Grup Rhythm of Minahasa (RoM) akan memperkenalkan musik tradisional kolintang asal Minahasa kepada publik internasional di Paris, Prancis, pada 27 September-2 Oktober.(dok.MI)
MUSIK kolintang Indonesia akan dibawa ke Paris, Prancis, pada 27 September-2 Oktober setelah mendapat undangan dari KBRI Paris dan kantor pusat UNESCO. Penampilan ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan musik tradisional asal Minahasa, Sulawesi Utara, itu sebagai warisan budaya Indonesia kepada publik internasional.
Undangan tersebut datang setelah kolintang ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda atau Intangible Cultural Heritage pada 5 Desember 2025. Persatuan Insan Kolintang Nasional (Pinkan) akan membawa grup Rhythm of Minahasa (RoM) dalam rangkaian pertunjukan tersebut.
Ketua Umum Pinkan, Penny Iriana Marsetio, mengatakan RoM dijadwalkan tampil dalam acara yang digelar KBRI Paris dan UNESCO. Mereka juga mendapat undangan untuk tampil di Place des Muguets, ruang terbuka yang digunakan untuk kegiatan edukasi budaya bagi generasi muda.
"Ini menjadi kesempatan bagi Kolintang Indonesia untuk tampil sekaligus memperkenalkan kekayaan musik asal Minahasa kepada masyarakat internasional," ujar Penny dalam konferensi pers "Kolintang Goes to Paris" di Jakarta, Kamis (17/9).
Ketua Umum Ikatan Pelatih Kolintang Indonesia (Ipkolindo) yang sekaligus pemimpin RoM, Ferdinand Soputan, mengatakan repertoar yang disiapkan tidak hanya berisi lagu daerah Indonesia. RoM akan memainkan lagu nasional, musik klasik, jazz, hingga lagu populer Prancis.
Salah satu lagu yang akan dibawakan adalah La Vie en Rose. Lagu tersebut dipilih untuk mendekatkan musik kolintang dengan audiens lokal sekaligus menunjukkan bahwa instrumen tradisional itu dapat memainkan beragam jenis musik.
Ferdinand mengatakan keberangkatan ke Paris bukan sekadar pertunjukan musik. Menurut dia, kegiatan tersebut merupakan bagian dari diplomasi budaya Indonesia.
"Kami ingin memperkenalkan keindahan warisan budaya Nusantara," kata Ferdinand
RoM juga menyiapkan lagu tradisional Sulawesi Utara, misalnya Si Patokaan, yang akan dikemas dalam medley bersama lagu-lagu Nusantara. Repertoar tersebut ditujukan untuk memperlihatkan karakter dan identitas musik kolintang.
Selain itu, mereka menyiapkan sebuah karya klasik dunia dengan aransemen orkestrasi yang kompleks. Pada penampilan penutup, RoM akan menggunakan aransemen modern dan dinamis. Mereka juga membuka peluang berkolaborasi dengan musisi lokal di Paris.
Ferdinand menyebut konsep yang dibawa adalah 'jembatan budaya'. "Kita ingin menunjukkan bahwa Kolintang memiliki fleksibilitas untuk memainkan berbagai genre dan berkolaborasi dengan instrumen lain," ucapnya.
Setelah Pengakuan UNESCO
Kolintang mendapat pengakuan UNESCO sebagai Intangible Cultural Heritage atau Warisan Budaya Takbenda pada 5 Desember 2025. Pengakuan itu menambah daftar instrumen musik Indonesia yang telah mendapat pengakuan UNESCO, setelah angklung dan gamelan.
Komponis terkemuka Indonesia dan etnomusikolog Franki Raden mengatakan pengakuan internasional tersebut dapat menjadi titik awal untuk memperluas penggunaan kolintang di luar Indonesia.
Ia mencontohkan gamelan yang kini digunakan di berbagai universitas dunia, terutama yang memiliki program studi etnomusikologi. Indonesia juga telah mengekspor gamelan ke berbagai negara.
Menurut Franki, pengalaman gamelan menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berkembang menjadi aktivitas ekonomi.
"Hadirnya kolintang dan telah mendapatkan pengakuan UNESCO akan menambah warisan budaya kita yang terkenal di dunia selain gamelan," ujarnya.
Franki berharap kolintang dapat mengikuti jejak gamelan dan semakin banyak digunakan dalam pendidikan maupun kegiatan musik internasional.
Tantangan Regenerasi
Di dalam negeri, tantangan berikutnya adalah memastikan kolintang tidak berhenti sebagai simbol budaya setelah mendapat pengakuan UNESCO.
Penny mengatakan regenerasi dilakukan melalui jaringan organisasi di berbagai daerah. Pinkan memiliki pengurus daerah dan cabang, antara lain di Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Bali, Kepulauan Riau, dan Sulawesi Utara.
Kolintang juga mulai masuk ke sejumlah sekolah sebagai kegiatan ekstrakurikuler.
Penny mengatakan minat sekolah terhadap kolintang meningkat karena alat musik tersebut relatif fleksibel. "Kelebihan Kolintang dapat digunakan untuk memainkan berbagai lagu dan tidak membutuhkan listrik seperti sejumlah instrumen musik modern," tandasnya. (B-3)


















































