Menko PMK Soroti Bahaya GGL untuk Tingkatkan Masa Hidup Sehat

3 hours ago 9
Menko PMK Soroti Bahaya GGL untuk Tingkatkan Masa Hidup Sehat Menteri Koordinator (Menko) Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Pratikno memberikan sambutan saat acara Bijak Cerdas Berdigital dan Ber-AI di Kantor Kemenko PMK, Jakarta, Selasa (10/2/2026).(ANTARA/Bayu Pratama S)

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menekankan pentingnya pengawasan mutu obat dan pangan olahan guna meningkatkan healthy active life expectancy (HALE) atau masa hidup sehat dan aktif masyarakat Indonesia. Ia menyoroti pergeseran tantangan kesehatan pada pola konsumsi modern yang memerlukan pengawasan ketat terhadap kandungan gula, garam, dan lemak (GGL).

“Tantangan terberat kita bukan sekadar memperpanjang usia harapan hidup, melainkan mempersempit jarak antara usia hidup dan masa hidup yang sehat dan aktif," ujar Pratikno pada Selasa (15/9).

Selain pengawasan GGL, Pratikno mendorong hilirisasi keanekaragaman hayati (biodiversity) lokal agar Indonesia mampu berdikari dalam penyediaan bahan baku obat dan fitofarmaka. Ia menegaskan dukungan penuh terhadap koordinasi dengan BPOM untuk memastikan keamanan produk sekaligus memperkuat potensi ekonomi sektor industri dalam negeri dan UMKM.

Peran Strategis BPOM dalam Ekonomi dan Kesehatan

Kepala BPOM Taruna Ikrar menjelaskan bahwa mandat pengawasan BPOM mencakup spektrum luas dari hulu ke hilir (pre-market hingga post-market). Menurutnya, pengawasan yang kredibel menjadi motor penggerak ekonomi nasional, mengingat sektor obat dan makanan menaungi sekitar 4,3 juta pelaku usaha dengan perputaran ekonomi mencapai Rp6.000 triliun hingga Rp8.000 triliun per tahun.

“Kebijakan yang kami ambil harus berbasis bukti (evidence-based) dan mampu teraplikasikan dengan filosofi 3M: Menjulang secara reputasi global, Membumi dalam implementasi, dan Mengakar di hati masyarakat,” kata Taruna. Ia juga menambahkan bahwa status WHO-Listed Authority (WLA) yang diraih BPOM membuktikan standar regulasi Indonesia telah sejajar dengan 10 regulator terbaik dunia.

Data BPS: Urgensi Pengawasan Pangan Jadi dan Obat

Wakil Kepala BPS Sonny Harry Budiutomo Harmadi mengungkapkan bahwa usia harapan hidup masyarakat Indonesia pada tahun 2025 diproyeksikan meningkat menjadi 77,1 tahun dengan angka morbiditas turun ke level 12,66%. Namun, ia mengingatkan bahwa peran BPOM tetap krusial sebagai garda terdepan perlindungan konsumen.

Data BPS menunjukkan hampir 20% pengeluaran bulanan masyarakat dialokasikan untuk makanan jadi, dan 47,18% pengeluaran obat digunakan untuk swamedikasi (pengobatan mandiri) tanpa resep dokter. Tingginya angka konsumsi mandiri ini menuntut pengawasan ketat agar produk yang beredar di masyarakat terjamin keamanan dan mutunya secara sains data. (H-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |