Dari Korban Bully hingga Bernyanyi di Depan Mensos, Kisah Karmila Siswi Difabel SR

4 days ago 1
Dari Korban Bully hingga Bernyanyi di Depan Mensos, Kisah Karmila Siswi Difabel SR Karmila (kiri) siswi difabel Sekolah Rakyat Sulawesi Selatan.(MI/Lina Herlina)

SUARA merdu Karmila menggema di ruang pertemuan Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 3 Sulawesi Selatan, Jalan Pajaiyyang, Makassar, Jumat (7/8). Di hadapan Menteri Sosial Saifullah Yusuf dan Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman, gadis 15 tahun itu menyanyikan lagu sebait lagu dengan penuh penghayatan.

Penampilan itu terasa istimewa. Bukan hanya karena Karmila membawakan lagu dengan apik, tetapi karena ia melakukannya dari kursi roda, hanya dua pekan setelah menjalani operasi kaki kanannya.

Namun, yang lebih mengesankan adalah keberanian yang terpancar dari sorot matanya. Sebuah keberanian yang lahir dari perjuangan panjang melawan rasa takut dan trauma masa lalu. Karmila bukanlah anak yang percaya diri sejak awal. Remaja asal Kabupaten Jeneponto, Sulsel ini mengaku menjadi korban perundungan sejak kecil akibat kondisi fisiknya.

Ia terlahir dengan congenital talipes equinovarus atau kaki pengkor, sebuah kondisi yang membatasi geraknya dan selama bertahun-tahun menenggelamkan kepercayaan dirinya.

"Setiap kali berada di lingkungan baru, saya selalu takut. Saya pikir akan dibully lagi, tidak akan ada yang mau berteman dengan saya," kenang Karmila dengan mata berkaca-kaca.

Ketika mendapat tawaran untuk melanjutkan pendidikan di SRT 3 Sulawesi Selatan, Karmila awalnya menolak mentah-mentah. Bayangan buruk masa lalu masih terlalu kuat membelenggu pikirannya.

Namun, sang ibu, Sarefah, tidak menyerah. "Mama bilang tidak apa-apa dicoba dulu. Kalau tidak betah, nanti bisa pulang," ujar Karmila menirukan bujukan ibunya yang bekerja sebagai petani di kampung halaman.

Keputusan berangkat ke SRT 3 menjadi titik balik dalam hidup Karmila. Meski ia menjadi satu-satunya siswa penyandang disabilitas di sekolah yang khusus menampung anak-anak dari keluarga kurang mampu tersebut, kenyataan yang ia temui justru berbanding terbalik dengan kekhawatirannya.

"Di sini saya punya banyak teman. Kami sama-sama berasal dari keluarga kurang mampu dan mereka menjaga saya. Saya diperlakukan sama seperti siswa lainnya," ungkapnya dengan senyum merekah.

Perubahan drastis pada diri Karmila tidak luput dari perhatian Kepala SRT 3 Sulawesi Selatan, Widya Wati. Ia mengingat betul kondisi Karmila saat pertama kali datang, seorang anak yang kerap mencurahkan perasaan tersisih karena keterbatasan fisiknya. "Dia sering curhat merasa tersingkirkan. Kami memberikan motivasi dan pengasuhan dari wali asrama serta guru, hingga akhirnya dia bisa bangkit," ujar Widya Wati

Para guru pun menemukan bakat terpendam Karmila. Di balik tubuh yang terbatas, gadis itu memiliki kemampuan vokal yang baik dan bakat menonjol dalam berbahasa Inggris. "Kami terus mendorong dia tampil di depan supaya dia tahu kalau dirinya sangat berharga," tambah Widya Wati.

Mimpi Besar

Keberanian dan kepercayaan diri yang kini tumbuh dalam diri Karmila tak datang begitu saja. Ia masih menyimpan kenangan pahit sebagai korban perundungan, tetapi kini ia memiliki alasan lebih kuat untuk terus melangkah.

"Saya sering minder dan putus asa. Tapi saya ingat orang tua saya yang bekerja sebagai petani di Jeneponto. Saya ingin berhasil dan membalas perjuangan mereka," tuturnya dengan nada bulat.

Kini, Karmila tidak hanya sekadar bersekolah. Ia memelihara mimpi besar, menjadi seorang dokter dan melanjutkan pendidikan hingga ke Amerika Serikat. Kegemarannya mempelajari bahasa Inggris menjadi langkah awal yang ia yakini akan mengantarkannya pada cita-cita itu.

"Saya ingin menyampaikan kepada teman-teman di Sekolah Rakyat, jangan menyerah. Jauh dari orang tua memang tidak mudah, tapi di sini kita dibimbing dengan baik. Kita diajarkan saling menghormati, menghargai, dan menjaga satu sama lain," pesannya penuh semangat.

SR Lahirkan Anak Hebat

Menteri Sosial Saifullah Yusuf yang menyaksikan langsung penampilan Karmila memberikan apresiasi tinggi. Menurutnya, Sekolah Rakyat dibangun sebagai ruang pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem dengan latar belakang dan kemampuan beragam.

"Yang bersekolah di sini benar-benar berasal dari keluarga paling tidak mampu. Kurikulum disusun untuk membantu mereka berkembang sesuai minat, bakat, dan kemampuan masing-masing. Kami ingin mereka tumbuh dan mengejar cita-citanya," ujar Saifullah.

Sementara itu, Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman menyambut baik program Sekolah Rakyat dan mengapresiasi perubahan luar biasa pada diri Karmila. "Ini membuktikan bahwa dengan kesempatan dan pendampingan yang tepat, anak-anak dari keluarga sederhana bisa meraih mimpinya. Pemprov Sulsel juga telah menyiapkan lahan untuk pembangunan Sekolah Rakyat baru yang akan menampung sekitar 3.000 siswa," jelasnya. (LN/P-3)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |