Menteri Israel Upayakan Pencabutan Kewarganegaraan Sutradara Dokumenter NAZA

4 hours ago 3
Menteri Israel Upayakan Pencabutan Kewarganegaraan Sutradara Dokumenter NAZA Yuval Abraham dan Rachel Szor.(Al Jazeera)

MENTERI Kebudayaan dan Olahraga Israel, Miki Zohar, menyatakan akan mengambil tindakan tegas untuk mencabut kewarganegaraan dua pembuat film dokumenter NAZA. Langkah ini diambil setelah karya tersebut memenangkan Special Jury Prize di Festival Film Internasional Venesia pada akhir pekan lalu.

Dokumenter garapan sutradara Israel, Yuval Abraham dan Rachel Szor, tersebut menampilkan wawancara dengan 24 orang yang diidentifikasi sebagai pembocor (whistleblowers) dari militer dan intelijen Israel. Mereka memaparkan dugaan penggunaan sistem penargetan berbasis kecerdasan buatan (AI) di Jalur Gaza, yang diklaim digunakan untuk membunuh warga sipil Palestina.

Miki Zohar menyebut kemenangan dokumenter tersebut di festival film sebagai hal yang mengejutkan dan menuduh para penciptanya melakukan pengkhianatan terhadap negara.

"Kebencian diri yang membara dalam diri para pencipta ini, sehingga rela merugikan tanah air mereka hanya demi mendapatkan tepuk tangan dari kaum anti-Semit di seluruh dunia, sungguh tidak terbayangkan," ujar Zohar dalam unggahan di media sosial pada Minggu (13/9/2026). Ia menambahkan akan segera bertindak untuk mencabut kewarganegaraan Israel kedua sineas tersebut.

Berdasarkan hukum nasional Israel, pencabutan kewarganegaraan memang dimungkinkan, tetapi prosedurnya cukup kompleks. Menteri Dalam Negeri harus mengajukan permintaan pencabutan, yang kemudian harus disetujui oleh Menteri Kehakiman sebelum akhirnya divalidasi oleh hakim di pengadilan.

Pada Senin (14/9/2026), Zohar mengonfirmasi bahwa dirinya menghubungi Direktur Jenderal Otoritas Kependudukan dan Direktur Jenderal Kementerian Dalam Negeri. Tujuannya memeriksa kemungkinan penolakan kewarganegaraan bagi Abraham dan Szor atas dasar pelanggaran kepercayaan terhadap negara dan kerja sama dengan musuh.

Zohar juga mendesak pemeriksaan terhadap bagaimana materi film tersebut diperoleh, siapa pihak di baliknya, serta apakah publikasi tersebut dapat membantu musuh di masa perang.

Selain Zohar, Menteri Keamanan Nasional sayap kanan, Itamar Ben-Gvir, turut melontarkan kritik tajam. "Anda adalah aib dan memalukan bagi seluruh rakyat Israel. Pergilah! Saya yakin teman-teman Anda, yaitu musuh kita Hamas di Gaza, akan menyambut Anda dengan tangan terbuka," tulis Ben-Gvir di platform X.

Menanggapi kontroversi ini, Yuval Abraham menyatakan di hadapan penonton festival Venesia bahwa petugas intelijen Israel yang diwawancarai mengungkap bahwa pembunuhan massal di Gaza bersifat sistemik. "Bukan karena kecelakaan, melainkan karena desain. Tindakan pembunuhan dan kebijakan yang didasarkan pada dehumanisasi total terhadap warga Palestina," tegasnya.

Di sisi lain, militer Israel (IDF) mengkritik penggunaan sumber anonim dalam dokumenter berdurasi 80 menit tersebut. IDF menyatakan bahwa identitas para pembocor tidak dapat diverifikasi dan berulang kali membantah penargetan sengaja terhadap warga sipil di wilayah Palestina.

Yuval Abraham dan Rachel Szor sebelumnya dikenal lewat film No Other Land yang memenangkan Oscar pada 2025. Karya ini menyoroti kekerasan pemukim Israel di Tepi Barat yang diduduki. (CBS/I-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |