Dokter spesialis anak Farid Agung Rahmadi menjelaskan gangguan belajar spesifik (SLD) pada anak pintar dengan nilai akademik rendah.(Dok. Magnific)
DOKTER spesialis anak subspesialis tumbuh kembang pediatri sosial konsultan, Farid Agung Rahmadi, mengungkapkan bahwa anak yang terlihat pintar namun memiliki nilai akademik rendah kemungkinan mengalami gangguan belajar spesifik atau Specific Learning Disorder (SLD).
Dalam seminar daring yang digelar Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada Selasa (15/9), Farid menjelaskan bahwa SLD merupakan gangguan perkembangan saraf. Kondisi ini menyebabkan kesulitan menetap minimal selama enam bulan pada bidang akademik utama seperti membaca, menulis, atau matematika.
Menurut Farid, SLD berkaitan erat dengan kelemahan pada proses kognitif tertentu. Hal ini mencakup masalah pada fonologi, memori kerja, kecepatan pemrosesan informasi, hingga kemampuan visual-spasial anak.
Ia menekankan bahwa kondisi ini sering kali membuat anak kesulitan di bidang akademik tertentu, padahal mereka memiliki kemampuan yang sangat baik di bidang lainnya. "Anak bisa berpartisipasi aktif dalam diskusi kelas dan memiliki kemampuan pemecahan masalah non-akademik yang baik," ujarnya.
Dokter lulusan Universitas Diponegoro ini menegaskan bahwa SLD bukan disebabkan oleh tingkat kecerdasan yang rendah, kemalasan, atau pola asuh yang salah. Ia meminta orang tua dan guru untuk tidak terburu-buru melabeli anak sebagai sosok yang malas atau bodoh.
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain kesulitan belajar yang menetap, adanya kesenjangan antara pemahaman lisan dengan capaian nilai, serta sikap anak yang mulai menolak untuk sekolah. Deteksi dini menjadi kunci agar anak mendapatkan intervensi yang tepat.
Penanganan SLD bertujuan agar potensi anak berkembang optimal melalui dukungan yang sesuai kebutuhan. Proses ini memerlukan kolaborasi lintas sektor, mulai dari peran orang tua, guru, tenaga kesehatan, hingga psikolog profesional. (Ant/Z-10)


















































