Piala Presiden

5 days ago 16
Piala Presiden Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

DALAM film seri pendek Ronaldinho, the One and Only, ada satu penggalan cerita ketika bintang sepak bola asal Brasil itu diberhentikan secara tiba-tiba oleh Barcelona. Padahal, Ronaldinho-lah yang membangun kembali 'La Blaugrana' setelah lima tahun terpuruk untuk menjadi yang terbaik di Spanyol dan Eropa.

Ronaldinho kemudian memilih untuk bergabung dengan AC Milan. Salah satu klausul dari transfer yang dilakukan Milan ialah harus mengikuti turnamen menjelang kompetisi di Barcelona. Ada pertandingan persahabatan Barcelona melawan AC Milan.

Bintang Brasil itu awalnya menolak untuk ikut dalam pertandingan persahabatan tersebut. Ronaldinho masih merasa sakit hati didepak Presiden Barcelona Joan Laporta hanya karena dianggap tidak disiplin. Namun, alasan kedua, ia takut akan di-bully para pendukung Barca karena pemberitaan media yang negatif mengenai dirinya menjelang meninggalkan Barcelona.

Kapten kesebelasan Barcelona Carles Puyol secara khusus menelepon Ronaldinho untuk datang ke Camp Nou. Sebagai orang yang merasakan peran besar Ronaldinho untuk mengembalikan kebesaran Barca, Puyol menjamin bahwa pendukung 'La Blaugrana' tidak akan mem-bully, tetapi justru akan berterima kasih karena tidak sempat ada acara perpisahan dengan pemain Brasil yang genius itu.

Ketika Ronaldinho masuk Camp Nou dengan menggunakan kostum AC Milan, 80 ribu penonton memang memberikan standing ovation. Mereka mengelu-elukan Ronaldinho sebagai pahlawan bagi klub asal Catalonia tersebut.

Para pemain Barca meminta Ronaldinho melakukan foto bersama sebagai satu keluarga Barca meski ia menggunakan kostum AC Milan. Sebelum pertandingan dimulai, Puyol menyerahkan trofi ucapan terima kasih kepada Ronaldinho.

Setelah pertandingan usai, pemain yang ikut membesarkan Lionel Messi itu memberikan salam hormat kepada 80 ribu penonton yang memberikan penghormatan tertinggi kepada seorang yang berjasa besar bagi kejayaan Barcelona. Sebuah perpisahan yang indah dan semua orang mengakui bahwa Ronaldinho salah satu bintang sepak bola luar biasa dan mendapatkan semua piala tertinggi sepak bola mulai level Amerika Latin, Eropa, hingga dunia.

PERAN PENONTON

Apa pelajaran penting yang bisa kita petik dari cerita di atas? Sepak bola ialah sebuah ekosistem. Pemain hanyalah satu dari ekosistem besar. Yang lain ialah pengurus asosiasi sepak bola, pelatih, wasit, pengelola infrastruktur pertandingan, manajemen klub, manajemen kompetisi, sponsor, perusahaan penyedia peralatan, pemerintah, dan penonton.

Yang terakhir itu menjadi faktor yang tidak kalah menentukan. Penonton merupakan pihak yang membuat adrenalin pemain menjadi meningkat. Penonton yang membuat seorang pemain mampu mengeluarkan kemampuan terbaik dan kreativitas yang tidak terduga.

Tepuk tangan penonton membuat seorang pemain sepak bola merasa menjadi bintang yang diperhatikan. Bahkan dalam era digital seperti sekarang, komentar melalui media sosial menjadi pembakar semangat pemain untuk menjadi lebih baik.

Ronaldinho  mampu menjadi pemain yang genius, bahkan mampu membuat kapten kesebelasan Brasil di Piala Dunia 1994, Dunga, seperti tidak berdaya karena teriakan penonton. Betapa takutnya pemain sekelas Ronaldinho dicemooh penonton karena teriakan 80 ribu penonton akan membuat nyali menjadi kecil.

Di Piala Dunia 2026, yang paling ditakutkan FIFA ialah sepi penonton. Presiden FIFA Gianni Ifantino bolak-balik mendekati Presiden AS Donald Trump agar melonggarkan izin masuk bagi datangnya pecinta sepak bola ke dalam stadion.

