Pesawat nirawak (drone) yang diduga diarahkan ke Mocha, Yaman, pada 9 Agustus 2026.(Xinhua/Dok. Houthi Media Center)
UTUSAN Yaman untuk PBB, Abdullah al-Saadi, mengeluarkan peringatan keras terkait peningkatan eskalasi militer yang dilakukan kelompok Houthi di wilayah Laut Merah. Dalam sidang darurat Dewan Keamanan PBB pada Kamis, Saadi menyebut kelompok tersebut tengah berupaya menciptakan "kenyataan baru" yang mengancam jalur pelayaran internasional yang strategis.
Saadi menegaskan bahwa tindakan milisi Houthi tidak hanya berdampak pada stabilitas domestik, tetapi juga keamanan regional dan global. Fokus utama kekhawatiran pemerintah Yaman adalah potensi penguasaan Selat Bab al-Mandeb oleh kelompok tersebut.
"Milisi Houthi terus meningkatkan eskalasi dan berupaya menguasai serta menciptakan kondisi baru di Laut Merah," ujar Saadi. Ia menambahkan bahwa perlindungan terhadap Selat Bab al-Mandeb merupakan bagian integral dari keamanan internasional.
Atas dasar tersebut, pemerintah Yaman mendesak Dewan Keamanan PBB untuk:
- Mengutuk keras eskalasi militer yang dilakukan Houthi.
- Menegakkan embargo senjata secara tegas terhadap kelompok tersebut.
- Mengambil sikap jelas terhadap risiko yang ditimbulkan bagi keamanan maritim.
Situasi Lapangan di Pesisir Barat
Pernyataan diplomatik ini muncul di tengah laporan peningkatan pertempuran di sepanjang pesisir barat Yaman. Kelompok Houthi dilaporkan terus bergerak maju di wilayah yang berdekatan dengan Selat Bab al-Mandeb. Media lokal bahkan menyebutkan adanya perebutan Pulau Zuqar yang memiliki posisi strategis, meski klaim ini belum dikonfirmasi secara resmi oleh kedua belah pihak yang bertikai.
| Lokasi Eskalasi | Pesisir Barat Yaman, Laut Merah, Selat Bab al-Mandeb |
| Titik Strategis | Pulau Zuqar (dilaporkan direbut Houthi) |
| Waktu Peningkatan | Sejak awal Juli 2026 (setelah periode tenang) |
| Aktor Utama | Pemerintah Yaman (diakui internasional) vs Kelompok Houthi |
Komitmen Perdamaian yang Terancam
Menteri Luar Negeri Yaman, Afrah al-Zouba, dan Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden, Rashad al-Alimi, turut menyuarakan kekhawatiran serupa. Mereka menekankan bahwa pemerintah telah memilih jalan menahan diri dan mengutamakan perdamaian selama bertahun-tahun. Namun, agresi Houthi yang meningkat sejak awal Juli memaksa pemerintah untuk tetap menjalankan kewajiban melindungi institusi negara dan rakyat.
Konflik Yaman sendiri telah berlangsung sejak September 2014 ketika Houthi merebut ibu kota Sanaa. Intervensi Koalisi Arab pimpinan Arab Saudi dimulai pada Maret 2015 untuk mendukung pemerintah yang sah, namun hingga kini ketegangan di jalur perairan vital tersebut terus menjadi titik api keamanan dunia. (Anadolu/Ant/I-1)















































