ilustrasi(Antara)
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan ketersediaan minyak mentah atau crude oil untuk kebutuhan nasional dalam kondisi aman. Kepastian ini mencakup stabilitas pasokan yang berasal dari Rusia.
"Saya menyampaikan bahwa ketersediaan untuk crude kita insya Allah aman termasuk bagian daripada Rusia," ujar Bahlil di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (17/9).
Meski memastikan keamanan pasokan, Bahlil belum dapat memberikan penjelasan mendalam mengenai realisasi impor minyak mentah dari Rusia untuk tahap kedua. Hal ini mencakup rincian volume serta jadwal pelaksanaan impor tersebut. Ia menegaskan bahwa informasi teknis terkait kerja sama energi dengan Rusia akan diungkapkan kepada publik pada momentum yang dianggap sesuai.
"Nanti yang teknis lainnya dari Rusia saya akan menjelaskan pada waktu yang tepat," imbuhnya.
Sebagai informasi, pembelian minyak mentah dari Rusia merupakan bagian dari kerangka kerja sama antarpemerintah atau government-to-government (G-to-G). Kerja sama ini kemudian ditindaklanjuti pada level operasional antara pemerintah dengan badan usaha atau government-to-business (G-to-B).
Langkah pemerintah dalam menentukan sumber pasokan minyak mentah didasari oleh pertimbangan pemenuhan kebutuhan energi nasional di tengah dinamika global yang fluktuatif. Ketergantungan pada sumber pasokan luar negeri masih terjadi lantaran produksi minyak domestik belum mencapai target yang ditetapkan.
Berdasarkan data Kementerian ESDM, produksi minyak nasional per 8 September 2026 tercatat sebesar 571.731 barel per hari (bph). Angka tersebut masih berada di bawah target produksi tahun 2026 yang dipatok sebesar 610 ribu barel per hari. (Ant/E-3)


















































