Ilustrasi: Helikopter water bombing berupaya memadamkan kebakaran lahan di Petuk Katimpun, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Selasa (11/8/2026).(ANTARA FOTO/Auliya Rahman)
BADAN Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, menyatakan tantangan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin besar lantaran mayoritas lokasi kebakaran kini berada jauh dari kawasan perkotaan.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam menjelaskan, kondisi medan yang jauh meloloskan berbagai kendala lapangan (obstacle), terutama dalam hal mobilisasi personel maupun peralatan pemadam.
“Banyak obstacle atau kendala-kendala lapangan. Karena kebakaran ini tidak terjadi lagi di dekat-dekat kota,” ungkap Multazam di Sampit, Sabtu (22/8).
Multazam melanjutkan, petugas terkadang harus mengandalkan kendaraan roda tiga hingga berjalan kaki untuk menjangkau titik kebakaran. Ketersediaan sumber air yang belum tentu berada di sekitar lokasi kejadian turut menguras waktu dan tenaga para personel.
“Kadang-kadang menggunakan roda tiga, berjalan kaki, kemudian belum tentu air di lokasi kebakaran itu ada,” ujarnya.
Multazam memaparkan, pemadaman lahan gambut membutuhkan penanganan khusus dibanding kebakaran bangunan. Api pada lahan gambut dapat bertahan jauh lebih lama walau sudah digempur air.
“Kalau kita bicara kebakaran bangunan 1-2 jam dengan kita gempur bersama-sama selesai. Kalau kebakaran gambut, bisa berdurasi sembilan jam di situ saja,” jelasnya.
Berdasarkan data BPBD Kotim hingga 20 Agustus 2026, telah tercatat 401 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai lebih dari 1.394 hektare yang tersebar di sejumlah kecamatan.
Ancaman karhutla kian memprihatinkan tercermin dari tingginya akumulasi hotspot (titik panas) di Kotim sejak Januari hingga 20 Agustus 2026 yang mencapai 6.139 titik. Kecamatan Teluk Sampit tercatat sebagai wilayah menyumbang hotspot terbanyak, yakni 1.066 titik.
Melihat tingginya angka tersebut, Multazam menegaskan penanganan karhutla membutuhkan pendekatan lebih luas melalui pencegahan dan dukungan lintas sektor, tidak hanya bersandar pada pemadaman saat api sudah muncul. (Ant/P-4)













































