ilustrasi(Antara)
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet memberikan peringatan terkait profil utang luar negeri (ULN) Indonesia. Meski rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih tergolong stabil, terdapat peningkatan risiko pada jatuh tempo utang jangka pendek yang perlu diwaspadai.
Berdasarkan data Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) edisi Agustus 2026, total ULN Indonesia pada triwulan II 2026 mencapai 453,4 miliar dolar AS, atau tumbuh 4,4 persen secara tahunan (yoy). Dari jumlah tersebut, posisi ULN dengan jangka waktu sisa kurang dari atau sama dengan satu tahun telah menyentuh angka 105,95 miliar dolar AS pada Juni 2026.
Peningkatan Rasio terhadap Cadangan Devisa
Yusuf menyoroti kenaikan signifikan pada rasio ULN jangka pendek berdasarkan jangka waktu sisa terhadap cadangan devisa. Angka ini melonjak dari 55,57 persen pada triwulan II 2025 menjadi 72,77 persen pada triwulan II 2026.
“Stabilnya rasio terhadap PDB jangan sampai membuat kita mengabaikan risiko jatuh tempo yang semakin pendek,” ujar Yusuf di Jakarta, Senin (14/9).
Kenaikan rasio ini mengindikasikan bahwa kewajiban valuta asing (valas) yang akan jatuh tempo dalam 12 bulan ke depan meningkat relatif terhadap bantalan devisa negara. Namun, Yusuf menekankan bahwa angka 72,77 persen ini secara praktis masih berada di bawah ambang batas 100 persen yang merujuk pada pendekatan Guidotti-Greenspan, sehingga belum menunjukkan tanda-tanda krisis.
Tabel: Indikator Utang Luar Negeri Indonesia (Triwulan II 2026)
| Total ULN Indonesia | 453,4 Miliar Dolar AS |
| Pertumbuhan ULN (yoy) | 4,4% |
| Rasio ULN terhadap PDB | 30,63% |
| ULN Jangka Pendek vs Cadangan Devisa | 72,77% |
| Posisi ULN Jangka Pendek (Juni 2026) | 105,95 Miliar Dolar AS |
Risiko Refinancing dan Tekanan Kurs
Meskipun cadangan devisa per Agustus 2026 sebesar 146,5 miliar dolar AS masih cukup kuat untuk membiayai lebih dari lima bulan impor, Yusuf mengingatkan adanya perubahan tingkat sensitivitas ekonomi terhadap sentimen global.
Menurutnya, jika sentimen global memburuk, Indonesia berisiko menghadapi tekanan pada nilai tukar Rupiah, arus modal keluar, dan kebutuhan rollover (pembiayaan kembali) utang jangka pendek secara bersamaan. "Risikonya lebih pada tekanan kurs dan biaya refinancing daripada solvabilitas pemerintah," jelasnya.
Ke depan, pergerakan rasio utang jangka pendek ini akan sangat bergantung pada beberapa faktor kunci, antara lain:
- Perkembangan arus modal dan neraca perdagangan.
- Harga minyak dunia (harga tinggi dapat memperlebar defisit transaksi berjalan).
- Kebijakan tenor pembiayaan (penggunaan tenor panjang dapat menurunkan rasio).
- Kebutuhan cadangan devisa untuk stabilisasi Rupiah.
Yusuf memproyeksikan rasio ULN terhadap PDB hingga akhir 2026 akan tetap terjaga di kisaran 30 hingga 32 persen, dengan catatan pertumbuhan ekonomi tetap positif dan sektor swasta tidak agresif menambah utang valas baru. Ia menyarankan otoritas terkait untuk terus memantau komposisi mata uang dan kepemilikan asing pada instrumen jangka pendek guna memitigasi risiko eksternal.

















































