Nelayan Aceh beraktivitas mencari ikan di Selat Malaka.(Dok. MI/AMIRUDDIN ABDULLAH REUBEE)
PULUHAN nelayan bersama personel TNI/Polri dan masyarakat setempat melakukan penyisiran di perairan Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh. Aksi pencarian ini difokuskan untuk menemukan Edi Yanto (40), seorang nelayan tradisional asal Gampong Tanjung Harapan, Kecamatan Meukek, yang dilaporkan hilang di perairan Samudra Hindia terbawa arus gelombang tinggi.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Edi Yanto berangkat melaut sendirian pada Rabu (16/9) sekitar pukul 05.00 WIB. Ia menggunakan perahu kayu berukuran kecil, atau yang secara lokal dikenal sebagai boat rabin, dari kawasan pesisir Tanjung Harapan.
Kondisi cuaca di perairan Samudra Hindia, khususnya yang meliputi wilayah Aceh Selatan dan Aceh Barat, saat ini dilaporkan sedang memburuk. Gelombang tinggi antara 2 hingga 4 meter kerap terjadi di wilayah tersebut, yang membahayakan keselamatan pelayaran, terutama bagi nelayan kecil.
Edi, yang terbiasa menjaring dan memancing ikan sendirian, biasanya sudah kembali ke daratan pada siang atau sore hari. Namun, hingga Rabu sore, ia tidak kunjung terlihat di pantai Tanjung Harapan maupun dermaga pelabuhan ikan Pasie Meukek, tempat rekan-rekan seprofesinya biasa bersandar.
Menanggapi laporan kehilangan tersebut, warga desa dibantu aparat keamanan mengerahkan belasan kapal pencari ikan untuk menyisir lokasi. Hingga Kamis (17/9) siang, keberadaan Edi belum ditemukan. Tim pencari hanya menemukan sebuah tong fiber yang diyakini milik korban.
"Fiber itu ditemukan sekitar 3 mil dari tepi pantai Lhok Manggeng," ungkap Muniruddin, Geuchik (Kepala Desa) Tanjung Harapan, Kamis (17/9).
Peringatan Kewaspadaan bagi Nelayan
Menanggapi insiden ini, tokoh masyarakat nelayan sekaligus budayawan Aceh, Profesor M. Adli Abdullah, mengimbau para nelayan untuk meningkatkan kewaspadaan di tengah kondisi cuaca ekstrem. Ia menekankan agar nelayan tidak memaksakan diri melaut jika terjadi gelombang tinggi atau angin kencang.
Menurut Adli, dalam dua pekan terakhir, cuaca buruk melanda perairan Samudra Hindia dan Selat Malaka, mencakup wilayah barat, selatan, hingga utara Aceh. Kondisi ini sangat berisiko bagi keselamatan jiwa para pelaut.
"Sering nelayan Aceh terdampar hingga ke Andaman, India, dan Thailand karena terhempas badai," ujar Guru Besar Hukum Adat Universitas Syiah Kuala (USK) tersebut mengingatkan risiko fatal akibat cuaca buruk. (H-3)


















































