Ilustrasi.(Magnific)
ARAB Saudi kini dalam kondisi siaga tinggi menghadapi potensi serangan terkoordinasi ganda yang melibatkan faksi milisi Irak dan kelompok Houthi yang didukung Iran. Ancaman ini muncul di tengah kekhawatiran meluasnya konflik di Timur Tengah.
Seorang pejabat Arab Saudi mengungkapkan kepada CNN bahwa peringatan ini didasarkan pada beberapa laporan intelijen dari Arab Saudi, Amerika Serikat, dan negara-negara regional lain. Laporan tersebut mengindikasikan bahwa sejumlah anggota milisi Irak, berkoordinasi dengan Houthi, berencana menyerang wilayah kerajaan dalam waktu dekat di bawah arahan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran.
Ancaman dari Utara dan Selatan
Pejabat tersebut menyatakan kekhawatirannya pada Kamis (6/8/2026), menyebutkan bahwa serangan direncanakan datang dari dua arah sekaligus. "Saya pikir mereka ingin mengoordinasikan serangan dari utara (Irak) dan selatan (Yaman)," ujarnya.
Target potensial serangan ini dilaporkan mencakup instalasi sipil dan ekonomi, termasuk fasilitas energi, pelabuhan, dan bandara. Intelijen Saudi mendeteksi ada pertemuan antara pihak Irak, Houthi, dan anggota IRGC, serta pergerakan drone dan rudal yang mencurigakan.
Eskalasi di Tengah Upaya Diplomasi
Munculnya ancaman ini terjadi saat Arab Saudi sebenarnya sedang mengupayakan deeskalasi dan negosiasi dengan Iran yang dinilai mulai menunjukkan arah positif. Pejabat tersebut menduga rencana serangan ini bertujuan menggagalkan kemajuan negosiasi dan mungkin mengindikasikan ada perebutan kekuasaan internal di dalam Iran sendiri.
Meskipun ada ancaman, Arab Saudi menegaskan akan tetap melanjutkan upaya deeskalasi dan komunikasi dengan otoritas Irak. Namun, mereka juga menegaskan kesiapan militer. "Arab Saudi akan mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk menangani agresi apa pun," tegas pejabat tersebut.
Serangan Houthi Melukai Warga Sipil
Tak lama setelah pernyataan pejabat tersebut, koalisi yang dipimpin Saudi melaporkan serangan Houthi di wilayah selatan Arab Saudi dekat perbatasan Yaman pada Kamis (6/8). Serangan tersebut melukai 11 warga sipil.
Korban luka terdiri dari tujuh warga negara Saudi--termasuk seorang wanita dan anak berusia 4 tahun yang menderita luka bakar derajat dua--serta seorang warga Yaman, dua warga Mesir, dan satu warga Pakistan. Koalisi mengecam tindakan tersebut sebagai serangan teroris yang menggunakan penembakan membabi buta terhadap objek sipil.
Langkah Strategis Regional
Sebagai respons terhadap situasi keamanan yang memanas, Arab Saudi, Turki, dan Pakistan dijadwalkan mengadakan pertemuan puncak di Mekah pada Jumat (7/8/2026). Menurut sumber regional, pertemuan ini diharapkan akan mengumumkan kesepakatan pertahanan bersama.
Ketegangan ini merupakan kelanjutan dari konflik panjang yang dimulai sejak 2015, ketika koalisi pimpinan Saudi melakukan intervensi militer terhadap Houthi di Yaman. Konflik selama bertahun-tahun tersebut menciptakan salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia. (I-2)

















































