Ganti Gula dengan Stevia, Apa Dampaknya Jika Dikonsumsi Lama?

3 hours ago 7
Ganti Gula dengan Stevia, Apa Dampaknya Jika Dikonsumsi Lama? Ilustrasi(Magnific)

UPAYA mengurangi konsumsi gula harian sering kali mendorong masyarakat untuk beralih ke pemanis pengganti gula, salah satunya stevia. Bahan ini banyak dilirik karena menawarkan rasa manis yang kuat, tetapi memiliki kandungan kalori yang jauh lebih rendah dibandingkan gula pasir biasa.

Kendati demikian, muncul pertanyaan mengenai keamanan pemanis pengganti gula jika dikonsumsi secara rutin dalam jangka panjang.

Stevia merupakan pemanis alami yang diekstrak dari tanaman Stevia rebaudiana. Ekstrak ini mengandung senyawa pemanis utama berupa steviol glikosida yang tingkat kemanisannya jauh melampaui sukrosa atau gula meja. Alhasil, penggunaannya hanya memerlukan jumlah yang sangat sedikit untuk menghasilkan tingkat kemanisan yang setara.

Terkait aspek keamanannya, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menyatakan bahwa steviol glikosida yang dimurnikan telah mendapatkan status aman untuk digunakan sebagai pemanis makanan dan minuman.

Acuan asupan harian yang aman atau acceptable daily intake (ADI) untuk steviol glikosida telah ditetapkan oleh Komite Ahli Gabungan FAO/WHO untuk Bahan Tambahan Pangan (JECFA). Berdasarkan panduan JECFA, batas ADI steviol glikosida ditetapkan sebesar 4 miligram per kilogram berat badan per hari yang dihitung sebagai steviol. Angka ini menjadi batas acuan jumlah asupan yang dianggap aman untuk dikonsumsi setiap hari sepanjang hidup seseorang tanpa menimbulkan risiko kesehatan berarti.

Meski tergolong aman, label "pemanis alami" pada kemasan produk bukan berarti pemanis tersebut bebas dikonsumsi tanpa batas. Banyak produk pemanis di pasaran yang dicampur dengan bahan tambahan lain. Karena itu, konsumen dianjurkan untuk tetap cermat memperhatikan komposisi produk dan membatasi porsi pengunaannya.

Di sisi lain, publik juga diingatkan bahwa penggunaan pemanis pengganti gula tidak serta-merta membuat suatu makanan atau minuman menjadi lebih sehat secara keseluruhan.

Melansir dari Mayo Clinic, penggunaan pengganti gula umumnya memang tidak dikaitkan dengan masalah kesehatan serius selama dikonsumsi dalam jumlah yang wajar. Bahan ini juga dapat menjadi alternatif yang berguna untuk memangkas asupan kalori dari gula harian.

Namun, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengimbau agar pemanis non-gula tidak dijadikan sebagai strategi utama dalam mengendalikan berat badan jangka panjang. Berdasarkan bukti ilmiah yang dihimpun WHO, pemanis non-gula tidak memberikan manfaat jangka panjang yang signifikan dalam penurunan berat badan. WHO justru merekomendasikan masyarakat untuk mengurangi konsumsi makanan dan minuman manis secara keseluruhan.

Pada akhirnya, stevia dan berbagai pemanis alternatif lainnya memang bisa dijadikan sarana pembantu untuk mengurangi ketergantungan pada gula meja. Namun, konsumsi berlebihan tetap tidak disarankan. Langkah terbaik dalam membangun pola makan yang sehat dan bertahan jangka panjang adalah dengan melatih lidah serta membiasakan diri mengurangi rasa manis secara bertahap. (U.S. Food and Drug Administration (FDA)/Mayo Clinic/Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)/Z-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |