Iran Tuding AS Jalankan Diplomasi Teater, Sindir Pola Negosiasi Trump

4 days ago 5
Iran Tuding AS Jalankan Diplomasi Teater, Sindir Pola Negosiasi Trump Bendera Iran (kanan) dan bendera AS (kiri).(X)

NEGOSIATOR utama Iran dalam pembicaraan dengan Amerika Serikat (AS), Mohammad Bagher Ghalibaf, mengkritik pendekatan Washington yang dinilainya mengandalkan "diplomasi teater" dalam proses negosiasi kedua negara.

Ketua Parlemen Iran sekaligus kepala negosiator dalam pembicaraan dengan Amerika Serikat (AS), Mohammad Bagher Ghalibaf, menyebut Washington menjalankan diplomasi teater yang terus berulang. Pernyataan itu merujuk pada pola Presiden AS Donald Trump yang mengumumkan rencana serangan, lalu membatalkannya dengan alasan membuka peluang perundingan.

"'Serangan besar akan datang, tunggu, tidak jadi, mereka ingin bernegosiasi.' Itu adalah diplomasi teater yang terus berulang," kata Ghalibaf dikutip dari TRT World.

Ghalibaf menilai penggunaan intimidasi, janji yang tidak ditepati, serta penyebaran informasi palsu merupakan strategi yang gagal. "Akui fakta dan penuhi komitmen Anda. Kami tidak membutuhkan lebih banyak sandiwara," tambahnya.

Sebelumnya, Trump pada Kamis (6/8) mengatakan dirinya "terlibat" dalam perundingan untuk membuka kembali Selat Hormuz. Ia juga menyatakan kesepakatan dapat tercapai dalam waktu dekat.

Dalam beberapa pekan terakhir, AS dan Iran saling melancarkan serangan militer. Washington menyasar lokasi yang disebut sebagai fasilitas milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), sementara Teheran menyerang fasilitas militer AS di sejumlah negara Teluk, terutama Yordania, Bahrain, dan Kuwait.

Eskalasi itu terjadi meski kedua negara telah menandatangani nota kesepahaman pada Juni dan memulai perundingan menuju kesepakatan final. Namun, pembicaraan kemudian terhenti akibat perbedaan pandangan mengenai jaminan keamanan serta kebebasan navigasi di Selat Hormuz, salah satu jalur paling strategis bagi pasokan energi dan perdagangan global.

Pekan lalu, Trump mengancam akan menyerang Iran "dengan sangat keras", termasuk menargetkan fasilitas energi, jembatan, dan pembangkit listrik. Belakangan, ia mengatakan serangan itu dibatalkan setelah Iran menyetujui dimulainya kembali perundingan.

Menurut sejumlah media di AS, keputusan untuk menunda serangan tambahan terhadap Iran juga dipengaruhi oleh menipisnya persediaan rudal pencegat milik Washington. (Ndf/P-3)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |