Peran Danantara sebagai Pendorong Kebangkitan Teknologi Indonesia

3 hours ago 1
Peran Danantara sebagai Pendorong Kebangkitan Teknologi Indonesia Ilham Akbar Habibie (tengah).(Antara/Indrianto Eko Suwarso)

PENGUASAAN teknologi dan pengembangan sumber daya manusia (SDM) menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk mengoptimalkan kekayaan sumber daya alam sekaligus meningkatkan posisi dalam rantai nilai industri global. Transformasi tersebut diperlukan agar Indonesia mampu menghasilkan material dan produk teknologi bernilai tambah tinggi yang memperkuat industri nasional sekaligus memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

"Pembangunan teknologi harus berjalan beriringan dengan pengembangan kualitas SDM. Dengan SDM semakin kuat, Indonesia akan memiliki kemampuan untuk mengembangkan teknologi secara mandiri dan tidak terus bergantung pada produk maupun pengetahuan dari negara lain," kata teknokrat sekaligus putra sulung Presiden ke-3 Republik Indonesia BJ Habibie, Ilham Habibie.

Ilham menekankan bahwa tidak ada negara yang dapat menjadi maju hanya dengan mengandalkan kekayaan sumber daya alam. Indonesia perlu mengubah orientasi pembangunan dari negara berbasis sumber daya alam menjadi negara dengan basis industri dan teknologi yang kuat.

"Industri pada akhirnya sangat bergantung pada kemampuan suatu negara untuk menerapkan, melembagakan, dan menguasai teknologi. Kalau kita tidak bisa menerapkan, melembagakan, menguasai teknologi, kita tidak akan menjadi negara maju," ucap Ilham.

Potensi Mineral dan Tantangan Rantai Nilai

Berdasarkan data Kementerian ESDM, Indonesia memiliki cadangan nikel dan timah terbesar di dunia, serta masuk jajaran 10 besar dunia untuk bauksit, batu bara, emas, dan tembaga. Namun, kekayaan mineral tersebut belum otomatis menempatkan Indonesia pada posisi kuat dalam rantai nilai material maju.

Penguatan penguasaan teknologi, industri, dan kualitas SDM diperlukan agar sumber daya alam dapat diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi, menciptakan lapangan pekerjaan berkualitas, dan memperkuat kemandirian industri nasional.

Menjelang HUT ke-81 Republik Indonesia, momentum ini digunakan untuk mendorong transformasi industri nasional melalui penguasaan teknologi demi menjaga kedaulatan bangsa. Dalam konteks tersebut, Danantara Indonesia berperan sebagai enabler dengan memperkuat ekosistem industri melalui kolaborasi pemerintah, BUMN, industri, dan akademisi.

"Kami sepakat bahwa sudah saatnya Indonesia naik kelas dalam rantai nilai material maju. Indonesia diberkahi dengan kekayaan mineral yang luar biasa, mulai dari nikel, bauksit, tembaga, timah, hingga rare earth. Bahan-bahan ini menjadi fondasi teknologi masa depan, seperti baterai kendaraan listrik, semikonduktor, pertahanan, dan energi bersih," kata CEO Danantara, Rosan Roeslani.

Rosan menyayangkan selama puluhan tahun Indonesia sering berhenti di titik ekstraksi: mengekspor bahan mentah, lalu membeli kembali produk jadinya dengan harga yang jauh lebih mahal.

Investasi Berdampak dan Kolaborasi Strategis

Pendekatan Danantara dalam investasi tidak hanya berorientasi pada penciptaan nilai ekonomi, tetapi juga pada dampak nyata bagi masyarakat. Investasi jangka panjang diarahkan untuk menciptakan nilai tambah di dalam negeri, membuka lapangan pekerjaan berkualitas, serta memperkuat kapabilitas industri nasional.  "Ini sudah menjadi komitmen Danantara agar investasi menciptakan nilai bagi bangsa," ujar Rosan.

Visi tersebut mulai diterjemahkan ke dalam berbagai bentuk kolaborasi lintas industri untuk memastikan pengembangan teknologi dan pasar berjalan seiring. Salah satunya melalui Advanced Materials Industry Dialogue yang mendorong pengembangan material maju secara terintegrasi.

Upaya tersebut diperkuat melalui penandatanganan kerja sama hilirisasi mineral kritis antara Mind Id, LEN, Krakatau Steel, dan Perminas. Kerja sama ini menjadi contoh awal pembangunan supply-offtake dan pengembangan teknologi bersama untuk mendukung kebutuhan industri strategis nasional.

Transformasi Kapabilitas: Managing Director Industrialization Danantara, Ardy Muawin, menyatakan bahwa penguasaan material maju memungkinkan Indonesia bertransformasi dari resource-rich country menjadi capability-driven country yang disegani dunia.

"Konsep kami dalam mengajak mitra investasi bukan hanya soal biaya dan waktu, tapi juga industrial development. Kami ingin ada transfer teknologi, co-development, hingga keterlibatan universitas dan lembaga riset seperti BRIN, sehingga pengembangan lanjutan itu nantinya bisa menjadi milik Indonesia," ucap Ardy. (Ant/I-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |