Presiden Prabowo Subianto saat menghadiri sesi terbatas bertema “Inclusive Global Governance and Strengthening Multilateralism” pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2026 di Bharat Mandapam, New Delhi, India, Sabtu (12/9/2026)(Dok BPMI Sekretariat Presiden)
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal menilai besarnya nilai perdagangan antaranggota BRICS tetap sulit menjadi daya tawar Indonesia untuk menghadapi tekanan tarif Amerika Serikat. Faisal menyebut selama ini AS menunjukkan sikap tidak peduli terhadap apa yang menjadi concern daripada negara-negara mitranya.
"Kalau daya tawar dalam konteks untuk bernegosiasi dengan Amerika terutama pemerintahan Trump, menurut saya mungkin tetap susah. Karena mereka kan tidak peduli sebetulnya dan agak ignorant terhadap apa yang menjadi concern daripada negara-negara mitra mereka dan apa yang sedang terjadi di dinamika global dan dampaknya terhadap negara-negara lain," ujar Faisal saat dihubungi, Senin (14/9).
Artinya, katanya, perlu lebih daripada sekadar besarnya nilai perdagangan untuk memperkuat daya tawar Indonesia terhadap tarif Amerika.
Namun bagi Indonesia sendiri, lanjut Faisal, di luar negosiasi dengan Amerika, kekuatan perdagangan di BRICS ini bisa menjadi salah satu alternatif Indonesia untuk menyikapi dinamika kondisi ekonomi global, termasuk perdagangan.
"Artinya kita punya alternatif sebetulnya untuk kemudian memperkuat kerja sama dengan BRICS di tengah disrupsi yang berepisentrum di Amerika, disrupsi terhadap tata kelola dan juga global governance dari perdagangan global," paparnya.
Dengan suara bersama dari BRICS yang di dalamnya ada negara-negara besar seperti Tiongkok, India, dan Rusia, katanya, semestinya bisa menjadi satu nilai tawar. Nilai tawar itu terutama dalam hal memberikan tekanan terhadap perbaikan tata kelola perdagangan dan juga tata kelola ekonomi dunia.
"Itu yang lebih penting menurut saya, supaya lebih bisa berkeadilan dan lebih menyuarakan juga kepentingan bukan hanya negara maju tapi negara-negara berkembang dan global south. BRICS ini kan sebetulnya isinya adalah negara-negara berkembang yang punya peran yang besar dalam perekonomian global," jelas Faisal.
Sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan nilai perdagangan di antara para anggota forum kerja sama BRICS telah mencapai US$1,2 triliun (sekitar Rp21,1 kuadriliun). Ia menyebut 11 negara anggota BRICS mampu membangun hubungan ekonomi yang kuat dan efektif tanpa perlu terpengaruh oleh tekanan dari pihak luar.
“Perdagangan internal di dalam kerangka kerja sama kita saat ini telah mencapai US$1,2 triliun. Negara-negara yang tergabung dalam asosiasi kita memiliki mekanisme masing-masing terkait arus pergerak an barang, jasa, maupun modal yang sama sekali tidak bergantung pada kondisi pasar eksternal,” kata Putin dalam BRICS+, sesi terakhir dalam rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS di New Delhi, India, yang ber akhir kemarin.
Sebelas negara anggota BRICS, yaitu Brasil, Rusia, India, China (Tiongkok), Afrika Selatan, Mesir, Etiopia, Iran, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi, serta Indonesia (resmi bergabung pada awal 2025), menggelar KTT ke-18 sejak Sabtu (12/9) di tengah perang Amerika Serikat-Iran yang memasuki bulan ketujuh dan perang Rusia-Ukraina yang berlanjut hingga tahun kelima.(H-2)

















































