Memecah Sekat Disiplin: Inovasi Leksikografi Asia Melalui Kolaborasi

7 hours ago 1
 Inovasi Leksikografi Asia Melalui Kolaborasi The 19th International Conference of the Asian Association for Lexicography di Yogyakarta yang berlangsung pada 9-11 September 2026. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, beker(Dok.Badan Bahasa)

INDONESIA menjadi tuan rumah penyelenggaraan The 19th International Conference of the Asian Association for Lexicography (AsiaLex 2026) yang berlangsung pada 9-11 September 2026 di Yogyakarta. Konferensi tingkat internasional ini diselenggarakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, bekerja sama dengan Asian Association for Lexicography (ASIALEX).

Penunjukan ini merupakan kali kedua bagi Badan Bahasa setelah sebelumnya pernah terpilih menjadi tuan rumah Konferensi Asialex pada tahun 2020. Namun, akibat kondisi pandemi, konferensi yang semula direncanakan digelar di Yogyakarta tersebut diundur dan dialihkan menjadi konferensi daring pada 12-14 Juni 2021.

Asialex didirikan pada konferensi Dictionaries in Asia: Research and Pedagogical Implications di Hong Kong University of Science and Technology pada 27-29 Maret 1997. Organisasi ini bertujuan untuk mendorong kegiatan ilmiah dan profesional di bidang leksikografi melalui pertukaran informasi dan ide melalui pertemuan, publikasi, dan sarana lainnya. Setelah sempat digelar dua tahun sekali hingga 2015, Asialex rutin diadakan setiap tahun sejak 2016 dengan proses konferensi yang bertransformasi dari format cetak ke format elektronik.

Pada penyelenggaraan tahun 2026, Asialex mengusung tema Leksikografi: Pendekatan dan Kolaborasi Multidisipliner”. Tema ini diangkat untuk menunjukkan bahwa penyusunan kamus masa kini tidak lagi berdiri sendiri, melainkan bersinggungan dengan teknologi, ilmu komputer, kecerdasan buatan, psikologi, hingga sosiologi, sekaligus memperlihatkan peran penting leksikografi di luar ranah linguistik.

Dalam laporannya, Koordinator Konferensi Asialex 2026 yang juga merupakan Ketua Redaksi Pelaksana Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Dewi Puspita, menyampaikan, “Kami memilih tema tersebut karena di era modern sekarang, pembuatan kamus tidak lagi berdiri sendiri, tetapi bertujuan untuk menunjukkan pengaruh dan pentingnya leksikografi bagi bidang-bidang ilmiah lainnya, tidak hanya untuk linguistik.”

Selama tiga hari, 64 makalah akan dipresentasikan dalam sesi paralel yang tersebar di empat ruangan, baik secara luring maupun daring. Dewi berharap dalam diskusi-diskusi yang akan dilakukan, seluruh partisipan bisa mendapatkan temuan-temuan baru yang menantang teori dan metode yang ada, serta membangun kolaborasi profesional yang berkelanjutan.

Sejumlah pakar leksikografi terkemuka dijadwalkan hadir sebagai pembicara utama (keynote speakers), antara lain, Pemimpin Redaksi KBBI, Dr. Dora Amalia, Prof. Kilim Nam dari Yonsei University (Korea Selatan), serta Prof. Pedro A. Fuertes-Olivera dari University of Valladolid (Spanyol).

Selain pembicara utama, gelaran ini diikuti oleh 90 peserta dengan 64 makalah yang dipresentasikan dalam 17 sesi paralel. Pembahasan makalah mencakup topik pengembangan, kompilasi, dan penggunaan kamus ranah tertentu; persinggungan leksikografi dengan ranah ilmu lain; penyusunan kamus terbantukan kecerdasan buatan; pemrosesan bahasa alami; leksikografi digital; serta kamus dalam konteks bilingual atau multilingual, kajian penerjemahan, dan sumber daya lintas bahasa.

Kegiatan Konferensi Asialex ini sedianya akan dilaksanakan secara luring, tetapi letusan gunung Anak Krakatau membuat jadwal penerbangan peserta ke Indonesia tertunda atau dibatalkan sehingga perhelatan ini disesuaikan secara cepat menjadi hibrida untuk memfasilitasi para peserta yang tidak bisa hadir secara langsung di Yogyakarta.

Dalam sambutannya, Presiden Asialex, Ai Inoue, dari Universitas Tokyo berharap konferensi ini dapat memberikan banyak kesempatan untuk melakukan diskusi yang menstimulasi, mengalami pertukaran ide yang bermanfaat, dan menjalin koneksi-koneksi baru.

"Saya juga berharap, baik yang bergabung secara luring maupun daring, kita semua dapat saling berbagi gagasan dan terlibat dalam diskusi dengan rasa saling menghormati satu sama lain," kata Ai Inoue.

Masa depan perkamusan Indonesia terletak pada kemauan untuk berkolaborasi dan berinovasi. ASIALEX 2026 membuktikan bahwa Badan Bahasa siap melangkah lebih jauh memanfaatkan teknologi untuk mencatat, merawat, dan menghidupkan setiap jejak kata bagi generasi mendatang. (RO/H-4)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |