Ilustrasi.(Magnific)
EKSEKUTIF minyak Amerika Serikat (AS) memberikan peringatan keras bahwa krisis bahan bakar global yang telah lama dikhawatirkan kini benar-benar terjadi. Penutupan berkepanjangan Selat Hormuz dan gangguan pada jalur distribusi utama di Timur Tengah telah menguras cadangan energi dunia ke titik kritis.
Stok bahan bakar komersial di seluruh dunia dilaporkan terus menyusut selama lebih dari enam bulan terakhir. Sementara itu, cadangan minyak strategis tidak lagi dapat diandalkan untuk intervensi lebih lanjut.
Situasi diperparah oleh serangan pekan lalu yang melumpuhkan pipa minyak krusial di Arab Saudi, yang seharusnya menjadi jalur alternatif bypass Selat Hormuz. Analis memperkirakan serangan tersebut menahan setidaknya 2,5 juta barel minyak per hari dari pasar global yang sudah sangat ketat.
Penyangga Pasokan Mulai Habis
CEO Chevron, Mike Wirth, dalam konferensi energi di Austin, Texas, Jumat (11/9), menyatakan bahwa mekanisme mitigasi risiko harga dan pasokan yang selama ini digunakan hampir sepenuhnya habis. "Kita tidak lagi memiliki penyangga (buffer) dalam sistem seperti yang kita miliki saat krisis ini dimulai," ujar Wirth.
Ia menambahkan bahwa sulit untuk memprediksi arah harga minyak ke depan, tetapi kecil kemungkinan harga akan turun dalam waktu dekat. Saat ini, harga diesel telah melonjak ke rekor US$6,23 per galon (sekitar Rp95.800), sementara harga bensin kembali merangkak naik ke level US$4,32 per galon setelah sempat turun di bawah US$4 per galon pada musim panas lalu.
Respons Pemerintahan Trump
Di tengah tekanan harga, pemerintahan Donald Trump terus menjanjikan penurunan harga di SPBU. Menteri Dalam Negeri AS, Doug Burgum, dalam acara G-20 di Houston, Senin (14/9), menegaskan bahwa gangguan ini bersifat sementara. Ia justru menyalahkan kebijakan pemerintahan sebelumnya yang dianggap menghambat produksi energi dan menutup kilang.
Gedung Putih saat ini tengah mengupayakan dua langkah besar untuk meredam harga:
- Meningkatkan produksi minyak di Venezuela melalui kesepakatan strategis.
- Mendorong peningkatan kapasitas pengolahan bahan bakar di dalam negeri AS.
Meskipun ada dialog berkelanjutan antara eksekutif energi dan pejabat pemerintah, hubungan antara CEO Chevron dan Presiden Trump dilaporkan sempat menegang. Trump sebelumnya melalui media sosial mendesak perusahaan minyak untuk segera menurunkan harga ritel bagi konsumen.
Ketegangan Geopolitik dan Dampak Global
Krisis ini semakin dipicu oleh meningkatnya serangan terhadap kapal tanker dan infrastruktur energi di Timur Tengah. Kelompok militan Houthi dari Yaman baru-baru ini merusak pipa East-West di Arab Saudi yang membentang dari ladang minyak Abqaiq ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah.
Di sisi lain, Tiongkok sebagai importir minyak terbesar dunia mulai kembali melakukan pembelian besar-besaran dari pemasok internasional setelah berbulan-bulan mengandalkan stok internalnya. Hal ini menambah tekanan pada permintaan global.
Dan Pickering, pendiri Pickering Energy Partners, menilai krisis ini akan berlangsung lama, melampaui pemilihan paruh waktu November mendatang. "Pasokan diesel sangat ketat karena gangguan kilang akibat konflik di Timur Tengah dan Rusia. Tidak ada solusi mudah untuk diesel, terutama saat petani memasuki musim panen yang membutuhkan bahan bakar alat berat dalam jumlah besar," pungkasnya.
Catatan Redaksi: Harga minyak mentah AS telah melonjak 19% dalam tiga pekan terakhir, diperdagangkan mendekati level US$101 per barel seiring meluasnya konflik di Timur Tengah. (The Wall Street Journal/I-2)

















































