Tantangan Suahasil Nazara Jadi Menkeu: Transformasi Ekonomi vs Fiskal Konservatif

2 hours ago 5
 Transformasi Ekonomi vs Fiskal Konservatif Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Mohammad Faisal, menegaskan bahwa Suahasil Nazara menghadapi tantangan besar setelah dipercaya menjabat sebagai Menteri Keuangan.(Antara)

DIREKTUR Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Mohammad Faisal, menegaskan bahwa Suahasil Nazara menghadapi tantangan besar setelah dipercaya menjabat sebagai Menteri Keuangan. Suahasil dituntut untuk tidak hanya menjadi penjaga kesehatan fiskal, tetapi juga motor penggerak transformasi ekonomi nasional.

Menurut Faisal, pendekatan konservatif atau pola kerja business as usual tidak akan memadai untuk merealisasikan agenda ekonomi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ia menekankan pentingnya kapasitas Menteri Keuangan dalam menciptakan terobosan yang mampu menyelaraskan target pertumbuhan, kualitas ekonomi, dan stabilitas makro.

"Yang lebih penting itu sebetulnya adalah bagaimana Menteri yang baru bisa mengemban tugas transformasi yang lebih jauh ke depan," ujar Faisal pada Selasa (15/9).

Belajar dari Dinamika Sebelumnya

Faisal menyoroti bahwa pergantian Menteri Keuangan sebelumnya, Purbaya Yudhi Sadewa, dipicu oleh tekanan akibat kebijakan yang dinilai membawa perubahan mendasar. Purbaya dianggap mengambil langkah transformatif yang berbeda dari pendekatan konservatif era Sri Mulyani Indrawati.

Ia mengakui bahwa kebijakan besar sering kali memicu resistensi karena ketidaksiapan berbagai pihak menghadapi perubahan cepat. Namun, Faisal menilai arah kebijakan Suahasil ke depan jauh lebih krusial daripada dinamika masa lalu.

Tantangan Utama Menkeu Suahasil Nazara:

  • Menyeimbangkan ambisi pertumbuhan ekonomi dengan perbaikan kualitas pertumbuhan.
  • Menjaga kesehatan fiskal (APBN) dan stabilitas makroekonomi secara simultan.
  • Meningkatkan daya beli kelas menengah yang sedang mengalami penurunan.
  • Mewujudkan keadilan ekonomi agar manfaat pertumbuhan dirasakan merata.

Menghindari Jebakan Zona Nyaman

Faisal memperingatkan bahwa jika Suahasil kembali ke pola kebijakan konservatif hanya demi memenuhi ekspektasi pasar akan stabilitas, maka target lompatan ekonomi Presiden Prabowo akan sulit tercapai. Ia menilai stabilitas memang penting, namun tidak boleh menjadi alasan untuk menghindari kebijakan transformatif.

"Pelaku pasar inginnya itu yang stabil, tidak perlu ada banyak terobosan-terobosan, tapi penting-penting di skala aman, nah itu juga nggak bagus juga begitu," tuturnya.

Kekhawatiran utama Core Indonesia adalah jika orientasi kebijakan hanya terpaku pada kesehatan fiskal semata, Indonesia berisiko kembali pada pola lama yang menghambat akselerasi ekonomi. Oleh karena itu, otoritas fiskal baru diharapkan memiliki keberanian untuk melakukan perubahan demi memperkuat struktur ekonomi nasional dan menjaga daya beli masyarakat secara luas. (Mir/I-1)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |