(The Washington Post)
SUTRADARA dokumenter ternama, Alex Gibney, kembali dengan karya ambisius berjudul Musk. Film berdurasi tiga jam 45 menit ini menawarkan penyelaman mendalam ke dalam kehidupan orang terkaya di dunia, Elon Musk, yang digambarkan sebagai sosok yang memikat sekaligus mengerikan.
Gibney, yang sebelumnya sukses mengupas skandal Enron dan Elizabeth Holmes, kini mengarahkan kameranya kepada Musk. Dokumenter ini merentang dari masa awal Musk di Silicon Valley, akuisisi Twitter, keterlibatannya dalam Department of Government Efficiency (DOGE), hingga statusnya sebagai calon triliuner pertama di dunia.
Elon Musk: Sang Confidence Man Modern?
Dalam konferensi pers di Festival Film Venesia, Gibney menyatakan bahwa kisah Musk bukanlah sekadar cerita teknologi baru, melainkan 'anggur lama dalam botol baru'. Ia menyamakan Musk dengan sosok confidence man atau pemompa saham, karena kekayaan dan kekuasaannya berasal dari nilai saham yang digelembungkan.
Musk sendiri telah bereaksi keras terhadap film ini. Melalui akun X miliknya, ia menyebut Gibney sebagai sosok yang tidak memiliki integritas. Bahkan, pengacara Musk, Alex Spiro, dilaporkan telah mengirimkan surat ancaman gugatan pencemaran nama baik terkait beberapa klaim dalam film tersebut.
Penggunaan AI dan Motif Video Game
Karena Musk menolak untuk diwawancarai, Gibney menggunakan pendekatan kreatif yang unik. Ia memanfaatkan minat Musk pada teori simulasi dengan memberi makan AI seluruh pernyataan publik Musk. Hasilnya ialah avatar digital Musk yang berbicara menggunakan kata-kata aslinya sendiri.
Film ini juga menggunakan motif video game secara konsisten. Misalnya, saat menggambarkan pemotongan besar-besaran di pemerintahan federal melalui DOGE, visual film berubah menjadi permainan first-person shooter saat Musk memegang gergaji mesin animasi.
Sisi Kelam Kehidupan Pribadi dan Pronatalisme
Bagian paling emosional dari dokumenter ini melibatkan wawancara dengan mantan pasangan Musk. Justine Musk, istri pertamanya, menceritakan pengalaman gaslighting dan upaya kontrol Musk yang ekstrem selama pernikahan mereka.
Ashley St. Clair, mantan kekasih lain, mengungkap ambisi pronatalis Musk untuk memiliki sebanyak mungkin anak. Film ini menyebutkan bahwa Musk memiliki setidaknya 14 anak yang diketahui dengan keyakinan bahwa ia memiliki gen unggul yang harus disebarluaskan.
Sorotan Utama Dokumenter Musk:
- Tesla & Autopilot: Mengungkap ketidaksesuaian antara klaim kemampuan self-driving dengan realitas teknis, termasuk rekaman kecelakaan fatal yang diduga disebabkan oleh sistem tersebut.
- Pergeseran Politik: Menganalisis perubahan sikap Musk dari moderat menjadi pendukung kuat Donald Trump, yang menurut film tersebut dilakukan untuk menghindari penyelidikan pemerintah terhadap perusahaannya.
- Kekuatan Global: Menyoroti pengaruh Starlink, SpaceX, dan X (Twitter) yang dianggap Gibney sangat berbahaya bagi demokrasi dunia.
Kesimpulan tanpa Akhir
Gibney tidak memberikan kesimpulan akhir yang pasti, melainkan membiarkan penonton menilai sendiri sosok mitologis ini. Namun, pernyataan penutup dari Ashley St. Clair memberikan gambaran yang tajam, "Elon adalah suatu nuklir."
Film Musk dijadwalkan tayang di bioskop pada 16 Oktober mendatang, setelah diputar secara terbatas di Toronto International Film Festival. (The Washington Post/I-2)

















































