'Bangun Indonesia: Bandung Chapter' di ITB, Rabu (9/9/2026)(istimewa)
SEKTOR konstruksi nasional dihadapkan pada tantangan besar untuk menekan jejak karbon di tengah laju pertumbuhan pembangunan yang terus meningkat. Pendekatan bangunan rendah karbon dinilai tidak lagi cukup berfokus pada pemilihan produk semata, melainkan menuntut integrasi menyeluruh dengan desain, standar kebijakan, metode konstruksi, hingga kesiapan industri.
Kebutuhan lintas sektor tersebut mengemuka dalam forum “Bangun Indonesia: Bandung Chapter” yang menjadi bagian dari rangkaian Indonesia Green Building Festival (IGBF) 2026. Acara ini dihelat di Aula Timur Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Rabu (9/9).
Mengangkat tema “Integrasi Desain, Performa, dan Inovasi Material Hijau pada Bangunan Rendah Karbon”, kegiatan ini diselenggarakan melalui kolaborasi GBCI dengan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG).
Bandung Chapter mempertemukan pemerintah, akademisi, praktisi, perancang kota, dan industri untuk membahas bagaimana berbagai elemen dalam ekosistem pembangunan dapat bergerak bersama menuju lingkungan binaan yang lebih rendah karbon.
Melalui forum ini, GBCI ingin membawa pembahasan bangunan rendah karbon lebih dekat pada kebutuhan dan keputusan nyata di sektor konstruksi, sekaligus membuka ruang pertukaran pengetahuan antara pihak-pihak yang memiliki peran berbeda dalam proses pembangunan.
“Ketika kebutuhan pembangunan terus bertumbuh, kita perlu memastikan bahwa pertumbuhan tersebut juga diiringi dengan upaya mengurangi dampak lingkungan. Inovasi material menjadi salah satu bagian penting karena pilihan material berhubungan dengan jejak karbon dan performa bangunan. Namun, material tidak dapat berdiri sendiri. Kita membutuhkan keterhubungan antara kebijakan, desain, performa, rancang kawasan, kebutuhan pasar, dan kesiapan industri,” ujar Ir. Ignesjz Kemalawarta, MBA., GP., Chairperson Green Building Council Indonesia (GBCI).
Menurut Ignesjz, keterhubungan tersebut membutuhkan ruang kolaborasi yang memungkinkan berbagai pihak memahami tantangan dan peluang dari perspektif yang berbeda. Dalam konteks inilah GBCI menjalankan perannya sebagai organisasi profesional independen dan nirlaba yang mendorong penerapan praktik pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
“Peran GBCI adalah mempertemukan pengetahuan, standar, praktik, dan berbagai pemangku kepentingan agar agenda bangunan hijau dapat diterapkan secara nyata. Transformasi tidak hanya membutuhkan teknologi atau produk baru, tetapi juga peningkatan kapasitas, pemahaman yang sama, dan kolaborasi lintas sektor,” lanjut Ignesjz.
Direktur Utama Solusi Bangun Indonesia, Rizki Kresno Edhie Hambali menyampaikan bahwa sebagai Corporate Founder GBCI, Solusi Bangun Indonesia terus memperkuat komitmen untuk memimpin green movement dari sisi industri, untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang membutuhkan kolaborasi dari seluruh pemangku kepentingan dalam ekosistem konstruksi.
“Bagi Solusi Bangun Indonesia, prinsip keberlanjutan tidak hanya menjadi tujuan perusahaan, tetapi juga menjadi salah satu fondasi utama dalam menjalankan bisnis dan operasi untuk menghadirkan produk dan solusi yang mampu menjawab kebutuhan pembangunan saat ini dan masa depan. Tentunya upaya ini perlu didorong secara menyeluruh, mulai dari desain, pemilihan material, proses konstruksi hingga operasional bangunan, sehingga kebutuhan pembangunan dapat terus terpenuhi dengan jejak karbon yang semakin rendah,” ujar Rizki.
Pembahasan ini menunjukkan bahwa arah menuju bangunan rendah karbon semakin dipengaruhi oleh berbagai pertimbangan sekaligus. Kebijakan dapat menciptakan arah dan standar, kebutuhan proyek menentukan skala serta tantangan penerapan, sementara pasar semakin mempertimbangkan kualitas dan performa bangunan dalam pengambilan keputusan investasi maupun penggunaan ruang.
Di tengah rangkaian kegiatan, GBCI juga memperingati 17 tahun perjalanan organisasi dalam mendorong praktik pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
Didirikan pada 2009 sebagai organisasi profesional independen dan nirlaba, GBCI terus berkontribusi dalam pengembangan ekosistem bangunan hijau melalui pengetahuan, pengembangan kapasitas, standar dan sertifikasi, serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.
Perayaan ini menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan tersebut sekaligus memperkuat komitmen GBCI dalam menjadikan bangunan hijau semakin relevan dan dapat diterapkan oleh lebih banyak pihak di Indonesia.
Melalui Indonesia Green Building Festival 2026, GBCI membawa semangat “Bangun Indonesia” sebagai ajakan untuk memperluas keterlibatan dalam pembangunan berkelanjutan. Bandung Chapter menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan pengetahuan, pengalaman, inovasi, dan kebutuhan nyata dari berbagai sektor.
(P-4)

















