Piala Dunia tanpa penonton jelas merupakan malapetaka. Tanpa pemain ke-12, pertandingan akan terasa basi. Para pemain pasti tidak terpancing untuk mengeluarkan kemampuan terbaik. Yang paling ditakutkqn FIFA, tanpa penonton, sepak bola akan menjadi industri yang gagal. Tidak mungkin ada bisnis US$9,6 miliar yang bisa didapatkan dari pergelaran Piala Dunia 2026 yang lalu.

ANOMALI

Sebuah anomali ketika kita menggelar turnamen Piala Presiden tanpa penonton. Padahal, sejak era Presiden Soeharto, turnamen Piala Presiden merupakan salah satu turnamen besar. Di sanalah perserikatan terbaik Indonesia beradu kekuatan untuk menjadi yang terbaik.

Fanatisme daerah muncul untuk bisa mengungguli yang lain. Semua emosi tertumpahkan di lapangan hijau dan berakhir setelah wasit meniupkan peluit panjang. Yang menang akan berpesta, yang kalah bersiap untuk kembali di turnamen berikutnya. Itulah sejatinya sepak bola.

Karena menyandang nama 'presiden', pengelolaan kompetisi Piala Presiden harus dilakukan secara baik. Semua harus dipersiapkan secara matang mulai waktu penyelenggaraan hingga bagaimana kompetisi mampu menyuguhkan pertandingan yang berkualitas.

Kita pantas bertanya, mengapa penyelenggaraan Piala Presiden 2026 bisa amburadul seperti sekarang? Bagaimana waktu kompetisinya bisa berjalan bersamaan dengan Piala AFF yang diikuti tim nasional Indonesia?

Semua kompetisi sepak bola sudah terjadwal sejak setahun sebelumnya. Apakah penyelenggara Piala Presiden 2026 tidak pernah melihat jadwal kompetisi internasional ketika menetapkan jadwal untuk turnamen yang mereka selenggarakan?

Lebih absurd lagi ketika pertandingan semifinal dan final diselenggarakan tanpa penonton. Alasannya, khawatir terjadi bentrokan antarpendukung karena empat tim yang lolos empat besar memiliki pendukung yang fanatik.

Di seluruh dunia, sepak bola menjadi hidup karena memiliki pendukung yang fanatik. Bahkan fanatisme itu tidak terbatas di kota tempat klub itu berada. Liverpool dan Manchester United, misalnya, pendukung mereka ada di seluruh dunia dan mereka fanatik.

Pendukung fanatik itu sangat loyal kepada klub mereka. Setiap tahun ketika kostum resmi berganti, pendukung mereka langsung membeli. Itulah yang membuat industri sepak bola menjadi berkembang dan klub pun mendapat pembagian dari penjualan merchandise mereka.

Para pendukung fanatik bahkan mau untuk membeli tiket tahunan di depan. Pendapatan itulah yang membuat klub sepak bola bisa mendapatkan pemasukan untuk bisa mengontrak pemain yang lebih hebat dan membawa klub mereka meraih juara.

Bahwa ada risiko bertemunya dua pendukung yang fanatik, di sanalah profesionalisme penyelenggara turnamen diuji. Harus ada pengaturan lokasi tempat berkumpul para pendukung dan pintu baik masuk maupun keluar yang terpisah. Pendukung kedua kesebelasan harus diatur untuk tidak bertemu dan diperintahkan untuk kembali ke kota asal mereka ketika pertandingan selesai.

Sepak bola Eropa pernah mengalami masa-masa gelap bentrokan antarpendukung. Namun, mereka tidak lari, tetapi justru membuat pengaturan yang lebih baik. Hasilnya hooliganisme sepak bola di Eropa bisa menurun drastis dan tidak ada lagi korban jiwa akibat menonton pertandingan.

Kalau kita tidak mampu membangun ekosistem sepak bola yang sehat, jangan pernah kita bermimpi untuk bisa tampil di kompetisi elite dunia. Pertemuan antarklub dengan para pendukung fanatik tidak akan terhindarkan sepanjang kompetisi liga terus bergulir.

Apakah kemudian jawabannya ialah selalu menggelar pertandingan kompetisi yang di stadion yang kosong melompong? Kita sedang dipertontonkan degradasi pengelolaan bukan hanya ajang Piala Presiden, melainkan juga sepak bola nasional. Sungguh ironis!

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |