu menyediakan solusi untuk kebutuhan nasabah mulai dari pengelolaan keuangan hingga fasilitas kredit bagi nasabah yang memenuhi kriteria.

Salah satunya melalui Saku Kredit dengan limit hingga Rp30 juta yang dapat digunakan secara fleksibel untuk berbagai kebutuhan. Untuk pelaku usaha yang ingin mengembangkan bisnis, tersedia pula Kredit Modal Kerja guna mendukung kebutuhan modal dan aktivitas operasional.

Pendekatan berbasis ekosistem ini turut diperkuat melalui keterlibatan pelaku industri. Salah satunya Otten Coffee yang telah membangun ekosistem bagi para coffeepreneurs.

Tahun ini, Bank Saqu dan Otten Coffee menjalin strategic partnership dengan visi yang sama untuk mendukung perkembangan pelaku usaha di industri kopi.

Kolaborasi tersebut mempertemukan ekosistem dan pemahaman industri Otten Coffee dengan akses terhadap layanan finansial Bank Saqu. Dengan demikian, pelaku usaha dalam ekosistem Otten Coffee dapat memperoleh dukungan yang lebih relevan dalam menjalankan sekaligus mengembangkan bisnis.

CEO Otten Coffee Jhoni Kusno mengatakan Otten Coffee membangun ekosistem yang mendukung coffeepreneurs melalui produk, pengetahuan, dan komunitas.

“Melalui kolaborasi ini, kekuatan ekosistem Otten Coffee dipertemukan dengan akses terhadap solusi finansial Bank Saqu, sehingga coffeepreneurs memiliki dukungan yang semakin relevan dalam perjalanan mengembangkan bisnis mereka,” kata Jhoni.

Melalui Solopreneur Society: The Founders Club, Bank Saqu memperluas pendekatan pendampingan solopreneur dari pembelajaran menuju ekosistem yang menghubungkan pengetahuan, jaringan bisnis, peluang, dan akses finansial. Inisiatif tersebut menjadi kelanjutan dukungan Bank Saqu bagi solopreneur di berbagai tahap perjalanan bisnis, mulai dari merintis hingga mengembangkan usaha. (E-4)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |