Donald Trump.(Al Jazeera)
PARTAI Demokrat mendesak diadakannya briefing kongres menyusul terungkapnya taktik rahasia terkait Donald Trump diam-diam dipindahkan ke pesawat yang berbeda dari yang diyakini publik dan pers. Langkah ini memicu kritik tajam mengenai keamanan para staf dan jurnalis yang diduga dijadikan umpan tanpa sepengetahuan mereka.
Operasi Rahasia di Tengah Ancaman Iran
Berdasarkan laporan yang pertama kali diangkat oleh Washington Post dan New York Times, intelijen AS menemukan ancaman kredibel dari Iran untuk membunuh Trump bulan lalu. Saat berada di Turki, Trump dilaporkan meninggalkan Air Force One menggunakan truk katering dan menyelinap keluar melalui pintu samping pesawat.
Sementara Trump dipindahkan ke pesawat militer C-32A, lebih dari seratus ajudan, pejabat, dan jurnalis tetap berada di dalam Air Force One untuk terbang menuju Inggris. Mereka tidak diberi tahu ada ancaman terhadap nyawa mereka dan diperintahkan untuk menutup tirai jendela selama penerbangan.
"Tampaknya idenya adalah kita dapat mengurangi bahaya bagi Presiden Trump dengan menawarkan sekitar 100 orang untuk dibunuh oleh Iran sebagai gantinya," ujar Steven Cash, mantan perwira intelijen CIA dan penasihat senior Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS).
Demokrat Tuntut Transparansi
Senator Demokrat asal Connecticut, Richard Blumenthal, menyebut operasi tersebut tidak pernah terjadi sebelumnya dan sangat menakutkan. Berbicara di CNN, ia menegaskan perlu briefing kongres untuk mempertanyakan prosedur keselamatan bagi penumpang lain di pesawat tersebut.
"Saya ingin tahu tindakan pencegahan apa yang diambil untuk memastikan semua penumpang di Air Force One, yang dinilai terlalu berbahaya bagi presiden, tetap aman?" tegas Blumenthal.
Kritik juga datang dari Ned Price, mantan asisten khusus Presiden Barack Obama. Ia menyatakan bahwa meskipun langkah luar biasa untuk melindungi presiden dapat dimengerti, administrasi saat ini melakukan kebohongan terang-terangan dan menjadikan wartawan sebagai konspirator yang tidak sadar.
Tanggapan Trump dan Analisis Keamanan
Donald Trump mengonfirmasi pada hari Selasa (11/8) bahwa ia memang bertukar pesawat secara rahasia. Namun, ia berpendapat bahwa pesawat yang ia tumpangi justru memiliki risiko lebih besar.
"Saya pikir pesawat yang saya tumpangi berada pada risiko yang lebih besar karena itu adalah pesawat yang menurut saya lebih mungkin mereka incar," kata Trump kepada wartawan. Ia menambahkan bahwa dirinya hanya mengikuti instruksi dari Secret Service dan militer.
Beberapa ahli meragukan tingkat ancaman tersebut. Ankit Panda dari Carnegie Endowment for International Peace menilai serangan Iran terhadap pesawat kepresidenan di wilayah tersebut sangat tidak mungkin secara teknis. Namun, James Jeffrey, mantan Duta Besar AS untuk Turki, berpendapat bahwa kerahasiaan operasi ini menunjukkan ada intelijen yang sangat serius, kemungkinan berasal dari Israel.
Pelanggaran Protokol Duty to Warn?
Steven Cash menunjuk pada Intelligence Community Directive 191, kebijakan pemerintah mengenai kewajiban untuk memperingatkan (duty to warn). Kebijakan ini mengharuskan lembaga intelijen untuk memperingatkan orang-orang yang menjadi target spesifik dari ancaman pembunuhan atau cedera serius.
"Pertanyaannya adalah: apakah orang-orang yang tetap berada di pesawat diperingatkan? Jika tidak, itu melanggar ICD 191," kata Cash. Ia menambahkan bahwa tidak ada pengecualian dalam aturan tersebut untuk menggunakan warga sipil atau staf sebagai umpan.
Meskipun mendapat kecaman, beberapa pihak membela tindakan tersebut. Ari Fleischer, mantan Sekretaris Pers Gedung Putih era George W. Bush, menyatakan bahwa Secret Service dan militer layak mendapatkan apresiasi karena berhasil melindungi presiden dari ancaman yang kredibel. (The Guardian/I-2)

















































