Muncul Isu Wamenhan Baru, Pengamat Harap Perkuat Ekosistem Industri Pertahanan

4 days ago 2
Muncul Isu Wamenhan Baru, Pengamat Harap Perkuat Ekosistem Industri Pertahanan Wamenhan Norman Joesoef(https://www.instagram.com/normanjoesoef/)

DOSEN Fakultas Teknologi Pertahanan Universitas Pertahanan (Unhan), Ade Muhammad, menilai isu penunjukan CEO Republikorp, Norman Joesoef, sebagai Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) pada reshuffle kabinet Agustus 2026 dapat memberikan sinyal positif bagi penguatan sektor pertahanan nasional. Ade menilai hadirnya figur muda berlatar belakang industri pertahanan dan alumni Unhan di jajaran pengambil keputusan akan memperkuat transformasi teknologi serta ekosistem industri pertahanan dalam negeri.

Meski isu tersebut masih berstatus rumor, Ade mengapresiasi jika Presiden benar-benar memberikan ruang bagi generasi muda untuk mengawinkan pengalaman industri dengan kebijakan publik.

"Apabila isu tersebut benar dan nantinya ditetapkan secara resmi oleh Presiden, maka saya sebagai mantan dosennya tentu merasa sangat gembira, bangga, dan memberikan dukungan. Namun demikian, saya tetap menghormati proses konstitusional dan keputusan resmi pemerintah," ujar Ade di Jakarta, Jumat (7/8/2026).

Ade menjelaskan bahwa tata kelola pertahanan modern abad ke-21 tidak hanya bertumpu pada alutsista konvensional, melainkan butuh pendekatan baru terhadap ancaman berbasis artificial intelligence (AI), cyber defense, unmanned systems, hingga ruang angkasa.

Pengalaman Norman Joesoef yang dinilai memiliki pendekatan systems thinking dan keberanian berpikir strategis dianggap relevan untuk mendorong transformasi di tubuh BUMN pertahanan maupun industri swasta nasional.

"Indonesia membutuhkan pejabat publik yang memiliki kombinasi antara innovation dan tenacity, karena pembangunan industri pertahanan merupakan proses jangka panjang yang membutuhkan konsistensi," jelasnya.

Lebih lanjut, Ade menyoroti rekam jejak Norman di sektor industri yang aktif menjalin kolaborasi internasional, seperti joint venture dan investasi manufaktur di Indonesia. Menurutnya, nilai tambah sektor pertahanan harus diukur dari keberhasilan transfer teknologi, penguatan rantai pasok dalam negeri, serta penciptaan lapangan kerja berteknologi tinggi.

"Indikator keberhasilan kepemimpinan di Kemenhan kelak tak sekadar dilihat dari kuantitas pengadaan alutsista, melainkan kemampuan membangun kemandirian ekosistem inovasi pertahanan nasional," pungkasnya. (H-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |