Ilustrasi(Dok Istimewa)
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Food and Nutrition (SEAMEO RECFON) memperkuat komitmen dalam meningkatkan kualitas kesehatan dan gizi murid. Langkah ini diwujudkan melalui peluncuran tiga policy brief berbasis bukti ilmiah dalam Pertemuan Dewan Pembina (Governing Board Meeting/GBM) ke-16 di Jakarta, Rabu (9/9).
Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti, menegaskan bahwa pemenuhan gizi berkualitas merupakan fondasi krusial bagi keberhasilan pendidikan. Menurutnya, proses pembelajaran yang optimal mustahil tercapai jika murid datang ke sekolah dalam kondisi lapar atau kekurangan gizi.
“Murid mungkin belajar di sekolah yang bagus, guru yang profesional, dan kurikulum yang sesuai, tetapi jika murid tersebut datang ke kelas dalam keadaan lapar atau kurang gizi, pembelajaran yang optimal akan sulit terjadi,” ujar Suharti dalam pembukaan GBM ke-16.
Dukungan untuk Program Makan Bergizi Gratis
Suharti juga mengapresiasi peran SEAMEO RECFON dalam mendukung penurunan angka stunting balita di Indonesia, yang berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 turun menjadi 19,8 persen dari sebelumnya 21,5 persen pada 2023. Momentum ini dinilai selaras dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang ditargetkan menjangkau 60 juta murid pada 2027.
Program MBG dipandang sebagai peluang besar untuk mengintegrasikan edukasi gizi, keamanan pangan, dan kebiasaan hidup sehat di lingkungan sekolah.
Tiga Rekomendasi Kebijakan Berbasis Sains
Direktur SEAMEO RECFON, Rini Sekartini, memaparkan policy brief pertama yang berfokus pada penguatan sistem biomarker zat gizi mikro untuk SSGI 2026. Penggunaan teknologi multiplex immunoassay diharapkan dapat meningkatkan akurasi data dan efisiensi evaluasi percepatan penurunan stunting.
“Penguatan biomarker zat gizi mikro berguna untuk mendukung penetapan prioritas dan evaluasi kebijakan percepatan penurunan stunting di Indonesia yang lebih efektif dan efisien,” jelas Rini.
Terkait hal itu, Deputi Direktur Program SEAMEO RECFON, Brian Sri Prahastuti, menyoroti pentingnya deteksi akar penyebab anemia. Anemia berdampak langsung pada kemampuan kognitif murid karena berkurangnya suplai oksigen ke otak. Pemeriksaan darah yang lebih lengkap akan memungkinkan intervensi yang lebih tepat sasaran.
Policy brief kedua membahas Penerapan Panduan Gizi Seimbang Berbasis Pangan Lokal (PGS-PL). Berdasarkan riset terhadap 4.219 murid di 12 provinsi, ditemukan kesenjangan asupan zat gizi mikro yang signifikan, terutama pada folat (100%), kalsium (78%), dan vitamin A (25%). Sebagai solusi, SEAMEO RECFON menyusun siklus menu tujuh hari berbasis pangan lokal sebagai rujukan bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan sekolah dalam mendukung program MBG.
Sementara itu, policy brief ketiga berfokus pada penguatan implementasi paket program gizi sekolah di tingkat ASEAN. Melalui program "Gizi untuk Prestasi" (Nutrition Goes to School), SEAMEO RECFON telah mendampingi negara mitra seperti Laos dan Kamboja.
Deputi Direktur Administrasi SEAMEO RECFON, M. Dzaky F. Surapranata, menambahkan bahwa langkah ini sejalan dengan penguatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dan gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH) yang dicanangkan Kemendikdasmen.
Dengan peluncuran ini, SEAMEO RECFON semakin mengukuhkan perannya sebagai Centre of Excellence di Asia Tenggara yang menjembatani sains dan kebijakan demi mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.















































